Pakar ITS Beberkan Jurus Berhasil Atasi Lebaran 2026 Tanpa Krisis BBM
Sabtu, 28 Mar 2026, 09:17 WIBSURABAYA â Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia baru-baru ini menepis ketakutan publik soal ketersediaan operasional bahan bakar minyak (BBM) yang bisa bertahan selama 20 hari di tengah tensi geopolitik global yang memanas. Publik pun menghitung estimasi cadangan BBM nasional akan habis bertepatan dengan momentum Lebaran 2026. Namun kenyataannya ketersediaan energi aman hingga saat ini.Â
Peneliti dari Lab Rekayasa Termal dan Sistem Energi (RTSE) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Ary Bachtiar Krishna Putra, mengapresiasi kinerja pemerintah yang tetap menjaga pasokan BBM saat hari raya. Dia menilai kondisi tersebut tidak lepas dari pengalaman Menteri Bahlil dalam mengelola kebutuhan energi saat periode mudik Lebaran yang terjadi setiap tahun.
âYa memang karena sudah event tahunan. Artinya secara pasokan mungkin pemerintah sudah punya jam terbang untuk menjamin keterisian dan harga dari BBM,â ujar Ary, Sabtu (28/3).
Menurut dia, pola konsumsi BBM saat Lebaran sudah cukup terprediksi karena berlangsung dalam waktu terbatas, umumnya hanya sekitar satu pekan selama arus mudik dan balik. Hal ini membuat pemerintah lebih mudah mengantisipasi lonjakan permintaan.
âKalau Lebaran kan memang penambahan karena mudik ya, itu juga dalam kategori mungkin semingguan, artinya dari berangkat sampai pulang,â kata dia.
Selain itu, ia menilai perilaku masyarakat yang lebih bijak dalam menggunakan BBM juga turut berkontribusi terhadap stabilitas pasokan. Kekhawatiran terhadap potensi kelangkaan membuat masyarakat cenderung menahan konsumsi yang tidak perlu.
âKalau masyarakat sudah mulai mengendalikan diri untuk tidak terlalu menghambur-hamburkan, manfaatnya terasa. Saya lihat di beberapa daerah, kondisi sudah tidak terlalu antre BBM,â ujarnya.
Di sisi lain, Ary mengingatkan bahwa secara fundamental ketahanan energi Indonesia masih memiliki tantangan, terutama terkait kapasitas cadangan BBM yang relatif terbatas dibandingkan negara lain di kawasan. Ia menyebutkan, cadangan energi nasional saat ini masih berada di kisaran 20 hingga 28 hari, jauh di bawah negara seperti Jepang dan Singapura yang mampu menyimpan cadangan hingga berbulan-bulan.
Oleh karena itu, Ary menilai langkah pemerintah untuk menambah kapasitas penyimpanan BBM hingga 90 hari merupakan kebijakan strategis yang perlu segera direalisasikan guna memperkuat ketahanan energi nasional.
âKalau bisa 90 hari sudah luar biasa. Artinya kalau harga pasar naik turun, kita masih punya waktu dan cadangan dari pengadaan sebelumnya,â ujarnya.
Lebih jauh, ia juga menyoroti peran program biodiesel seperti B50 yang dinilai telah membantu mengurangi ketergantungan terhadap impor solar, meskipun untuk bensin Indonesia masih bergantung pada pasokan luar negeri.Â
Dengan kombinasi pengalaman pemerintah, pola konsumsi yang terprediksi, serta dukungan kebijakan energi yang berjalan, Ary menilai keberhasilan menjaga pasokan BBM selama Lebaran tahun ini menjadi indikator positif dalam pengelolaan energi nasional.
Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Likuiditas Uang Beredar Maret 2026 Tumbuh 9,7 Persen Capai Rp10.355 Triliun
-
Efek MSCI Bekukan "Rebalancing", IHSG Terkapar dan Saham BREN Anjlok 7 Persen
-
Beras SPHP Dipastikan Tak Naik, Namun Pembelian Dibatasi
-
Rayakan HUT ke-248, Museum Nasional Gelar Pameran Lampu dan Pameran Numismatik
-
Harga Minyak Anjlok Lebih dari 5%, Optimisme Meningkat atas Kesepakatan AS-Iran.
-
Gencatan Senjata AS-Iran Terancam, Harga Minyak Kembali Melonjak 6%
-
Pemerintah AS Khawatir Dampak Politik Jika Harga Bensin Melampaui US$3 Dollar per Galon
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.