Festival Ramai, Pelaku UMKM Panen Rezeki di 10 Hari Pertama Pesta Kesenian Bali

Rabu, 24 Jun 2026, 13:45 WIB

DENPASAR – Festival budaya memiliki peran strategis sebagai sarana pelestarian warisan tradisi sekaligus penggerak ekonomi kreatif dan pariwisata.

Melalui penyelenggaraan festival, berbagai nilai budaya, seni, dan kearifan lokal dapat diperkenalkan kepada generasi muda maupun wisatawan, sehingga memperkuat identitas daerah.

Ket. Foto: Pengunjung Pesta Kesenian Bali berbelanja di UMKM kuliner lokal PKB 2026 di Denpasar, Rabu (24/6/2026). — Sumber: ANTARA/Ni Putu Putri Muliantari

Dari sisi ekonomi, kegiatan ini menciptakan peluang bagi pelaku UMKM, seniman, dan sektor jasa melalui peningkatan kunjungan serta transaksi ekonomi.

Karena itu, festival budaya tidak hanya menjadi ruang ekspresi budaya, tetapi juga instrumen pembangunan yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis potensi lokal.

Dinas Koperasi dan UKM (Diskop UKM) Bali melihat Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 tak hanya menjadi festival budaya namun juga wadah perputaran ekonomi rakyat.

“Iya PKB mendatangkan efek ganda, tidak hanya seni budaya tapi perputaran ekonomi berjalan bersama,” ucap Kepala Diskop UKM Bali Tri Arya Dhyana Kubontubuh dikonfirmasi di Denpasar, Rabu (24/6).

Hal ini disampaikan Tri Arya setelah membuka data transaksi yang dibukukan usaha mikro kecil menengah (UMKM) kuliner di PKB 2026, dimana selama 10 hari pertama saja terhitung sejak 13 Juni hingga 23 Juni transaksi sudah mencapai Rp1,88 miliar.

“Ini baru kuliner saja tepatnya Rp1,88 miliar, kalau ditambah IKM (industri kecil menengah) kerajinan pasti lebih tinggi lagi, kalau detailnya sudah selalu kami laporkan ke pimpinan (Gubernur Bali),” ujarnya.

Di PKB 2026 sendiri, Diskop UKM Bali memfasilitasi secara gratis 72 UMKM kuliner berjualan di festival budaya terbesar itu, namun mereka dibagi menjadi dua kloter sehingga semuanya bisa mendapat manfaat dari berjualan di area Taman Budaya Art Center.

Puluhan UMKM itu juga sebelumnya telah dikurasi, sehingga jenisnya bervariasi dari makanan berat, minuman, jajanan tradisional Bali ataupun memakai bahan produk lokal Bali lainnya.

“Kami utamakan makanan tradisional khas kabupaten/kota se-Bali, target kami pelaku UMKM kuliner Bali dapat memperkenalkan produk olahan kulinernya dan dapat memperoleh keuntungan ekonomi di PKB 2026, kalau masalah omset penjualan kami hanya membandingkan dengan PKB tahun lalu,” ujarnya.

Dengan memfasilitasi secara gratis, Pemprov Bali memastikan harga yang ditawarkan UMKM juga standard namun bersih dan berkualitas, sehingga Tri Arya turut mempertegas bahwa stan kuliner Pesta Kesenian Bali berbeda dengan stan kuliner pasar malam di area Banjar Kedaton yang berhimpitan dengan Taman Budaya Art Center.

“Jika ada yang meragukan harga di kuliner kami, bisa saja dikonfirmasi dengan daftar menu yang sudah tersedia, pelaksanaan kuliner kami bersih total, baik dari sisi penyajian, pengelolaan sampahnya, dan bersih dari pungli,” tuturnya.

Kepala Diskop UKM Bali itu menjelaskan area kuliner PKB hadir sebagai pelengkap sekaligus kebutuhan bagi ribuan pengunjung yang hadir setiap hari menyaksikan pertunjukan budaya.

Secara tidak langsung kunjungan tersebut juga memberi dampak ekonomi, dengan target Pemprov Bali setidaknya perputaran ekonomi dari UMKM kuliner mencapai Rp5 miliar hingga 11 Juli mendatang.

“Tahun lalu omset penjualan UMKM kuliner kita mencapai Rp5 miliar-an tentunya kami harapkan tahun ini bisa melebihi tahun lalu, kami selalu optimistis tetapi walaupun tidak tercapai pun UMKM kami tetap memperoleh keuntungan karena mereka mengikuti ajang PKB ini difasilitasi pemerintah tanpa dikenai pungutan apapun,” katanya.

  • UMKM
  • Pesta Kesenian Bali

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.