Geopolitik Memanas, Rupiah Terancam Lanjutkan Tren Pelemahan

Selasa, 10 Mar 2026, 00:00 WIB

Perang berkepanjangan antara Iran dan koalisi Israel–AS berisiko menekan rupiah lebih dalam, yang pada akhirnya dapat memicu kenaikan inflasi dan melemahkan daya beli rumah tangga akibat lonjakan harga energi.

JAKARTA – Rupiah dikhawatirkan terus berada dalam tren pelemahan apabila konflik antara Iran dan Israel yang mendapat dukungan Amerika Serikat (AS) tidak segera mereda. Ketegangan geopolitik tersebut meningkatkan ketidakpastian pasar global dan mendorong investor beralih ke aset aman atau safe haven, seperti dollar AS, sehingga memberi tekanan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Ket. Foto: Gejolak Global - Rupiah Terancam Terus Melemah — Sumber: istimewa

Sepanjang tahun ini, rupiah tercatat telah melemah sekitar 178 poin atau sekitar 1,06 persen, mencerminkan kuatnya sentimen eksternal yang memengaruhi pasar keuangan domestik. Kondisi ini menunjukkan bahwa stabilitas nilai tukar masih sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik dan dinamika ekonomi global.

Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai rupiah berisiko tetap berada di level lemah dan masih berpotensi tertekan jika konflik Iran dengan AS dan Israel belum mereda. Dia menjelaskan, situasi semakin tidak pasti akibat proses pergantian kepemimpinan di Iran di tengah perang dan perpecahan elite politik, dengan munculnya sosok Mojtaba Khamenei yang dinilai lebih keras.

“Dalam keadaan seperti ini, pasar cenderung mempertahankan permintaan dollar AS dan mengurangi penempatan dana di negara berkembang, sehingga rupiah sulit pulih cepat,” kata Josua saat dihubungi di Jakarta, Senin (9/3).

Seperti diketahui, nilai tukar rupiah awal pekan ini nyaris menyentuh level psikologis baru, 17 ribu rupiah per dollar AS. Kurs rupiah terhadap dollar AS pada perdagangan Senin (9/3) sore ditutup melemah 24 poin dari akhir pekan lalu menjadi 16.949 rupiah per dollar AS. Bahkan, angka tersebut melampaui penutupan akhir lalu di level 16.771 rupiah per dollar AS dan meninggalkan target pemerintah tahun ini di 16.500 rupiah per dollar AS.

Josua menilai langkah stabilisasi yang dilakukan Bank Indonesia (BI) penting untuk meredam gejolak dan menjaga pergerakan rupiah tetap terkendali, meski belum tentu mampu membalikkan tren pelemahan selama tekanan berasal dari perang, lonjakan harga minyak, dan arus modal global.

Dia juga menilai posisi cadangan devisa Indonesia masih cukup kuat, yakni 151,9 miliar dollar AS atau setara 6,1 bulan impor, sehingga dapat menjadi bantalan stabilitas pasar, meski penggunaannya harus tetap terukur.

Efek Domino

Di sisi lain, ketegangan di kawasan energi seperti Selat Hormuz berpotensi membuat harga minyak bertahan di atas 100 dolar AS dan sangat fluktuatif. “Namun bila konflik berkepanjangan, tekanan akhirnya akan merambat ke biaya angkutan, logistik, pangan, dan barang impor, sehingga daya beli rumah tangga melemah dan tekanan harga domestik meningkat. Risiko ini perlu diwaspadai karena inflasi Februari 2026 sudah tercatat 4,76 persen,” kata Josua.

Sementara itu, Global Markets Economist Maybank Indonesia Myrdal Gunarto menilai rupiah masih berpotensi melemah, namun diperkirakan tidak akan menembus jauh di atas 17.000 rupiah per dollar AS selama BI melakukan intervensi agresif di pasar valas. Menurutnya, cadangan devisa Indonesia masih cukup kuat untuk meredam tekanan, sementara potensi arus keluar modal asing dari pasar saham dan surat utang dinilai relatif terbatas.

Meski demikian, stabilitas cadangan devisa tetap bergantung pada masuknya devisa dari sektor riil, terutama melalui kinerja ekspor dan investasi asing langsung (FDI), sehingga pemerintah perlu menjaga momentum kedua sumber tersebut.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara, Muchamad Ismail

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.