Perundingan Dagang AS–Tiongkok Kembali Digelar di Paris

Senin, 16 Mar 2026, 01:10 WIB

PARIS – Pejabat ekonomi tinggi Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok memulai putaran baru perundingan di Paris pada Minggu (15/3), guna meredakan ketegangan perdagangan serta membuka jalan bagi kunjungan Presiden AS Donald Trump ke Beijing untuk bertemu Presiden Tiongkok Xi Jinping pada akhir Maret.

Dilansir dari Channel NewsAsia, pembicaraan dipimpin Menteri Keuangan AS Scott Bessent dan Wakil Perdana Menteri Tiongkok He Lifeng. Pertemuan berlangsung di kantor pusat Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) di Paris dan turut dihadiri Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer.

Ket. Foto: Presiden AS, Donald Trump dan Presiden Tiongkok, Xi Jinping. — Sumber: ANDREW CABALLERO-REYNOLDS

Diskusi diperkirakan berfokus pada sejumlah isu utama, antara lain perubahan tarif AS, pasokan mineral tanah jarang dan magnet produksi Tiongkok ke pasar Amerika, kontrol ekspor teknologi tinggi AS, serta pembelian produk pertanian Amerika oleh Tiongkok.

Pertemuan ini melanjutkan rangkaian dialog yang digelar di beberapa kota Eropa sepanjang tahun lalu untuk meredakan ketegangan yang sempat mengancam stabilitas perdagangan antara dua ekonomi terbesar dunia tersebut.

Analis perdagangan menilai peluang terobosan besar dalam perundingan kali ini relatif terbatas, mengingat waktu persiapan yang singkat serta perhatian Washington yang juga tersita pada konflik AS-Israel dengan Iran.

“Kedua pihak memiliki tujuan minimal untuk mengadakan pertemuan yang dapat menjaga situasi tetap stabil dan menghindari eskalasi ketegangan,” kata Scott Kennedy, pakar ekonomi Tiongkok dari Center for Strategic and International Studies di Washington.

Menurut Kennedy, Trump kemungkinan berharap membawa pulang komitmen besar dari Tiongkok, seperti pemesanan pesawat Boeing serta peningkatan pembelian gas alam cair (LNG) dan kedelai dari AS. Namun, Washington mungkin harus memberikan konsesi terkait pembatasan ekspor teknologi untuk mencapai kesepakatan tersebut.

Ia menilai peluang yang lebih realistis adalah tercapainya hasil yang hanya menunjukkan kemajuan terbatas. “Pertemuan ini kemungkinan hanya akan menunjukkan kemajuan secara permukaan tanpa perubahan signifikan dari kondisi yang ada,” ujarnya.

Selain isu perdagangan, konflik di Timur Tengah juga diperkirakan menjadi pembahasan penting. Perang AS-Israel dengan Iran memicu lonjakan harga minyak serta kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global, terutama setelah ancaman penutupan Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar 45 persen impor minyak Tiongkok.

Jangkar Stabilitas

Media pemerintah Tiongkok, Tiongkok Daily, dalam tajuk rencananya menekankan pentingnya kelanjutan dialog antara kedua negara sebagai “jangkar stabilitas” di tengah ketidakpastian global.

“Pada saat seperti ini, hal terakhir yang dibutuhkan dunia adalah perang dagang antara dua ekonomi terbesar,” tulis Tiongkok Daily.

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.