Bahan Baku Seret, Menperin Dorong Daur Ulang: Industri Plastik Mulai Panik?

Rabu, 08 Apr 2026, 13:55 WIB

JAKARTA – Upaya diversifikasi dan daur ulang kini menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan pasokan bahan baku plastik di tengah tekanan global terhadap industri petrokimia.

Ketergantungan pada bahan baku primer berbasis fosil semakin berisiko, baik dari sisi harga yang fluktuatif maupun dorongan regulasi lingkungan yang kian ketat.

Ket. Foto: Beberapa jenis plastik yang biasa digunakan untuk kebutuhan warga di Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, Rabu (8/4/2026). — Sumber: ANTARA/ Nirkomala.

Dalam konteks ini, diversifikasi—termasuk penggunaan bahan baku alternatif seperti bio-based feedstock—membuka ruang fleksibilitas, sementara daur ulang membantu menutup siklus material yang sebelumnya terbuang.

Secara analitis, kombinasi keduanya mencerminkan pergeseran menuju model ekonomi sirkular. Daur ulang tidak hanya mengurangi tekanan pada sumber daya alam, tetapi juga berpotensi menekan biaya produksi dalam jangka panjang jika didukung infrastruktur yang memadai.

Namun, tantangan tetap ada, mulai dari kualitas hasil daur ulang yang belum konsisten hingga keterbatasan sistem pengumpulan dan pemilahan sampah.

Dengan demikian, strategi ini bukan sekadar respons terhadap isu lingkungan, melainkan langkah adaptif untuk menjaga ketahanan industri.

Tanpa diversifikasi dan penguatan ekosistem daur ulang, rantai pasok bahan baku plastik akan semakin rentan terhadap guncangan eksternal sekaligus tekanan transisi menuju industri yang lebih hijau.

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan pemerintah terus mengupayakan diversifikasi bahan baku hingga mendorong pemanfaatan daur ulang guna menjaga ketersediaan plastik nasional di tengah tekanan geopolitik global.

Menanggapi dinamika harga dan pasokan bahan baku plastik, Agus dalam keterangan dikonfirmasi di Jakarta, Rabu (8/4), menjelaskan bahwa eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah telah memengaruhi rantai pasok industri petrokimia global, khususnya pada komoditas nafta yang menjadi bahan baku utama plastik.

“Eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah telah memicu koreksi suplai pada sektor-sektor industri yang bergantung pada nafta sebagai bahan baku utama. Mengingat plastik merupakan produk turunan dari proses petrokimia yang berbasis minyak bumi, gangguan pada jalur distribusi dan produksi di global memang memberikan tekanan pada struktur biaya di tingkat hulu,” ujarnya.

Sebagai respons, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) bersama pelaku industri petrokimia hulu mengambil sejumlah langkah strategis untuk menjaga keberlangsungan produksi dalam negeri. Salah satunya dengan memperluas sumber pasokan bahan baku.

“Industri sedang aktif menjajaki pasokan nafta dari negara-negara di luar kawasan Timur Tengah untuk mengurangi ketergantungan wilayah,” kata Agus.

Selain itu, optimalisasi penggunaan LPG juga dilakukan sebagai bahan baku penyangga dalam proses produksi.

“Penggunaan LPG dioptimalkan sebagai bahan baku penyangga atau buffer dalam proses produksi guna menutupi celah kekurangan pasokan nafta,” tambahnya.

Di sisi lain, pihaknya turut mendorong peningkatan penggunaan plastik daur ulang berkualitas tinggi sebagai substitusi bahan baku.

“Pemerintah mendorong peningkatan penggunaan plastik hasil daur ulang atau recycled plastic berkualitas tinggi sebagai substitusi pasokan untuk menjaga stabilitas stok di pasar,” jelasnya.

Terkait isu keterbatasan stok yang disebut hanya mencukupi hingga Mei, Agus memastikan kondisi industri masih dalam fase ekspansi.

Berdasarkan data Indeks Kepercayaan Industri (IKI), subsektor industri kemasan pada Maret 2026 menunjukkan kinerja yang sangat tinggi sehingga stok produk plastik dinilai masih mencukupi.

“Upaya pengamanan pasokan terus berjalan secara paralel,” tegasnya.

Meski demikian, ia mengakui adanya koreksi harga di tingkat produksi seiring kenaikan biaya bahan baku global. Namun, pemerintah memastikan ketersediaan produk tetap terjaga.

“Memang terjadi koreksi harga di tingkat produksi akibat kenaikan biaya bahan baku global,” kata Menperin

"Masyarakat dan industri hilir tidak perlu panik, karena produk plastik dipastikan masih tersedia di pasar. Pemerintah berkomitmen memastikan tidak terjadi kekosongan stok dengan mengoptimalkan berbagai kanal pasokan alternatif,” ungkap Agus lagi.

Lebih lanjut, pihaknya juga memperkuat sinergi dengan pelaku industri manufaktur untuk mengantisipasi dampak gangguan rantai pasok global.

Langkah ini dilakukan guna menjaga daya tahan industri nasional sekaligus memastikan pemenuhan kebutuhan domestik dan ekspor tetap berjalan optimal.

  • Industri plastik

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

Berita Terbaru

Perusahaan Milik Kampus UGM Go Public! Target IPO Capai Rp45 Miliar

Tinjau Karhutla Kalsel, Menhut Raja Antoni: Api Sudah Tak Terlihat, tapi Gambut Masih Berasap.

Dalang Karhutla Diburu! Komisi III DPR Apresiasi Langkah Tegas Polri

Coco Gauff Juara Cincinnati Open untuk Kedua Kalinya, Masuk Klub Elite WTA

Gratis dan Siaga 24 Jam! Pertamina Buka Posko Medis bagi Warga Manggarai NTT

Formula 1: Norris Menangi GP Belanda, Verstappen Kecelakaan di Depan Pendukung Sendiri

TNI AU Gerak Cepat! 6 Pesawat Bawa Bantuan Kemanusiaan ke NTT dan Kalimantan

Liga Inggris: Manchester City Menang Dramatis di Awal Era Maresca, Liverpool Selamat dari Kekalahan

Terungkap! Kebakaran Rumah di Tebet Diduga Dipicu Mesin Fotokopi

Serie A: Amorim Buka Era Baru dengan Kemenangan, Milan Tundukkan Torino; Juventus Menang Tipis atas Frosinone

Karhutla Meluas, Gubernur Kalsel Desak Masyarakat Lindungi Diri dari Paparan Asap

La Liga: Barcelona Pesta Gol di Kandang Elche, Atletico Madrid Selamat dari Kekalahan

Kementerian Kebudayaan akan revitalisasi situs budaya di Malut

Mengerikan Tragedi Kebakaran Rumah di Tebet, 4 Orang Tewas

Arthur Fils Juara Cincinnati Masters 1000, Tekuk Tiafoe dalam Final Bersejarah

Presiden Prabowo Pimpin Ratas di Hambalang, Bahas Karhutla dan Dampak Bencana NTT.

Kodaeral XIII Gelar Lomba Speedboat di Tarakan, Dorong Potensi Kemaritiman Kaltara.

Takdir Geografis Gambia, Negara Terkecil Afrika yang Terjepit Senegal

Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H, Munafri Arifuddin Ajak Masyarakat Perkuat Persatuan.

Tips Mengelola Bisnis Kos-Kosan

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.