Analisis Mandiri Institute: Kelompok Menengah Transisi Indonesia Rentan Guncangan Ekonomi
Kamis, 09 Apr 2026, 15:15 WIBJAKARTA - Ketahanan ekonomi Indonesia dinilai masih cukup kuat di tengah tekanan global, dengan konsumsi rumah tangga tetap menjadi penopang utama pertumbuhan. Kontribusi konsumsi yang mencapai 54 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) menjadikannya sebagai bantalan penting dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Namun, di balik kekuatan tersebut, muncul tantangan besar dalam menjaga keberlanjutan daya beli masyarakat, terutama bagi kelompok kelas menengah transisi. Kelompok ini dinilai membutuhkan dorongan nyata melalui penciptaan lapangan kerja berkualitas agar mampu bertahan dan naik ke level ekonomi yang lebih tinggi.
Hasil analisis Mandiri Institute menunjukkan bahwa struktur demografi ekonomi Indonesia tengah mengalami perubahan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Sebanyak 86 juta orang atau sekitar satu dari tiga penduduk Indonesia kini masuk dalam kategori Kelas Menengah Transisi yang terdiri dari Upper Aspiring Middle Class dan Lower Middle Class.
Kelompok ini memiliki mobilitas ekonomi yang tinggi, namun juga berada dalam kondisi rentan terhadap tekanan ekonomi. Posisi yang belum sepenuhnya stabil membuat mereka mudah terdampak oleh perubahan kondisi ekonomi, termasuk inflasi dan perlambatan pertumbuhan.
Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, menyampaikan bahwa dinamika kelompok transisi menjadi tantangan serius dalam memperkuat struktur ekonomi nasional. Data periode 2019 hingga 2025 menunjukkan adanya penurunan signifikan pada kelompok Lower Middle Class hingga lebih dari 11 juta orang, sementara kelompok Upper Aspiring Middle Class cenderung stagnan.
"Tantangan berikutnya adalah memastikan masyarakat di zona transisi memiliki daya dorong yang cukup untuk terus naik ke level ekonomi yang lebih mapan secara berkelanjutan," ujar Andry Asmoro.
Dalam kajian tersebut, kualitas pekerjaan disebut sebagai faktor pembeda utama antara kelompok transisi dan kelas menengah mapan. Meskipun lebih dari setengah kelompok transisi telah bekerja di sektor formal, tingkatnya masih tertinggal jauh dibandingkan kelompok yang lebih stabil secara ekonomi.
Kesenjangan ini berdampak langsung pada kemampuan masyarakat dalam mengumpulkan aset dan menjaga kestabilan keuangan. Ketika terjadi guncangan ekonomi, kelompok ini menjadi yang paling cepat terdampak karena keterbatasan cadangan finansial.
Struktur pengeluaran kelompok transisi juga masih didominasi kebutuhan dasar seperti transportasi, perumahan, dan tagihan rutin. Sementara itu, porsi untuk kebutuhan peningkatan kualitas hidup seperti kesehatan dan pendidikan masih terbatas, sehingga ruang untuk konsumsi sekunder menjadi semakin sempit.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa kemampuan finansial kelompok transisi belum cukup kuat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis konsumsi jangka panjang. Minimnya alokasi untuk investasi diri dan aset juga menjadi penghambat dalam meningkatkan kesejahteraan.
Keterbatasan ini semakin terlihat dari rendahnya kepemilikan aset likuid seperti emas di kalangan kelompok transisi. Hanya sekitar 21 persen rumah tangga Upper Aspiring Middle Class yang memiliki aset cadangan, jauh di bawah kelompok kelas menengah atas yang mencapai 69 persen.
Tanpa buffer asset yang memadai, kelompok ini sangat rentan terhadap risiko ekonomi seperti inflasi atau kehilangan pekerjaan. Kondisi tersebut membuat stabilitas ekonomi rumah tangga menjadi mudah terganggu dalam waktu singkat.
Mandiri Institute menilai bahwa solusi utama untuk memperkuat kelompok ini adalah melalui penciptaan lapangan kerja berkualitas di sektor produktif. Langkah ini perlu didukung oleh peningkatan daya saing investasi serta kemudahan berusaha agar sektor riil dapat berkembang lebih cepat.
"Namun, perluasan lapangan kerja ini harus diimbangi dengan upaya peningkatan produktivitas pekerja, yang menjadi kunci utama untuk menaikkan pendapatan secara riil dan berkelanjutan," pungkas Andry Asmoro.
Lebih lanjut, hasil estimasi menunjukkan terdapat lebih dari dua juta penduduk dari kelompok transisi yang sebenarnya siap naik ke kelas menengah. Dengan dukungan pekerjaan yang stabil, daya beli yang kuat, dan kepemilikan aset yang cukup, mereka memiliki potensi besar untuk memperkuat struktur ekonomi nasional.
Bank Mandiri sebagai bagian dari ekosistem ekonomi nasional turut berkomitmen mendorong penguatan kelas menengah melalui akses pembiayaan yang inklusif. Selain itu, program literasi keuangan juga terus dikembangkan untuk membantu masyarakat mengelola keuangan secara lebih efektif.
Upaya tersebut diharapkan mampu memperkuat fondasi ekonomi masyarakat sekaligus menciptakan pertumbuhan yang lebih inklusif. Dengan strategi yang tepat, kelompok kelas menengah transisi dapat menjadi motor baru dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berkelanjutan.
- Lapangan Kerja
- Bank Mandiri
- kelas menengah
- konsumsi rumah tangga
- Ekonomi Indonesia
- Daya Beli Masyarakat
- Mandiri Institute
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Paundra Zakirulloh
Berita Terkait:
-
Bank Mandiri Bawa Semangat "More Than a Race" Lewat Livin Jakarta Run Road to MJM 2026
-
Investasi Vital Bagi Penciptaan Lapangan Kerja Formal
-
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa: Masyarakat Tak Perlu Khawatir Harga BBM, Anggaran Subsidi Aman
-
Mandiri Macro and Market Brief 2026
-
Melayani Sepenuh Hati, Bank Mandiri Hadirkan Livin’ Call Bebas Pulsa Lewat Livin’ by Mandiri
-
Momen Idul Adha 1447 H, Bank Mandiri Salurkan 2.529 Hewan Kurban ke ratusan titik di seluruh Indonesia
-
WFH untuk ASN Resmi Diterapkan Pemerintah
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.