Empat Tahun Setelah Sanksi Russia, FIFA dan IOC Dituding Bersikap Ganda Hadapi Konflik Iran

Rabu, 11 Mar 2026, 08:12 WIB

LAUSANNE — Empat tahun setelah dunia olahraga bergerak cepat menjatuhkan sanksi kepada Russia akibat invasi ke Ukraina, sikap lembaga olahraga internasional kini dinilai jauh lebih berhati-hati dalam menanggapi konflik terbaru yang dipicu serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Perbedaan respons ini memunculkan tudingan standar ganda terhadap otoritas olahraga global.

Invasi Rusia ke Ukraina terjadi hanya empat hari setelah penutupan Olimpiade musim dingin Beijing 2022. Kala itu, tank-tank Rusia memasuki wilayah Ukraina tepat sebelum dimulainya Paralimpiade musim dingin.

Ket. Foto: Ilustrasi suporter pertandingan Piala Dunia. — Sumber: AFP

Empat tahun kemudian, pola waktu yang serupa kembali terjadi. Serangan udara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran dimulai enam hari setelah berakhirnya Olimpiade musim dingin Milan–Cortina 2026, juga menjelang pelaksanaan ajang paralimpiade.

Namun respons lembaga olahraga internasional sangat berbeda. Pada tahun 2022, hanya butuh empat hari bagi FIFA dan UEFA, dengan dukungan International Olympic Committee (IOC), untuk menyingkirkan seluruh tim Russia dan Belarusia dari kompetisi internasional.

IOC saat itu secara tegas mengecam “pelanggaran Olimpiade Truce oleh pemerintah Russia dan Belarus yang mendukungnya”.

Kali ini, IOC hanya mengeluarkan pernyataan yang meminta jaminan “keamanan para atlet” yang akan melakukan perjalanan ke Paralimpiade di Italia, terutama bagi mereka yang “mungkin terdampak konflik terbaru”.

Sekretaris Jenderal FIFA Mattias Grafström mengatakan organisasinya saat ini hanya “memantau situasi”.

“Beberapa pengamat mencatat bahwa Rusia dilarang dari kompetisi FIFA setelah invasinya ke Ukraina, sementara sejauh ini tidak ada pembahasan mengenai kemungkinan tindakan serupa terhadap Amerika Serikat,” kata Simon Chadwick, pakar geopolitik olahraga dari EMLyon Business School.

Meski demikian, terdapat perbedaan karakter konflik. Russia melakukan invasi darat dengan tujuan menguasai wilayah, sesuatu yang tidak secara eksplisit menjadi alasan dalam serangan udara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Mengeluarkan Amerika Serikat dari kompetisi olahraga global dinilai jauh lebih sulit, terutama karena negara tersebut menjadi salah satu tuan rumah Piala Dunia 2026.

Situasi berbeda terjadi pada Russia tahun 2022. Negara yang pernah menjadi tuan rumah Piala Dunia 2018 itu sudah berada di bawah penyelidikan panjang terkait doping yang disponsori negara. Larangan FIFA menjelang play-off kualifikasi melawan Polandia dinilai sekaligus menghindarkan organisasi tersebut dari potensi kontroversi besar.

Sementara itu, Presiden FIFA Gianni Infantino yang biasanya aktif di media sosial, justru memilih tidak memberikan komentar.

“Ini adalah penghindaran yang terang-terangan,” kata Pim Verschuuren, pakar manajemen olahraga dan geopolitik dari University of Rennes II.

Menurutnya, Infantino dan Presiden IOC Kirsty Coventry menunjukkan sikap pragmatis menghadapi realitas politik.

"Pada tahun 2022 tekanan politik begitu kuat sehingga IOC terpaksa menyingkirkan Russia,” ujarnya. “Saat ini mereka tidak mampu menargetkan atau memusuhi Amerika Serikat.”

Selain menjadi tuan rumah Piala Dunia 2026, Amerika Serikat juga akan menyelenggarakan Olimpiade Los Angeles 2028.

“Ada semacam monopoli kekuasaan dalam tata kelola olahraga global,” kata Verschuuren. “Olahraga berada di tangan Amerika Serikat dengan dukungan pendanaan dari sekutu-sekutunya di kawasan Teluk.”

Hubungan dekat Infantino dengan pemerintahan AS juga disorot. Ia bahkan menciptakan penghargaan khusus “FIFA Peace Prize” untuk Donald Trump.

“Ini benar-benar di luar nalar,” kata seorang sumber yang dekat dengan badan sepak bola dunia kepada AFP. “Namun secara rasional dapat dimengerti, karena ia ingin Piala Dunia berjalan lancar.”

Masa Depan Iran di Piala Dunia

Iran sendiri merupakan negara dengan sanksi internasional terbanyak kedua setelah Rusia. Pembatasan ekonomi yang berkepanjangan membuat negara tersebut semakin terisolasi.

Meski telah lolos kualifikasi, ada kemungkinan Iran national football team tidak dapat tampil di Piala Dunia.

“Sulit melihat negara mana yang akan benar-benar memprotes jika Iran dikeluarkan,” ujar Chadwick. Menurutnya, industri olahraga Iran relatif kecil sehingga dampaknya terhadap ekonomi global olahraga juga terbatas.

“Menyingkirkan Iran bahkan bisa memberi panggung bagi Donald Trump dan pemerintahannya untuk menampilkan citra dan nilai yang ingin mereka proyeksikan,” katanya.

Sementara itu, sekutu kuat Iran juga tidak banyak membantu. Rusia saat ini lebih fokus menghapus sanksi terhadap atletnya sendiri, sementara China dinilai memiliki pengaruh terbatas dalam sepak bola dunia.

Verschuuren menilai organisasi olahraga internasional kini menghadapi dilema yang sama seperti banyak negara dan lembaga global lainnya.

“Gagasan multilateralisme sedang runtuh, dan olahraga adalah salah satu cerminan dari keruntuhan itu,” ujarnya. “IOC terlihat sepenuhnya kehilangan arah, sama seperti lembaga-lembaga internasional lainnya.”

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: AFP, Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.