• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Napak Tilas Monumen Kegaga...

Napak Tilas Monumen Kegagalan Peradaban

Selasa, 14 Apr 2026, 07:20 WIB

DALAM catatan sejarah penjelajahan, penemuan besar biasanya lahir dari misi ambisius untuk memetakan wilayah baru atau mencari sumber daya alam. Namun, penemuan Great Pacific Garbage Patch (GPGP) justru menjadi anomali yang pahit.

Dunia baru benar-benar menyadari keberadaan “benua” keenam yang terbuat dari limbah ini berawal dari sebuah perjalanan pulang yang tak disengaja pada musim panas tahun 1997. Penemuan ini bukan tentang kejayaan manusia, melainkan tentang pengakuan atas kerusakan yang telah kita perbuat.

Ket. Foto: Peta Lokasi-lokasi penumpukan sampah laut di Samudra Pasifik Utara. — Sumber: Foto NOAA

Jauh sebelum Kapten Charles Moore melihat plastik-plastik itu mengapung, sains sebenarnya sudah memberikan peringatan dini. Pada tahun 1988, sekelompok ilmuwan dari National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) Amerika Serikat merilis sebuah laporan teknis yang berani. Berdasarkan sampel yang diambil di perairan Alaska, mereka mendeteksi konsentrasi plastik yang tidak wajar di sepanjang garis lintang tertentu.

Para ilmuwan memprediksi bahwa North Pacific Gyre—sebuah sistem arus laut raksasa yang berputar searah jarum jam di antara Asia dan Amerika Utara—bertindak seperti magnet bagi benda-benda terapung. Arus ini menciptakan efek pusaran yang menarik limbah dari pesisir benua menuju pusat pusaran yang tenang dan bertekanan tinggi.

Di pusat intulah, sampah-sampah tersebut “terkunci” dan tidak bisa keluar. Sayangnya, tanpa dokumentasi visual yang dramatis, laporan setebal puluhan halaman itu hanya berakhir di rak-rak perpustakaan ilmiah selama hampir satu dekade.

Kesaksian Kapten Charles Moore

Sejarah akhirnya dipaksa terbuka ketika Charles J. Moore, seorang nakhoda kapal pesiar dan pengusaha yang memiliki minat besar pada oseanografi, sedang dalam perjalanan pulang menuju California. Ia baru saja menyelesaikan perlombaan layar Transpac yang prestisius dari Hawaii dengan kapal katamarannya, Alguita.

Moore, yang ingin menghindari cuaca buruk dan menghemat waktu, memutuskan untuk mengambil jalur pintas yang tidak lazim. Ia mengarahkan kapalnya menembus wilayah North Pacific Subtropical High. Wilayah ini adalah “kuburan angin” yang biasanya dihindari oleh pelaut karena udaranya yang statis dan lautnya yang sangat tenang. Di sinilah, di wilayah samudra yang seharusnya menjadi tempat paling murni di planet ini, Moore menyaksikan pemandangan yang mengubah hidupnya.

“Selama seminggu penuh, setiap kali saya naik ke geladak untuk memandang cakrawala, saya selalu melihat sampah plastik,” kenang Moore. Ia tidak melihat tumpukan sampah yang menggunung layaknya TPA di daratan, melainkan hamparan tak berujung dari serpihan plastik: tutup botol, jaring ikan nilon, fragmen mainan, hingga botol deterjen.

Moore menyadari bahwa ia tidak sedang melewati tumpukan sampah biasa; ia sedang berlayar di atas pusaran limbah seluas jutaan kilometer persegi yang telah menumpuk selama puluhan tahun.

Kelahiran Istilah “Sup Plastik”

Terguncang oleh apa yang dilihatnya, Moore kembali ke daratan bukan untuk beristirahat, melainkan untuk menggalang dukungan. Dua tahun kemudian, ia kembali ke koordinat yang sama dengan tim peneliti dan peralatan ilmiah yang memadai untuk melakukan studi kuantitatif pertama.

Hasil riset tahun 1999 tersebut menggemparkan komunitas global. Data menunjukkan bahwa massa plastik di pusat gyre tersebut telah melampaui massa zooplankton—organisme dasar rantai makanan laut—dengan rasio mengejutkan enam banding satu. Hal ini membuktikan bahwa polusi plastik bukan lagi sekadar masalah estetika, melainkan gangguan biologis pada tingkat molekuler.

Tak lama kemudian, Curtis Ebbesmeyer, seorang ahli oseanografi terkemuka yang ahli dalam melacak benda hanyut, mempopulerkan istilah “Great Pacific Garbage Patch”. Media massa segera menyambar nama tersebut, menciptakan imajinasi kolektif tentang “pulau sampah” raksasa. Namun, Moore dan para ilmuwan terus me­ngoreksi narasi tersebut.

GPGP bukanlah daratan padat, melainkan sebuah “sup plastik” (plastic soup) di mana sebagian besar partikelnya telah hancur menjadi ­mikroplastik yang melayang di bawah permukaan air, menjadikannya nyaris mustahil untuk dibersihkan ­tanpa merusak ekosistem di ­sekitarnya. hay

  • Great Pacific Garbage Patch

Redaktur: Haryo Brono

Penulis: Haryo Brono

Berita Terbaru

Motor Pedagang di Kelapa Gading Hilang Akibat Ditipu, Modusnya Bikin Kaget

Kabar Besar untuk Warga Bogor Barat, Pemkab Bocorkan Rancang 6 Stasiun Baru

Drama 4 Gol dan Kartu Merah! Atletico Madrid Gagal Menang atas Villarreal

Hobi Unik Febry Arnold, Diaspora Indonesia yang Gemar Taklukkan Maraton

Juventus Start Sempurna Raih Tiga Poin! Frosinone Jadi Korban di Pekan Pertama Serie A

Sempat Unggul, Liverpool Gagal Menang! Newcastle Paksa The Reds Berbagi Poin

Gempa M 5,2 Guncang Manggarai NTT, Ada Potensi Tsunami? Ini Penjelasan BMKG

Menang Dramatis! Lando Norris Rebut Juara GP Belanda 2026, Verstappen Tersingkir Usai Kecelakaan

Karya Kreatif Indonesia dan Karya Kreatif Benuanta 2026, Dorong kebangkitan UMKM dan Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan

Karhutla di Tengah El Nino Ancam Ekonomi, Dampaknya Bisa Lebih Besar dari Nilai Hutan yang Terbakar

Pameran Arsip Asrul Sani Telusuri Jejak Kreatif Maestro Sastra dan Film

Kabut Asap Karhutla Selimuti Palembang, Jarak Pandang Kurang dari 50 Meter dan Kualitas Udara Berbahaya

QRIS Menjangkau 65,77 Juta Pengguna, Mayoritas Merchant Merupakan UMKM

Penyerapan Gabah Petani Capai 3,67 Juta Ton, Bulog Dekati Target 4 Juta Ton

Mendadak Gelar Ratas pada Malam Hari di Waktu Libur! Presiden Bahas Karhutla dan Bencana di NTT

Daun Pandan Tak Sekadar Aroma Khas, Ada Ikatan antara Hainan dan Indonesia yang Terjalin Semakin Erat

Kegiatan Gratis di HBKB Kenalkan Bahasa Isyarat kepada Masyarakat

Banten Siapkan Fasilitas Hoki Baru 2027, Target Cetak Atlet untuk PON 2032 hingga

Karhutla di Kalbar Capai 38 Ribu Hektare, BNPB Waspadai Ancaman Bencana Asap

Status Bandara IKN Bakal Diubah Jadi Bandara Umum

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.