- Home
-
- Luar Negeri
-
- Sedikitnya 30 Orang Tewas ...
Sedikitnya 30 Orang Tewas saat Berdesakan dalam Benteng Kuno di Haiti
Senin, 13 Apr 2026, 00:12 WIBPORT AU PRINCE - Sedikitnya 30 orang, sebagian besar masih muda, tewas dan puluhan lainnya dilaporkan terluka setelah terjadi insiden saling berdesakan di benteng di puncak gunung di Haiti utara yang merupakan tempat wisata populer.
Dari The Guardian, Jean Henri Petit, kepala perlindungan sipil untuk departemen Nord negara itu, mengatakan insiden itu terjadi pada hari Sabtu di Citadelle Henry, juga dikenal sebagai Citadelle Laferrière, sebuah benteng besar abad ke-19 yang dibangun tak lama setelah kemerdekaan negara Karibia itu dari Prancis.
Ia mengatakan kepada surat kabar lokal Le Nouvelliste bahwa jumlah korban tewas bisa meningkat karena banyaknya orang yang dilaporkan hilang. Beberapa lusin orang dibawa ke rumah sakit, lapor media tersebut.
Laporan awal menyebutkan bahwa pengunjung berdesakan di satu pintu masuk dan terjadi perkelahian antara mereka yang mencoba keluar dan masuk lokasi tersebut.
Laporan media lokal lainnya menyebutkan bahwa sebuah pertemuan terjadi setelah diiklankan di TikTok. Ada juga laporan tentang rumor bahwa polisi di lokasi tersebut menggunakan terlalu banyak gas air mata untuk membubarkan perkelahian di dekat benteng, yang menyebabkan orang-orang panik dan memicu desak-desak.
Menteri Kebudayaan negara itu, Emmanuel Menard, membenarkan bahwa 30 orang telah meninggal dunia. Ia mengatakan: âPara korban luka saat ini sedang menerima perawatan medis yang diperlukan, dan tim penyelamat sedang mencari orang-orang yang hilang.â
Menard mengatakan benteng tersebut, yang terdaftar sebagai situs warisan dunia UNESCO pada tahun 1982 , akan tetap ditutup untuk pengunjung hingga pemberitahuan lebih lanjut.
Kantor perdana menteri Haiti menyatakan "kesedihan mendalam" dalam pernyataan pemerintah yang diunggah di Facebook, dan mengatakan bahwa insiden tersebut terjadi selama "kegiatan wisata yang mempertemukan banyak anak muda".
Pemerintah mendesak warga untuk "tetap tenang dan waspada" sementara penyelidikan dilakukan. "Semua otoritas yang berwenang telah dimobilisasi sepenuhnya dan ditempatkan dalam keadaan siaga maksimal untuk memberikan, tanpa penundaan, bantuan, perawatan, dan dukungan yang diperlukan," tambah pemerintah dalam pernyataannya.
Insiden ini terjadi ketika Haiti terus bergulat dengan kekerasan yang meluas oleh geng-geng yang telah membantai warga sipil, serta penindakan yang semakin mematikan oleh pasukan keamanan.
Haiti, negara termiskin di belahan bumi bagian barat, juga sangat terpukul oleh kenaikan harga minyak yang disebabkan oleh konflik di Iran. Pada tanggal 2 April, pemerintah mengumumkan kenaikan harga solar sebesar 37 persen dan kenaikan harga bensin sebesar 29 persen.
Lonjakan harga minyak telah mengganggu rantai pasokan penting, menggandakan biaya transportasi, dan memaksa jutaan orang yang kekurangan gizi untuk mengurangi makanan yang sudah langka.
Negara ini telah mengalami berbagai bencana dalam beberapa tahun terakhir, termasuk ledakan tangki bahan bakar pada tahun 2024 yang menewaskan dua lusin orang, ledakan tangki bahan bakar lainnya pada tahun 2021 yang menewaskan 90 orang, dan gempa bumi yang menewaskan sekitar 2.000 orang pada tahun yang sama.
Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Ketum PWI Pusat Akhmad Munir Soroti Pentingnya Keadilan Informasi bagi Masyarakat Adat
-
Myanmar Tetapkan Status Darurat di Sejumlah Wilayah Kota
-
DKI siapkan lebih dari Rp200 miliar untuk sekolah swasta gratis
-
Perkuat Distribusi Air ke Petani: Menteri PU Instruksikan Pembangunan Saluran Tersier
-
Efisiensi Anggaran, Bupati Blora Pangkas Anggaran Internet dari Rp2,5 Miliar Jadi Rp1,9 Miliar
-
PBB: 78 Orang Tewas dalam Bentrokan Antar-geng di Haiti
-
Pelayanan publik saat WFH di Aceh Barat
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.