• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Strategi Hadapi Kemungkina...

Strategi Hadapi Kemungkinan Krisis Global

Senin, 30 Mar 2026, 07:20 WIB

Pertanyaan:

Bu Rossa, saat ini seperti kita ketahui bersama, kondisi ekonomi dan geopolitik global tidak sedang baik-baik saja. Terlebih dengan adanya perang antara AS Israel dan Iran. Saya membaca analisa beberapa pengamat ekonomi bahwa kemungkinan bisa terjadi resesi global. Mohon advisnya Bu, apa saja yang harus dipersiapkan untuk menghadapi situasi ini sebagai individu dan sekaligus juga sebagai pelaku bisnis.

Ket. Foto: Ilustrasi Bu Rossa — Sumber: Dok Koran Jakarta

Jawaban:

Kabar mengenai kemungkinan krisis global sering kali memicu kekhawatiran. Memasuki tahun 2026, meski Indonesia menunjukkan ketahanan ekonomi yang cukup solid (sering disebut sebagai “anomali global”), kewaspadaan tetap menjadi kunci. Krisis global biasanya dipicu oleh kombinasi tensi geopolitik, inflasi yang persisten, hingga dampak perubahan iklim yang mulai membebani ekonomi riil. Berikut adalah panduan strategis untuk menyikapi kemungkinan tersebut, baik dari sisi finansial pribadi maupun bagi para pelaku usaha.

Strategi Finansial Pribadi: Membangun Benteng Pertahanan

Di masa ketidakpastian, likuiditas adalah “napas” Anda. Fokus utama adalah meminimalkan risiko dan memastikan kebutuhan dasar tetap terpenuhi.

Perkuat Dana Darurat: Jika biasanya dana darurat disarankan sebesar 3–6 kali pengeluaran bulanan, di tengah ancaman krisis, targetkan hingga 12 kali pengeluaran. Simpan di instrumen yang sangat likuid seperti reksa dana pasar uang atau deposito.

Audit Pengeluaran (Frugal Living): Evaluasi kembali gaya hidup. Bedakan antara kebutuhan dan keinginan. Menunda pembelian barang tersier (gadget baru, mobil, atau liburan mewah) bisa mengamankan arus kas Anda.

Lakukan Diversifikasi Aset: Jangan menaruh telur dalam satu keranjang.

Emas: Sering menjadi superstar karena fungsinya sebagai safe-haven.

Obligasi Negara: Memberikan imbal hasil stabil dengan risiko gagal bayar yang sangat rendah.

Lunasi Hutang Konsumtif: Sebisa mungkin, lunasi hutang dengan bunga mengambang (floating rate) seperti kartu kredit, karena suku bunga cenderung naik saat krisis untuk menahan inflasi.

Strategi bagi Pelaku ­Usaha: Adaptasi dan Efisiensi

Bagi pemilik bisnis, krisis bukan hanya ancaman tetapi juga momen seleksi alam. Bisnis yang lincah dan efisien akan bertahan.

Jaga Arus Kas (Cash flow is King): Fokus pada penagihan piutang lebih cepat dan negosiasi pembayaran ke vendor. Pastikan operasional tidak terhenti karena masalah likuiditas.

Digitalisasi dan Inovasi: Gunakan teknologi untuk memangkas biaya operasional. Misalnya, mengoptimalkan pemasaran digital dibandingkan iklan konvensional yang mahal.

Pahami Pergeseran Konsumen: Saat krisis, perilaku belanja berubah. Konsumen akan mencari produk yang memberikan nilai lebih dengan harga kompetitif atau beralih ke kebutuhan pokok.

Perkuat Jaringan (Networking): Kolaborasi dengan mitra usaha dapat membuka peluang pasar baru atau berbagi beban biaya produksi.

Krisis sering kali bersifat siklus. Kuncinya bukan pada ketakutan, melainkan pada persiapan. Mereka yang memiliki cadangan dana dan rencana mitigasi yang matang biasanya akan keluar sebagai pemenang saat ekonomi kembali pulih. hay

  • SURAT BU ROSSA

Redaktur: Haryo Brono

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.