Atasi Sedimentasi Pascabencana: Strategi Pemerintah Pulihkan Sungai di Tiga Provinsi
Sabtu, 28 Mar 2026, 20:15 WIBJAKARTA - Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera terus mengakselerasi pembersihan lumpur dan pemulihan lahan pertanian di wilayah terdampak. Upaya ini dilakukan di tiga provinsi, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Langkah tersebut bertujuan untuk mempercepat pemulihan aktivitas masyarakat yang sempat terganggu akibat banjir dan longsor. Selain itu, normalisasi fasilitas publik juga menjadi prioritas agar kembali dapat digunakan secara optimal.
Pembersihan lumpur difokuskan pada titik-titik terdampak yang tersebar di berbagai wilayah. Sementara rehabilitasi sawah dilakukan untuk menjaga ketersediaan pangan serta memulihkan ekonomi petani.
Berdasarkan data Satgas per 28 Maret 2026, progres pembersihan lumpur menunjukkan capaian signifikan. Di Aceh, dari total 476 lokasi terdampak, sebanyak 396 lokasi telah berhasil dibersihkan.
Sementara itu, 80 lokasi lainnya masih dalam tahap pengerjaan. Capaian ini menjadikan Aceh sebagai wilayah dengan jumlah titik pembersihan terbanyak.
Di Sumatera Utara, dari total 24 lokasi yang menjadi target, sebanyak 20 lokasi telah dibersihkan. Sisanya masih dalam proses penyelesaian oleh tim di lapangan.
Adapun di Sumatera Barat, pembersihan lumpur telah rampung sepenuhnya. Seluruh 29 lokasi terdampak berhasil ditangani hingga mencapai 100 persen.
Capaian ini turut sejalan dengan progres rehabilitasi lahan sawah yang terdampak bencana. Dari total 42.702 hektare sawah yang menjadi target, sebanyak 991 hektare telah berhasil dipulihkan.
Sebanyak 5.333 hektare lainnya masih dalam proses penanganan. Upaya ini dilakukan secara bertahap untuk memastikan lahan kembali produktif.
Di Aceh, dari total 31.464 hektare sawah yang terdampak, baru 42 hektare yang berhasil direhabilitasi. Sementara di Sumatera Utara, dari 7.336 hektare target, sebanyak 170 hektare telah selesai dipulihkan.
Untuk wilayah Sumatera Barat, capaian rehabilitasi terbilang paling tinggi. Dari total 3.902 hektare, sebanyak 779 hektare sawah telah berhasil dipulihkan.
"Lumpur ini menjadi problem yang paling utama di lowland. Kita sudah mencatat tim ini merekap di mana saja titik-titiknya," ujarnya.
Ia menyebutkan, secara keseluruhan progres pembersihan lumpur di tiga provinsi telah mencapai sekitar 84 persen. Artinya, masih tersisa sekitar 16 persen lokasi yang perlu dituntaskan.
Selain pembersihan, pemerintah juga fokus pada normalisasi sungai yang mengalami sedimentasi. Langkah ini penting untuk mencegah banjir susulan di wilayah terdampak.
Normalisasi sungai juga berperan dalam mendukung sistem irigasi bagi lahan pertanian dan tambak warga. Dengan demikian, pemulihan tidak hanya bersifat sementara tetapi berkelanjutan.
Melalui percepatan ini, pemerintah berharap aktivitas masyarakat dapat segera kembali normal. Pemulihan sektor pertanian juga diharapkan mampu menjaga stabilitas pasokan pangan di wilayah terdampak.
- BNPB
- Rehabilitasi
- Banjir dan Longsor
- Bersihkan Lumpur
- Pemulihan bencana
- bencana sumatera
- sawah terdampak bencana
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Paundra Zakirulloh
Berita Terkait:
-
Public Expose 2026: Rumah Zakat Bakal Perkuat Inovasi Program demi Memperluas Manfaat
-
Penanganan longsor di Kramat Jati Jakarta
-
TNI AD Pastikan Jembatan Armco di Bener Meriah Aceh Layak Digunakan Warga
-
Longsor di Cadas Pangeran Kabupaten Sumedang
-
ULN Indonesia Kembali Membengkak, Tembus 434,7 Miliar Dolar AS
-
Pemkot Banjarbaru Tekankan Disiplin ASN Usai Libur Lebaran
-
Banjir Bandang dan Tanah Longsor Kembali Melanda Aceh Tengah
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.