Korut Kecam Dokumen Diplomatik Tahunan Jepang

Kamis, 16 Apr 2026, 02:45 WIB

SEOUL - Korea Utara (Korut) pada Rabu (15/4) menuduh Jepang telah melancarkan provokasi serius pada hari Rabu (15 April) setelah Tokyo menguraikan penentangannya terhadap program nuklir Pyongyang dalam sebuah dokumen diplomatik tahunan.

Kedua negara tidak memiliki hubungan diplomatik formal, dan Pyongyang sering mengkritik Tokyo atas pemerintahan kolonialnya di Semenanjung Korea, yang berakhir dengan Perang Dunia II.

Ket. Foto: Pemimpin Korut, Kim Jong-un (tengah) saat meninjau laboratorium pengolahan material dan senjata nuklir pada Januari tahun lalu. Kepala IAEA pada Rabu (15/4) mengatakan bahwa Korut telah membuat kemajuan sangat serius dalam kemampuannya untuk memproduksi senjata nuklir. — Sumber: AFP/KCNA VIA KNS

Kementerian Luar Negeri Jepang merilis buku biru tahunannya pekan lalu, yang merinci pandangan diplomatik resmi Tokyo dan mengulangi penentangannya terhadap kepemilikan senjata nuklir oleh Korut.

“Sikap tersebut merupakan provokasi serius yang melanggar hak kedaulatan, kepentingan keamanan, dan hak pembangunan negara suci kita," kata seorang pejabat Kementerian Luar Negeri Korut yang enggan disebutkan namanya dalam sebuah pernyataan yang disiarkan oleh kantor berita KCNA.

Pernyataan itu menyebutkan bahwa langkah-langkah Korut untuk memperkuat kemampuan pertahanannya, termasuk dalam hak membela diri, serta menyebut buku panduan itu dibuat dengan logika dan absurditas khas gangster pada umumnya.

Dalam buku biru (dokumen resmi pemerintah Jepang), Jepang juga menyatakan kekhawatirannya bahwa Korut telah mengirim pasukan dan amunisi ke Russia untuk membantu perang melawan Ukraina.

Laporan IAEA

Sementara itu kepala Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi, pada Rabu mengatakan bahwa Korut telah membuat kemajuan sangat serius dalam kemampuannya untuk memproduksi senjata nuklir, dengan kemungkinan penambahan fasilitas pengayaan uranium baru seiring dengan peningkatan aktivitas di kompleks nuklir utamanya.

Para ahli mengatakan bahwa pengayaan uranium dapat memberikan jalur alternatif dan lebih efektif untuk memperoleh material tingkat senjata, di samping pengolahan ulang plutonium bekas yang diekstraksi dari reaktor nuklir.

Berbicara di Seoul, kepala IAEA mengkonfirmasi peningkatan aktivitas yang pesat di reaktor 5MW, unit pengolahan ulang, reaktor air ringan, dan fasilitas lainnya di kompleks nuklir Yongbyon di Korut.

“Peningkatan produksi uranium yang diperkaya sulit dihitung secara akurat, namun dari karakteristik eksternal fasilitas baru tersebut dapat diperkirakan bahwa kapasitas pengayaan nuklir Korut telah meningkat secara signifikan. Semua itu menunjukkan peningkatan yang sangat serius dalam kemampuan Korut di bidang produksi senjata nuklir,” kata Grossi.

“Hal ini juga menunjukkan kemampuan produksi senjata nuklir Korut telah meningkat secara serius sehingga berpotensi menghasilkan puluhan hulu ledak,” imbuh dia.

Pada awal April lalu, Grossi mengatakan dalam pertemuan para gubernur badan tersebut bahwa IAEA sedang memantau sebuah bangunan baru di Yongbyon yang memiliki kemiripan dengan fasilitas pengayaan uranium di Kangson, situs nuklir penting lainnya di dekat Pyongyang.

Citra satelit dari bulan April mendukung penilaian IAEA yang menunjukkan penyelesaian pabrik pengayaan uranium yang diduga mampu menghasilkan material tingkat senjata, kata Pusat Studi Strategis dan Internasional yang berbasis di Amerika Serikat (AS) pada Senin (13/4) lalu.

Pada Rabu, Grossi pun mengatakan bahwa IAEA belum melihat bukti penggunaan teknologi Russia dalam program senjata nuklir Korut. “Referensi dalam pakta kerja sama yang ditandatangani kedua negara pada tahun 2025 tampaknya terbatas pada proyek nuklir sipil, meskipun masih terlalu dini untuk menarik kesimpulan yang pasti,” ucap Grossi. AFP/ST/KBS/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.