Program MBG Harus Memiliki Standar Keamanan Pangan
Rabu, 08 Apr 2026, 07:01 WIBJAKARTA â Anak-anak masih saja menjadi korban program makan bergizi gratis (MBG). Mungkinkah ini terjadi karena tidak adanya standar keamanan pangan dalam program tersebut? Untuk itu, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menekankan pentingnya penerapan standar keamanan pangan dalam pelaksanaan Program MBG karena banyaknya kasus keracunan yang terjadi pada siswa penerima manfaat program.
"Nama programnya makan bergizi gratis, tapi yang paling basic adalah standar keamanan pangan," kata Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp.Kardio(K) setelah acara media briefing IDAI di Balai Budaya, Jakarta, Senin.
Ia menekankan bahwa proses penyiapan, pengolahan, sampai penyajian makanan dalam Program MBG harus memenuhi standar keamanan supaya tidak berakibat buruk pada penerima manfaat program yang mengonsumsinya. "Tidak boleh terlalu lama jarak antara dimasak sampai disajikan, itu bisa memicu pertumbuhan bakteri," katanya.
Menurut dia, masalah kesehatan seperti mual dan diare pada siswa-siswa penerima manfaat Program MBG kemungkinan berkaitan dengan masalah penerapan standar keamanan pangan. "Ada kemungkinan standar keamanan pangannya tidak terpenuhi dengan baik, ini harus diaudit," kata dia.
Sebanyak 72 siswa di Jakarta Timur diduga keracunan setelah mengonsumsi makanan dalam Program MBG yang dibagikan pada Kamis (2/4). Korban yang kebanyakan murid sekolah dasar dilaporkan mengalami gejala seperti mual, muntah, dan diare sehingga harus dirawat di rumah sakit.
Supaya kejadian semacam itu tidak terulang, dr. Piprim mengatakan, audit keamanan pangan harus dilakukan pada seluruh tahapan pelaksanaan Program MBG, mulai dari proses penyiapan makanan di dapur sampai pendistribusian makanan kepada penerima manfaat. "Ini menyangkut nyawa manusia, jadi audit harus dilakukan dengan ketat," ujarnya.
Ketua Unit Kerja Koordinasi Kardiologi IDAI dr. Rizky Adriansyah, M.Ked (Ped), Sp.A, SubspKardio(K) menyampaikan bahwa IDAI mendorong perbaikan tata kelola pelaksanaan Program MBG. "IDAI bukan menolak program MBG, tapi tolong perbaiki tata kelolanya," katanya.
Ia menyampaikan bahwa setiap kejadian keracunan makanan pada penerima manfaat Program MBG harus ditindaklanjuti dengan evaluasi menyeluruh pelaksanaan program supaya tidak terulang.
"Kalau ada satu saja kasus, harus langsung diaudit, jangan dianggap remeh," katanya. Dia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam upaya untuk memastikan penerapan standar keamanan pangan dalam pelaksanaan Program MBG.
- Keamanan Pangan
- Kasus Keracunan Program MBG
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: Aloysius Widiyatmaka
Berita Terkait:
-
Ikea Hadirkan Pengalaman Makan yang Aman, Halal, dan Bertanggung Jawab
-
BMKG Deteksi Getaran Gempa Daratan di Samosir pada Kedalaman Dangkal, Warga Diminta Waspada
-
Keracunan MBG di Aceh Selatan, Satgas Ungkap Disebabkan Kontaminasi Bakteri
-
Edukasi Keamanan Pangan Lewat Sidak Parsel
-
Antisipasi Penyakit, Pengawasan Hewan Kurban Diperketat Jelang Idul Adha
-
Kesal Diduga Jual Obat Keras, OTK Serang Tiga Toko Obat di Pasar Rebo
-
72 Siswa Keracunan Massal MBG di Jakarta Timur, BGN Diminta Dengarkan Kekhawatiran Anak dan Orang Tua
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.