Tak Bisa Lagi Andalkan Sumber Lama, Kreativitas Dibidik Jadi Mesin Penerimaan Negara

Kamis, 13 Agu 2026, 22:35 WIB

JAKARTA – Diversifikasi sumber pendapatan negara menjadi semakin penting untuk mengurangi ketergantungan pada sumber penerimaan tertentu yang rentan terhadap gejolak ekonomi global.

Penguatan basis pajak, optimalisasi penerimaan negara bukan pajak, serta pengembangan sektor-sektor produktif dapat menciptakan ruang fiskal yang lebih sehat dan memperkuat ketahanan APBN dalam jangka panjang.

Ket. Foto: Ilustrasi - Produk kriya mampu bertahan di saat pandemi covin-19 beberapa tahun lalu. — Sumber: Istimewa.

Tenaga Ahli Madya Bidang Budaya dan Ekonomi Kreatif Kedeputian III Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Cheryl Anelia Tanzil mengatakan kreativitas dinilai berpotensi menjadi modal besar untuk mengembangkan diversifikasi sumber pendapatan negara melalui ekonomi kreatif.

“Mimpi saya Indonesia itu bukan lagi menjadi negara yang maksudnya bergantung pada mineral dan bisnis-bisnis investasi. Mimpi saya Indonesia bisa menaikkan pertumbuhan ekonominya lewat ekonomi kreatif,” kata Cheryl dalam acara pembukaan Teras Inspirasi (Terasi), di Jakarta, Kamis (13/8).

Ia mengatakan kekayaan budaya dan kreativitas dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru Indonesia, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap sektor berbasis sumber daya alam dan investasi.

Hal ini juga sejalan dengan program prioritas nasional, salah satunya untuk menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang mandiri dan memiliki kedaulatan ekonomi.

Visi misi presiden melalui Astacita juga menempatkan ekonomi kreatif sebagai salah satu motor pertumbuhan ekonomi baru bagi pendapatan negara.

Menurut Cheryl, pengembangan ekonomi kreatif membutuhkan ekosistem yang mampu mempertemukan talenta dengan pasar. Ia menilai keberadaan Teras Inspirasi by Sovlo dapat menjadi wadah bagi ilustrator untuk mengembangkan karya menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.

Ia juga mendorong pelaku ekonomi kreatif untuk tidak hanya mengandalkan pasar domestik, tetapi mulai memperluas akses ke pasar internasional.

“Kita tidak bisa hidup dalam bubble, kita tidak bisa cuma melihat market Indonesia. Kita harus mulai melihat bagaimana mengembangkan market kita,” katanya pula.

Dia mencontohkan keberhasilan sejumlah produk ekonomi kreatif Indonesia yang mulai menembus pasar Singapura. Salah satunya adalah jenama fesyen Oma Ethnic yang disebut mampu menjual sekitar 300 produk dalam satu pekan, setelah memasarkan produknya di Singapura dengan harga dalam dolar Singapura.

Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan produk kreatif Indonesia memiliki peluang untuk meningkatkan nilai jual ketika mampu memasuki pasar global.

Ia berharap semakin banyak komunitas dan pelaku ekonomi kreatif dapat saling mendukung untuk memperkuat ekosistem industri kreatif nasional.

“Saya percaya dengan berbagai komunitas yang sekarang ada, ekonomi kreatif akan menjadi raja, menjadi tuan rumah di negara sendiri. Paling tidak untuk lima tahun ke depan,” ujarnya lagi.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.