Prevalensi Obesitas Indonesia Capai 23,4%, Kemenkes dan Nutrifood Tekankan Pentingnya Baca Label Pangan
Rabu, 04 Mar 2026, 00:20 WIBJAKARTA â Prevalensi obesitas nasional pada penduduk berusia di atas 18 tahun mengalami peningkatan menurut laporan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Angka ini naik dari 21,8% pada tahun 2018 menjadi 23,4% pada tahun 2023.
Obesitas adalah kondisi medis yang disebabkan oleh konsumsi kalori yang berlebihan dalam jangka panjang, yang bersumber dari makanan dan minuman yang dikonsumsi, baik dalam bentuk pangan olahan maupun siap saji.
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM), Kementerian Kesehatan RI Dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid menjelaskan bahwa data prevalensi obesitas di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Ini menegaskan bahwa obesitas adalah penyakit kronis yang berdampak serius terhadap kesehatan dan bukan sekadar persoalan penampilan atau gaya hidup semata.
âSebagian besar asupan kalori harian masyarakat sebenarnya masih berasal dari pangan olahan dan siap saji. Karena itu, yang terpenting adalah menerapkan pola makan seimbang, memperhatikan porsi, serta menghindari konsumsi berlebihan agar risiko obesitas dapat ditekan,â paparnya dalam acara media briefing bertajuk Cermin Memilih Pangan Olahan untuk Mencegah Obesitas di Jakarta pada hari Selasa (3/3).
âDi tengah gaya hidup modern, konsumsi pangan olahan tidak dapat dihindari. Namun, masyarakat perlu mampu mengenali informasi nilai gizi dan komposisi pada kemasan, sehingga pangan olahan yang dikonsumsi justru dapat membantu mengurangi risiko obesitas. Gunakan bulan Ramadhan ini untuk kita mengurangi takaran konsumsi gula, garam, dan lemak,â terangnya.
Bertepatan dengan Hari Obesitas Sedunia, Nutrifood bersama dengan Kementerian Kesehatan RI mengajak masyarakat untuk cermat dalam memilih pangan olahan guna mencegah obesitas. Program ini merupakan bagian dari kampanye edukatif #BatasiGGL sebagai upaya pencegahan penyakit tidak menular yang telah dilakukan oleh Nutrifood bersama dengan Kementerian Kesehatan dan BPOM sejak tahun 2013.
Kampanye #BatasiGGL yang telah dilakuka berulang kali bertujuan mengingatkan masyarakat untuk membatasi konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL), serta meningkatkan literasi membaca label kemasan pangan olahan.
âPangan olahan dan siap saji yang beredar saat ini sangat beragam. Konsumen tetap perlu memperhatikan informasi pada label kemasan, seperti takaran saji, energi total, persentase AKG, serta komposisi bahan. Dengan memahami informasi tersebut, masyarakat dapat mengontrol asupan gula, garam, dan lemak sesuai kebutuhan hariannya,âkata Head of Strategic Marketing Nutrifood, Susana, S.T.P., M.Sc., PD.Eng.
Dari perspektif akademisi, Direktur SEAFAST Center IPB, Dr. Puspo Edi Giriwono, S.T.P., M.Agr., menjelaskan bahwa sebenarnya teknologi pangan modern dirancang untuk menjamin keamanan dan kualitas produk, masa simpan hingga pengurangan dampak lingkungan. Namun, tantangan yang muncul adalah bagaimana masyarakat memahami proses pengolahan, bahan, dan ingredien yang digunakan, serta informasi yang tertera di kemasan.
Pangan olahan adalah bagian dari sistem pangan modern yang dihasilkan melalui proses berlandaskan sains dan teknologi untuk meningkatkan keamanan, mutu, masa simpan, dan kemudahan konsumsi, sehingga dapat memenuhi kebutuhan masyarakat sehari-hari.
Bahan tambahan pangan yang tercantum pada kemasan digunakan untuk menghasilkan produk yang baik dan telah melalui kajian keamanan serta batas aman konsumsi, sehingga aman dikonsumsi sesuai ketentuan. Proses pengolahan pangan yang direkomendasikan adalah proses yang mengutamakan keamanan, menjaga kualitas gizi, serta mengikuti standar dan regulasi yang berlaku, sehingga produk tetap aman dan bernilai gizi.
âEdukasi publik menjadi kunci penting untuk menurunkan risiko obesitas tanpa harus membatasi akses pangan. Dengan pemahaman yang baik, masyarakat dapat memilih pangan secara lebih bijak dan bertanggung jawab, serta berperan aktif dalam upaya mencegah obesitas,â ujar Puspo.
Susana mengatakan, Nutrifood sebagai produsen makanan dan minuman kesehatan berkomitmen dalam mendukung upaya pencegahan obesitas di Indonesia melalui penyediaan produk yang aman, berkualitas, dan bernutrisi.
âSebagai bagian dari solusi, Nutrifood secara konsisten menjalani kampanye #BatasiGGL melalui inisiatif berkelanjutan, mulai dari inovasi produk, program edukasi literasi gizi, hingga kolaborasi dengan berbagai pihak,â ujar Susana.
- Kementrian Kesehatan
- Obesitas
- Kesehatan Masyarakat
- siti nadia tarmizi
- nutrifood
- literasi gizi
- Hari Obesitas sedunia
- Pangan Olahan
- #BatasiGGL
- Label Pangan
- SEAFAST Center IPB
- Gula Garam Lemak
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Haryo Brono
Berita Terkait:
-
Trump Ingin Capai Kesepakatan Besar dengan Iran
-
Menko Kumham Dorong Polri Jadi Pilar Keadilan Humanis Nasional
-
Cuaca Jakarta Hari Ini: Pagi hingga Siang Berawan Tebal, Sore Hujan Ringan
-
BRIN Kembangkan Riset Monitoring Real Time Cegah Kecelakaan Kereta
-
Krisis Energi Menghantui: Australia Jamin Stok Bahan Bakar Aman
-
Tak Perlu Khawatir, Distan Pastikan Hewan Kurban di Aceh Besar Aman
-
Panglima TNI Hadiri Silaturahmi Nasional Ormas Islam dan Halal Bihalal Idul Fitri 1447 H MUI
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.