Konflik Selat Hormuz Memanas, OPEC+ Tambah Pasokan Minyak Pada Mei 2026

Senin, 06 Apr 2026, 20:11 WIB

JAKARTA - Kelompok OPEC+ memutuskan menaikkan produksi minyak mentah sebesar 206.000 barel per hari untuk Mei 2026 di tengah gangguan pasokan akibat konflik di Selat Hormuz. Langkah ini diambil setelah pertemuan virtual delapan negara produsen utama pada Minggu waktu setempat.

Keputusan tersebut melibatkan negara-negara kunci seperti Arab Saudi, Russia, Irak, Uni Emirat Arab, Kuwait, Kazakhstan, Aljazair, dan Oman yang berupaya menjaga stabilitas pasar energi global. Namun, tambahan produksi itu dinilai sangat kecil dibandingkan skala gangguan pasokan yang terjadi saat ini.

Ket. Foto: Kelompok OPEC+ memutuskan menaikkan produksi minyak mentah sebesar 206.000 barel per hari untuk Mei 2026 di tengah gangguan pasokan akibat konflik di Selat Hormuz. Langkah ini diambil setelah pertemuan virtual delapan negara produsen utama pada Minggu waktu setempat. — Sumber: Euronews

Gangguan di Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital distribusi minyak dunia, membuat sebagian besar pasokan global tersendat. Situasi ini diperparah oleh konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang belum menunjukkan tanda mereda.

Dalam pernyataan resminya, OPEC+ menegaskan bahwa penyesuaian produksi tersebut merupakan bagian dari komitmen kolektif untuk menjaga stabilitas pasar. Selain itu, kebijakan ini juga bersifat fleksibel dan dapat disesuaikan kembali tergantung perkembangan situasi global.

"Penyesuaian ini akan diterapkan pada Mei 2026 sebagai bagian dari pengelolaan produksi sukarela," demikian pernyataan resmi OPEC+.

Mereka juga membuka peluang untuk meningkatkan atau bahkan membalik kebijakan jika kondisi pasar berubah drastis.

Meski demikian, analis energi menilai langkah ini lebih bersifat simbolis dibandingkan solusi nyata terhadap krisis pasokan. Kenaikan produksi yang hanya di bawah 2 persen dari total gangguan dinilai tidak akan mampu menekan harga minyak dalam waktu dekat.

Analis pasar energi, Osama Rizvi, menyebut bahwa pasar minyak saat ini mengalami tekanan struktural yang serius akibat terganggunya lebih dari 50 fasilitas energi. Ia menilai tambahan produksi dari OPEC+ hampir tidak signifikan dalam menutup kekurangan pasokan global.

Harga minyak global sendiri terus melonjak sejak konflik memanas, dengan minyak Brent dan WTI mendekati level 120 dolar AS per barel. Kondisi ini mulai memberikan tekanan terhadap ekonomi global, terutama pada sektor transportasi dan industri.

Lembaga keuangan JPMorgan Chase bahkan memperingatkan bahwa harga minyak berpotensi menembus 150 dolar AS per barel jika gangguan di Selat Hormuz terus berlanjut hingga pertengahan Mei. Proyeksi ini memperkuat kekhawatiran akan lonjakan inflasi global.

Di sisi lain, Presiden Donald Trump dilaporkan memberikan ultimatum kepada Iran untuk segera membuka kembali jalur Selat Hormuz. Ia bahkan mengancam akan melakukan serangan terhadap infrastruktur strategis Iran jika tuntutan tersebut tidak dipenuhi.

Ketegangan geopolitik yang terus meningkat ini membuat pasar energi berada dalam ketidakpastian tinggi. Para pelaku industri kini menunggu langkah lanjutan dari negara-negara produsen maupun perkembangan konflik yang dapat menentukan arah harga minyak ke depan.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.