Biaya Mobil Listrik Jauh Lebih Murah dari Konvensional. Inilah Jumlah Perbedaannya
📅 Jumat, 10 Apr 2026, 13:00 WIB | Oleh: Aloysius Widiyatmaka
Doc: ist
JAKARTA – Apakah ada yang pernah menghitung untungnya menggunakan kendaraan listrik dari sisi biaya, dibanding mobil konvensional? Ketua Umum Komunitas Mobil Elektrik Indonesia (KOLEKSI) Arwani Hidayat mengemukakan bahwa biaya penggunaan mobil listrik dengan mobil konvensional berbeda nyata.
"Untuk konsumsi dalam kota, rata-rata pengguna EV menghabiskan sekitar Rp250 per km dan luar kota sekitar Rp350 per km untuk EV yang memiliki power lumayan besar," kata Arwani saat dihubungi ANTARA dari Jakarta pada Kamis.
"Jika pakai mobil konvensional, di dalam kota itu bisa mencapai Rp1.000 per km dan luar kota Rp1.200 per km kurang lebih," tambahnya. Selain biaya operasionalnya lebih rendah, sarana pendukung penggunaan mobil listrik sekarang sudah meningkat.
Menurut informasi di laman resminya, PT PLN (Persero) bersama para mitra telah menghadirkan 4.655 Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di berbagai daerah. SPKLU tercatat telah tersedia di 3.007 lokasi pada 2025.
PLN juga menyediakan Home Charging Services, yang pada akhir 2025 tercatat telah digunakan oleh 70.250 pelanggan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Arwani menyampaikan bahwa awal tahun ini pertumbuhan pengguna mobil listrik agak melambat karena sebagian konsumen khawatir pemerintah akan mencabut insentif dalam pembelian kendaraan elektrik.
"Awal tahun ini agak melambatkan karena adanya isu pencabutan insentif dan pada kwartal kedua bulan April ini kemungkinan besar akan naik, sejalan dengan isu kenaikan BBM pada mobil konvensional akibat perang di Timur Tengah," ia menjelaskan.
Kenaikan harga bahan bakar minyak akibat perang yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, menurut dia, bisa mendorong orang untuk beralih ke kendaraan elektrik.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan tingginya konsumsi energi, khususnya dari sumber fosil, mendorong pemerintah semakin serius mempercepat pembangunan ekosistem kendaraan listrik nasional sebagai langkah menuju transisi energi bersih.
Ia menyebutkan upaya tersebut dilakukan melalui penguatan industri, penyediaan infrastruktur pendukung, serta pemberian insentif guna memperluas adopsi kendaraan listrik secara terintegrasi sekaligus memperkuat kemandirian energi.
Dalam siaran pers Kementerian ESDM yang dikutip di Jakarta, Jumat, Menteri Bahlil mengatakan fokus pemerintah saat ini adalah membangun ekosistem kendaraan listrik yang terintegrasi agar implementasinya berjalan lebih luas dan efektif di lapangan.
"Kami mendorong pemanfaatan energi bersih dan terbarukan ini lebih cepat dijalankan, termasuk melalui elektrifikasi di sektor transportasi," kata Bahlil usai mendampingi Presiden Prabowo Subianto dalam peresmian pabrik perakitan kendaraan komersial berbasis listrik produksi PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk di Magelang, Jawa Tengah, Kamis (9/4/2026).
Ia menambahkan pemerintah tengah menyiapkan berbagai kemudahan serta insentif untuk mempercepat pelaksanaan program tersebut agar sejalan dengan target yang telah ditetapkan. "Yang penting implementasinya bisa jalan di lapangan. Kita dorong terus supaya realisasinya sesuai target," ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Presiden Prabowo menekankan bahwa kemandirian pangan dan energi merupakan fondasi utama bagi negara yang ingin benar-benar merdeka. Menurutnya, transisi menuju energi bersih merupakan langkah strategis yang tidak dapat ditunda.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!