Gempa Flores Bikin Trauma, 50 KK di Selayar Masih Bertahan di Pengungsian Perbukitan

Senin, 17 Agu 2026, 02:00 WIB

Makassar - Sekitar 50 Kepala Keluarga (KK) di Kabupaten Kepulauan Selayar masih bertahan di pengungsian di wilayah perbukitan akibat trauma dengan dampak gempa dahsyat yang melanda wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).

"Mereka masih trauma dengan kejadian serupa pada 2021 sehingga 50-an KK di Kecamatan Pasimarannu masih memilih tinggal di lokasi perbukitan," kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Kepulauan Selayar Muhammad Ikbal saat dikonfirmasi dari Makassar, Minggu (16/8) .

Ket. Foto: Suasana di sekitar pesisir Kepulauan Selayar yang sepi aktivitas, karena sebagian warganya masih memilih mengungsi di wilayah perbukitan akibat trauma dengan dampak gempa di Flores, NTT. — Sumber: Antara

Dia mengatakan keputusan warga untuk tetap berada di pengungsian tidak terlepas dari pengalaman buruk saat gempa magnitudo 7,4 pada 14 Desember 2021.

Saat itu, gempa yang berpusat di wilayah Flores turut dirasakan kuat di Selayar, khususnya Kecamatan Pasilambena dan Pasimarannu. Sejumlah rumah warga mengalami kerusakan parah, bahkan ada yang roboh dan rata dengan tanah.   

Menurut dia, warga mempunyai alasan tersendiri sehingga masih bertahan di lokasi pengungsian, karena mereka trauma dengan kejadian sebelumnya, terutama kejadian 2021.  

Saat gempa M7,0 kembali terjadi, warga di dua kecamatan tersebut secara mandiri menyelamatkan diri menuju kawasan perbukitan. Di Pasimarannu tercatat sekitar 278 KK mengungsi, sementara di Pasilambena sekitar 130 KK. 

Namun, warga Pasilambena kini telah berangsur kembali ke rumah. Sementara di Pasimarannu, sekitar 20 persen dari total pengungsi atau kurang lebih 50 KK masih memilih bertahan di perbukitan.  

Lebih jauh dijelaskan, sebagian warga sebenarnya telah kembali ke rumah pada siang hari untuk beraktivitas. Namun, ketika sore tiba, mereka kembali menuju lokasi pengungsian yang berjarak sekitar tujuh kilometer dari permukiman.  

Kondisi tersebut menunjukkan kuatnya rasa khawatir warga terhadap kemungkinan gempa susulan. Ikbal menyebut, sebagian warga biasanya bertahan selama tiga hingga empat hari di lokasi pengungsian.

Selain faktor trauma, kondisi geografis juga menjadi tantangan bagi penanganan pengungsi. BPBD Selayar harus menempuh jalur laut sekitar 12 jam untuk mengakses wilayah terdampak dan menyalurkan bantuan logistik. Untuk sementara, kebutuhan warga yang mengungsi masih dipenuhi secara mandiri.
13 Rumah Terdampak

Gempa M7,0 Flores juga berdampak pada sejumlah bangunan di Selayar. BPBD mencatat 13 rumah mengalami kerusakan, terdiri atas sembilan rumah rusak ringan dan empat rumah rusak sedang.

Sebagian rumah di Kecamatan Pasilambena bahkan terdampak hempasan air laut yang masuk ke permukiman setelah getaran gempa. Selain rumah, sejumlah perahu nelayan juga mengalami kerusakan atau terbawa hingga ke daratan.

Meski menimbulkan kerusakan, gempa tersebut dilaporkan tidak menyebabkan rumah warga ambruk maupun korban luka dan jiwa di Selayar.

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.