- Home
-
- Luar Negeri
-
- Iran Usulkan Rencana untuk...
Iran Usulkan Rencana untuk Membuka Kembali Selat Hormuz dalam 7 Hari
Sabtu, 26 Sep 2026, 08:31 WIBPBB - Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan Teheran telah menawarkan kepada Washington sebuah rencana yang memungkinkan Selat Hormuz dibuka kembali untuk navigasi maritim dalam waktu tujuh hari setelah disepakati.
Araghchi bertemu dengan utusan Presiden AS Donald Trump, Steve Witkoff, untuk melakukan pembicaraan pada hari Selasa, dan sebelumnya menetapkan syarat-syarat untuk mengakhiri perang dan membuka kembali jalur pelayaran energi yang vital.
"Iran telah menyampaikan kepada Amerika Serikat, melalui Qatar, rencana konkret tujuh hari. Jika syarat-syarat yang diperlukan terpenuhi, selat tersebut dapat dibuka kembali, dan jalur pelayaran normal dapat dipulihkan dalam waktu tujuh hari," kata Araghchi di PBB pada hari Jumat (25/9).
"Pilihan sekarang ada di tangan Amerika Serikat. Iran tidak menerima paksaan, ancaman, atau intimidasi, dan Iran tidak akan menyerahkan hak kedaulatannya di bawah tekanan."
"Saya dapat memberi tahu Anda bahwa jika pihak AS benar-benar serius untuk mencapai kesepakatan dan membuka kembali Selat Hormuz, semuanya sudah disiapkan."
Laporan media sebelumnya menyebutkan bahwa rencana baru tersebut menyerukan penghentian semua permusuhan di Timur Tengah selama tujuh hari, termasuk di Lebanon.
Laporan tersebut juga menyebutkan perlunya pembebasan aset-aset Iran yang dibekukan, yang diperkirakan bernilai setidaknya 12 miliar dolar AS, serta pencabutan sanksi terhadap minyak Iran dan pengakhiran blokade angkatan laut AS terhadap Iran.
Pada hari ketujuh gencatan senjata, Iran akan membuka kembali Selat Hormuz.
Hossein Mohebi, juru bicara Garda Revolusi, sayap ideologis militer Iran, mengatakan kepada AFP dalam sebuah wawancara eksklusif pada hari Selasa bahwa mengakhiri permusuhan di Yaman juga termasuk di antara tuntutan Teheran.
Amerika Serikat dan Iran menandatangani nota kesepahaman pada bulan Juni yang bertujuan untuk mengakhiri perang, membuka kembali selat tersebut, dan memulai pembicaraan tentang program nuklir Iran.
Namun kesepakatan itu gagal tak lama kemudian ketika Iran menembaki kapal-kapal dagang di Hormuz yang dituduh menyimpang dari rute yang telah disetujui melalui jalur perairan tersebut.
Iran mewajibkan kapal untuk mendapatkan izin sebelum melintas, dengan alasan keamanan dan kedaulatan.
Kapal-kapal yang menolak untuk mematuhi perintah secara rutin menjadi sasaran, sementara Amerika Serikat secara sporadis membombardir daerah pesisir Iran sebagai pembalasan.
- selat hormuz
Redaktur: Lili Lestari
Penulis: AFP
Berita Terkait:
-
Cegah Kebakaran Terulang, Menbud: Revitalisasi Desa Adat Sade Harus Disertai Mitigasi
-
Kota Tangerang Kini Miliki Rumah Sehat Sahabat Paru untuk Tangani TBC
-
BPBD Kalsel Sebut Delapan Kabupaten/Kota Siaga Darurat Karhutla hingga Oktober
-
Kabar Gembira! Status Guru PPPK Paruh Waktu jadi Penuh Waktu Otomatis Tanpa Tes pada 2027, Peluang jadi PNS
-
Kemenhut Kerahkan 1.000 Polisi Hutan untuk Padamkan Karhutla di Kalimantan
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.