Kampus Diajak Turun Gunung, Dorong Hilirisasi Pertanian Lebih Ngebut

Minggu, 12 Apr 2026, 21:50 WIB

JAKARTA – Perguruan tinggi sekarang punya peran yang makin strategis, bukan cuma sebagai tempat belajar, tapi juga jadi “dapur inovasi” untuk mendorong hilirisasi pertanian.

Lewat riset dan pengembangan, kampus bisa bantu mengubah hasil pertanian yang tadinya dijual mentah jadi produk olahan bernilai tambah lebih tinggi.

Ket. Foto: Ilusttasi - Seorang petani menanam padi menggunakan alat mesin pertanian di Desa Ujung Kecamatan Bati-Bati, Tanah Laut, Kalimantan Selatan. — Sumber: ANTARA/ Harianto

Menariknya, peran ini nggak berhenti di laboratorium. Perguruan tinggi juga bisa jadi jembatan antara petani, industri, dan pasar—mulai dari transfer teknologi, pendampingan usaha, sampai bantu mencarikan model bisnis yang lebih berkelanjutan. Jadi, inovasi yang dihasilkan benar-benar bisa dipakai di lapangan, bukan cuma jadi teori.

Kalau dimaksimalkan, sinergi ini bisa bikin rantai nilai pertanian lebih kuat. Petani nggak cuma jual hasil panen, tapi juga ikut menikmati nilai tambah dari proses hilirisasi.

Di sinilah kampus jadi motor penggerak yang bikin sektor pertanian naik kelas, dari sekadar produksi jadi industri yang lebih modern dan kompetitif.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengajak perguruan tinggi menjadi motor inovasi dalam mengawal hilirisasi pertanian guna meningkatkan nilai tambah, daya saing produk, serta memperkuat kemandirian dan ketahanan pangan nasional.

"Capaian stok beras nasional yang diproyeksikan menembus 5 juta ton harus diiringi dengan peran aktif kampus dalam mendorong inovasi dan hilirisasi teknologi pertanian," kata Mentan dalam pernyataan di Jakarta, Minggu (12/4).

Dia menegaskan hal itu saat menghadiri kegiatan Idul Fitri FunFest 2026 yang diselenggarakan Ikatan Alumni Institut Teknologi Sepuluh Nopember (IKA ITS) di Jakarta.

Ia menegaskan Indonesia telah mencapai swasembada sembilan pangan strategis di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto yang ditopang capaian produksi pangan nasional yang signifikan.

“Sekarang, bulan ini, insya Allah, 5 juta ton beras kita. Ini tidak pernah terjadi selama Indonesia merdeka,” ujarnya.

Amran menjelaskan peningkatan produksi beras dalam negeri membuat Indonesia tidak lagi bergantung pada impor, bahkan memberikan dampak terhadap pasar global.

“Dulu kita impor 7 juta ton beras. Sekarang kita tidak impor. Dampaknya, harga pangan dunia turun,” jelasnya.

Menurutnya, keberhasilan tersebut merupakan hasil kerja bersama seluruh elemen bangsa.

Namun demikian, Amran mengingatkan tantangan ke depan bukan hanya pada peningkatan produksi, tetapi juga pada pemanfaatan inovasi yang melibatkan kampus secara nyata, bukan sekadar seremoni.

“Kampus harus hadir dengan aksi nyata, bukan seremoni,” tuturnya.

Ia menilai, selama ini kekuatan riset di kampus sudah sangat baik, tetapi masih lemah pada aspek hilirisasi dan pemasaran inovasi.

Karena itu, ia mendorong ITS untuk mengambil peran lebih besar dalam menghadirkan teknologi yang benar-benar digunakan oleh masyarakat, termasuk alat mesin pertanian, kendaraan listrik, dan berbagai inovasi berbasis kebutuhan lapangan.

“Kita ingin ke depan, yang mensuplai, traktor, alat pertanian, itu dari ITS. Pasti bisa,” tegasnya.

Sebagai contoh konkret, ia menyinggung pengembangan alat mesin pertanian ITS berupa traktor perahu yang perlu terus disempurnakan dan diproduksi secara massal.

“Traktor, apa namanya itu? Oh ini sudah jadi ya? Nah ini traktor perahu. Sudah, diperbaiki terus, rekayasa kita adakan,” katanya.

Mentan bahkan menekankan pemerintah siap mendukung dan menyerap inovasi dalam negeri, selama kampus berani memproduksi dalam skala besar dan bertanggung jawab atas kualitasnya.

Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas institusi dalam membangun kemandirian nasional.

“Kita sama-sama, gandengan tangan. Enggak ada istilah Unhas, IPB, ITS. kita harus kolaborasi, demi Merah Putih,” ujarnya.

Ia mengajak seluruh kampus dan alumni untuk bergerak bersama dalam hilirisasi berbasis kebutuhan nasional.

Adapun Kementerian Pertanian mencatat sembilan komoditas pangan strategis yang telah mencapai swasembada meliputi beras, gula konsumsi, cabai besar, cabai rawit, jagung, minyak goreng, daging ayam, telur ayam, dan bawang merah.

  • hilirisasi pertanian

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.