Efek Domino Energi: Rupiah Melemah Saat Harga Minyak Global Menggila
Selasa, 31 Mar 2026, 18:05 WIBJAKARTA â Pelemahan Rupiah Indonesia tidak lepas dari lonjakan harga minyak global seperti Brent Crude Oil dan West Texas Intermediate.
Kenaikan harga energi ini meningkatkan tekanan pada neraca perdagangan Indonesia, terutama karena ketergantungan pada impor minyak yang masih cukup besar.
Akibatnya, kebutuhan dolar AS untuk membiayai impor meningkat, mendorong permintaan valas dan menekan nilai tukar rupiah.
Di sisi lain, harga minyak yang tinggi juga memperkuat ekspektasi inflasi global, yang berpotensi membuat bank sentral mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama.
Kondisi ini mendorong aliran modal keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, sehingga memperbesar tekanan terhadap rupiah.
Kombinasi faktor eksternal tersebut memperlihatkan betapa sensitifnya nilai tukar terhadap dinamika harga komoditas global, khususnya energi.
Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan, Selasa (31/3), melemah 39 poin atau 0,23 persen menjadi Rp17.041 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.002 per dolar AS.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dipengaruhi kenaikan harga minyak dunia jenis Brent dan West Texas Intermediate (WTI) hingga melebihi 57 persen pascapenutupan Selat Hormuz.
"Penutupan efektif Selat Hormuz oleh Iran, yang biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak global dan sejumlah besar kapal tanker gas alam cair, telah mendorong harga Brent berjangka naik 59 persen sejauh ini pada bulan Maret, kenaikan bulanan tertinggi yang pernah ada. Sementara WTI naik 58 persen bulan ini, yang tertinggi sejak Mei 2020," ucapnya dalam keterangan tertulis di Jakarta.
Presiden AS Donald Trump memperingatkan bahwa AS akan menghancurkan pembangkit energi dan sumur minyak Iran jika Tehran tak membuka kembali Selat Hormuz.
Hal ini menyusul penolakan Iran terhadap proposal perdamaian AS yang dianggap "tidak realistis" dan serangan rudal baru-baru ini terhadap rezim Zionis Israel.
Di sisi lain, Gerakan Ansar Allah Yaman, dikenal sebagai Houthi, masih mempertimbangkan untuk memblokir Selat Bab al-Mandeb, yang dapat membuat harga minyak melonjak tajam, sebagaimana laporan Sputnik.
Houthi menekankan Eropa juga harus memahami jika mereka terus menjadi musuh Poros Perlawanan, maka pihaknya akan menaikkan harga minyak hingga 200 dolar AS (sekitar Rp3,4 juta) per barel dan mencekik perekonomian Eropa.
Selat Bab al-Mandeb merupakan jalur sempit strategis yang menghubungkan Laut Merah dan Samudra Hindia.
Terkait konflik Iran, wilayah tersebut menjadi penting karena berpotensi terganggu oleh kelompok sekutu Iran, sehingga mengancam jalur perdagangan dan distribusi minyak global.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate(JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah ke level Rp16.999 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.993 per dolar AS.
- rupiah hari ini
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Persis Keluar dari Zona Degradasi Setelah Menang 3-0 atas Bali United
-
Cari Informasi Lebih Cepat Tanpa Pindah Aplikasi lewat Circle to Search
-
Akses Tani Kini Mulus, TMMD Kutai Barat Sukses Tembus Jalan 3.500 Meter dalam 30 Hari
-
Pasar Jaya Kerahkan 33 Truk Angkut Sampah di Pasar Induk Kramat Jati
-
Pertamina Tambah 9 Juta Tabung Elpiji 3 Kg di Jateng-DIY
-
DPR Minta Pemerintah Evaluasi Berkala Kebijakan Penahanan Harga BBM
-
Pemkot Tangerang Larang ASN Keluar Kota saat "WFA"
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.