Ancaman Ganda Mengintai, Indonesia Perlu Waspadai Krisis Pangan

Kamis, 16 Apr 2026, 00:00 WIB

Indonesia perlu mewaspadai potensi krisis pangan akibat tekanan simultan dari gangguan pasokan global karena konflik geopolitik dan penurunan produksi domestik akibat El Nino.

JAKARTA – Indonesia perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi krisis pangan seiring munculnya tekanan ganda dari faktor global dan domestik. Konflik geopolitik di Timur Tengah berisiko mengganggu rantai pasok energi dan pupuk, sehingga dapat mendorong kenaikan harga komoditas impor serta biaya distribusi pangan dalam negeri.

Ket. Foto: Gejolak Global - Sekitar 20–45 Persen Pasokan Bahan Pertanian Global Lewati Selat Hormuz — Sumber: antara

Pada saat yag sama, dampak fenomena El Nino memicu musim kering berkepanjangan yang berpotensi menurunkan produksi pertanian, terutama pada komoditas strategis seperti beras. Kombinasi gangguan pasokan global dan penurunan produksi domestik ini menciptakan tekanan terhadap ketersediaan dan stabilitas harga pangan.

Kondisi tersebut menuntut respons kebijakan yang lebih antisipatif, mulai dari penguatan cadangan pangan, diversifikasi sumber impor, hingga percepatan adaptasi sektor pertanian terhadap perubahan iklim. Tanpa langkah mitigasi yang terintegrasi, risiko gejolak harga dan ketahanan pangan dapat meningkat dalam jangka menengah.

Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) memperingatkan gangguan pelayaran di Selat Hormuz berisiko memicu krisis pangan global akibat terhambatnya pasokan pupuk dan energi serta kenaikan harga pangan. FAO dalam pernyataan mengatakan kapal yang membawa pupuk dan energi perlu segera kembali melintas agar pasokan tidak terganggu lebih lama.

Kepala Ekonom FAO, Maximo Torero menekankan waktu menjadi faktor krusial karena negara miskin paling rentan terdampak gangguan pasokan, terutama untuk kebutuhan musim tanam. “Potensi penurunan hasil panen dan kenaikan harga pangan pada tahun depan, yang dapat memaksa pemerintah mengambil langkah intervensi untuk menahan gejolak harga domestik,” ujarnya, seperti dikutip dari Antara, awal pekan ini.

FAO mencatat harga pangan global masih relatif stabil pada Maret berkat pasokan yang cukup, khususnya gandum dan serealia. Namun, tekanan diperkirakan mulai meningkat pada April dan Mei seiring potensi gangguan pasokan yang berlanjut.

Kepala Divisi Ekonomi FAO, David Laborde memperingatkan dunia sudah menghadapi tekanan pasokan bahan penting dan berisiko memburuk menjadi krisis jika tidak diantisipasi. FAO meminta negara tidak membatasi ekspor energi dan pupuk, serta lebih hati-hati dalam penggunaan bahan bakar nabati agar tidak mengganggu pasokan pangan.

FAO juga mendorong pemanfaatan bantuan keuangan internasional, termasuk dari International Monetary Fund, untuk mempercepat akses pupuk bagi negara yang membutuhkan. Dengan 20–45 persen pasokan bahan pertanian global melewati Selat Hormuz, gangguan kecil saja dapat memicu lonjakan harga, terlebih jika diperparah oleh fenomena El Nino.

Perkuat Stok

Pemerintah melalui Kementerian Pertanian mendukung inisiatif penguatan cadangan pangan kawasan, termasuk kerja sama negara BRICS, sebagai langkah strategis menghadapi kerentanan rantai pasok global di tengah ketegangan geopolitik. Menteri Pertanian, Amran Sulaiman menilai kolaborasi antarnegara penting untuk meredam risiko krisis pangan, sekaligus menegaskan posisi Indonesia dalam menjaga stabilitas pangan nasional dan global.

“Di sisi domestik, Indonesia memperkuat ketahanan melalui peningkatan stok, dengan Cadangan Beras Pemerintah yang dikelola Perum Bulog mencapai rekor tinggi, didukung ketersediaan pasar dan potensi produksi hingga hampir setahun ke depan,” jelasnya.

Kebijakan ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menekankan pentingnya swasembada pangan untuk mengurangi ketergantungan impor. Secara keseluruhan, penguatan cadangan dan produksi domestik diposisikan sebagai langkah antisipatif menghadapi ketidakpastian global dan potensi gangguan pasokan pangan.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.