Cegah Kebutaan Permanen Akibat Glaukoma: Kenali Jenis, Gejala, dan Teknologi Terapi Modern di JEC
📅 Selasa, 10 Mar 2026, 23:05 WIB | Oleh: Haryo BronoGlaukoma Sekunder
Terjadi akibat kondisi lain seperti cedera mata, penggunaan obat steroid jangka panjang, diabetes, atau penyakit mata tertentu.
Memahami jenis-jenis ini penting karena pendekatan pemeriksaan dan terapinya dapat berbeda pada setiap pasien. Sebagai pusat layanan kesehatan mata terintegrasi, JEC menempatkan penanganan glaukoma sebagai salah satu fokus utama layanan subspesialis dan rujukan nasional.
Deteksi Dini dan Penanganan Glaukoma untuk Mencegah Kebutaan Permanen
Dr. Zeiras Eka Djamal, SpM(K), Dokter Mata Subspesialis Glaukoma di JEC Group menjelaskan bahwa kerusakan penglihatan akibat glaukoma bersifat permanen, sehingga pencegahan melalui deteksi dini sangat penting. Glaukoma sering disebut sebagai silent thief of sight karena kerusakan saraf optik terjadi secara perlahan tanpa gejala yang jelas.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Banyak pasien baru datang ketika lapang pandangnya sudah menyempit. Dengan diagnosis yang tepat serta pemantauan yang teratur, perkembangan penyakit dapat dikendalikan sehingga kualitas penglihatan pasien tetap terjaga,” jelasnya dalam Media Gathering 7 Iftar JEC di Jakarta pada Selasa (10/3).
Ia menuturkan, diagnosis glaukoma dilakukan melalui beberapa pemeriksaan mata, antara lain pengukuran tekanan bola mata (tonometri), pemeriksaan struktur saraf optik menggunakan Optical Coherence Tomography (OCT), pemeriksaan lapang pandang (visual field test atau perimetri) untuk menilai penglihatan tepi, serta pemeriksaan sudut drainase mata (gonioskopi).
Kombinasi pemeriksaan ini membantu dokter mendeteksi glaukoma sejak dini, memantau perkembangan penyakit, serta menentukan penanganan yang tepat untuk mengontrol tekanan bola mata dan mencegah kerusakan saraf optik lebih lanjut.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Pemeriksaan dini sangat dianjurkan, terutama bagi individu dengan faktor risiko seperti riwayat keluarga glaukoma, usia di atas 40 tahun, serta penderita penyakit sistemik seperti diabetes dan hipertensi,” imbuh Dr. Zeiras.
Pendekatan terapi glaukoma meliputi:
1. Terapi Medikamentosa
Penggunaan obat tetes mata merupakan terapi awal yang paling umum untuk menurunkan tekanan bola mata dengan cara mengurangi produksi cairan mata atau meningkatkan aliran keluar cairan tersebut. Pada kondisi tertentu, dokter juga dapat memberikan obat oral untuk membantu menurunkan tekanan bola mata secara lebih cepat, terutama pada kasus dengan tekanan mata yang sangat tinggi atau sebagai persiapan sebelum tindakan lanjutan.
2. Terapi Laser
Terapi laser menjadi salah satu pilihan penanganan yang efektif dan minimal invasif. Salah satunya adalah Selective Laser Trabeculoplasty (SLT) yang membantu meningkatkan aliran keluar cairan mata melalui jaringan trabekular sehingga tekanan bola mata menurun.
Prosedur tersebut biasanya berlangsung sekitar 5–10 menit, tidak memerlukan sayatan, dan pasien umumnya dapat kembali beraktivitas setelah tindakan. Selain itu, pada kasus glaukoma sudut tertutup, dokter dapat melakukan Laser Peripheral Iridotomy (LPI) untuk membuat jalur kecil pada iris guna memperlancar aliran cairan mata dan mencegah peningkatan tekanan bola mata secara mendadak.
3. Tindakan Operasi
Apabila tekanan bola mata tidak dapat dikontrol secara optimal dengan obat maupun terapi laser, tindakan operasi dapat dilakukan untuk membantu mengalirkan cairan mata dan menurunkan tekanan bola mata. Beberapa prosedur yang dapat dilakukan antara lain:
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!