Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Waspada! BRIN Ingatkan Potensi Kembalinya Wabah Pes di Indonesia

📅 Selasa, 14 Apr 2026, 08:25 WIB | Oleh: Tim Penulis
Waspada! BRIN Ingatkan Potensi Kembalinya Wabah Pes di Indonesia Doc: Antara
Ket. ilustrasi hama tikus.

JAKARTA - Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengingatkan kepada masyarakat Indonesia potensi kembalinya wabah pes di Indonesia.

Meski dalam beberapa tahun terakhir tidak ditemukan kasus pada manusia, Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN Ristiyanto menyebutkan adanya fenomena silent period, yaitu masa ketika penyakit tidak terdeteksi dalam waktu lama namun masih berpotensi muncul kembali.

"Ada istilah silent period, yaitu masa ketika suatu penyakit tidak terdeteksi dalam waktu lama, tetapi sebenarnya masih berpotensi muncul kembali," katanya dalam keterangan di Jakarta, Senin (13/4).

Ristiyanto menjelaskan pes diduga masih berada dalam fase tersebut. Hal ini didukung oleh temuan bahwa bakteri penyebab serta vektor dan reservoirnya, seperti pinjal dan tikus, masih ditemukan di sejumlah wilayah enzootik di Indonesia.

Menurutnya, perubahan lingkungan menjadi faktor penting yang meningkatkan risiko kemunculan kembali penyakit. Deforestasi, alih fungsi lahan, dan pertumbuhan penduduk telah mengganggu keseimbangan ekosistem, sehingga habitat tikus semakin mendekat ke permukiman manusia.

"Kondisi ini meningkatkan peluang penularan penyakit melalui gigitan pinjal yang membawa bakteri," ujar Ristiyanto.

Senada, Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN lainnya Muhammad Choirul Hidajat menyebutkan perubahan iklim turut berkontribusi terhadap peningkatan populasi pinjal sebagai vektor penyakit.

"Kombinasi perubahan lingkungan, keberadaan vektor dan reservoir, serta meningkatnya interaksi dengan manusia, menjadi faktor risiko utama yang perlu diwaspadai," ucap Choirul.

Choirul menegaskan tikus sebagai reservoir utama bakteriYersinia pestis masih banyak ditemukan di berbagai wilayah Indonesia. Penularan kepada manusia dapat terjadi melalui gigitan pinjal yang hidup pada tubuh hewan tersebut.

Meski tidak ada kasus pes pada manusia selama lebih dari satu dekade, kata dia, beberapa daerah di Pulau Jawa masih dikategorikan sebagai wilayah fokus, antara lain Kabupaten Pasuruan, Boyolali, Sleman, dan Bandung.

Choirul mengingatkan agar kondisi ini tidak dianggap sepele. Menurutnya, ketiadaan kasus bukan berarti penyakit telah hilang sepenuhnya.

Sebagai langkah antisipasi, ia merekomendasikan penguatan sistem surveilans terpadu yang mencakup pemantauan pada manusia, hewan, dan vektor penyakit. Selain itu, peningkatan sanitasi lingkungan dan pemantauan wilayah bekas endemis juga dinilai penting untuk mencegah potensi wabah.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
Luar Negeri
Tak Mau Ketinggalan, Warga ...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Jangan Lupa Catat Tanggalnya! CFD Sudirman-Thamrin Ditiadakan, Jaksel Adakan di Jalan Iskandar Muda

Jangan Lupa Catat Tanggalnya! CFD Sudirman-Thamrin Ditiadakan, Jaksel Adakan di Jalan Iskandar Muda

22 Oct 2026
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.