Jadi Produsen Utama, RI Perkuat Posisi sebagai Pusat Grinding Kakao Global
Selasa, 03 Mar 2026, 16:07 WIBJAKARTA-Sektor industri pengolahan kembali menunjukkan peran strategisnya sebagai motor penggerak perekonomian nasional dengan kinerja yang terus menunjukkan penguatan sepanjang tahun 2025. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan industri pengolahan tahun 2025 telah mencapai 5,30 persen, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat sebesar 5,11 persen.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan bahwa kinerja positif tersebut tidak terlepas dari kontribusi industri agro yang konsisten menjadi penopang utama industri pengolahan nonmigas.
âPer Desember 2025 industri agro mencatatkan kontribusi sebesar 52,09 persen terhadap PDB industri pengolahan non migas. Capaian ini menunjukkan peran penting sektor industri agro dalam memperkuat struktur industri nasional,â ungkap Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita di Jakarta, Selasa (3/3).
Menperin menegaskan, Kemenperin terus berkomitmen untuk memperkuat daya saing industri agro, termasuk penguatan industri pengolahan kakao nasional. Kemenperin bersama dengan Asosiasi Kakao Indonesia (ASKINDO) menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu tumpuan industri pengolahan kakao (grinding) di kawasan Asia dan Global.Â
âSejak tahun 2025 ketersediaan bahan baku biji kakao dalam negeri menunjukkan tren peningkatan sehingga memacu kami untuk memperkuat kapasitas grinding dalam negeri,â kata Menperin.Â
Produsen utama global
Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika, menjelaskan bahwa pada tahun 2024 terjadi disrupsi pasokan biji kakao secara global, khususnya dari Afrika Barat. Hal ini berdampak signifikan terhadap penurunan aktifitas grinding di berbagai negara pengolah kakao.Â
Memasuki tahun 2025, pasokan biji kakao dalam negeri mulai meningkat dan mampu menopang industri pengolahan kakao nasional sebesar 4.43% dengan volume grind 422.176 ton. Industri ini juga berkontribusi terhadap devisa negara sebesar USD 3,42 miliar.Â
âPrestasi ini menempatkan Indonesia sebagai produsen kakao olahan keempat terbesar di dunia. Saat ini, Indonesia telah menyuplai 8,46 persen kebutuhan kakao olahan global, meliputi cocoa butter, cocoa liquor, cocoa cake, dan cocoa powder,â jelas Putu.Â
Menurutnya, posisi tersebut mempertegas peran strategis Indonesia dalam rantai pasok dunia untuk menangkap peluang ketika permintaan global kembali meningkat pada periode mendatang.
Dalam rangka menjawab tantangan keterbatasan bahan baku, pemerintah secara konsisten telah menerapkan berbagai langkah strategis untuk meningkatkan produksi biji kakao domestik, seperti integrasi komoditas kakao ke dalam Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP). Program BPDP akan difokuskan pada peningkatan kapasitas sumber daya manusia kakao dari hulu hingga hilir secara berkelanjutan, revitalisasi kebun kakao, serta penguatan riset dan inovasi.Â
Sebagai bentuk komitmen penguatan hilirisasi, Kemenperin juga mengalokasikan anggaran restrukturisasi mesin dapat dimanfaatkan industri pengolahan kakao dan cokelat.Â
âDukungan ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi produksi dan memperkuat daya saing industri kakao dalam negeri di pasar global,â imbuh Putu. Â
Dari sisi kebijakan global, penundaan implementasi European Union Deforestation Regulation (EUDR) dan pemberian tarif 0 persen dari Amerika Serikat terhadap produk kakao dan cokelat Indonesia dinilai memberikan ruang ekspansi yang lebih luas bagi Indonesia serta memberikan peluang ekspor produk kakao olahan nasional.Â
Salah satu wujud eksistensi Indonesia dalam ekosistem perkakaoan global adalah peran Indonesia yang akan menjadi tuan rumah The 9th Indonesia International Cocoa Conference (IICC) yang diselenggarakan pada 22â24 Juli 2026 di Yogyakarta dengan tema âThe Rise of Indonesian Cocoa: The Pearl of Asia for the World.â Konferensi ini diharapkan menjadi forum strategis bagi pelaku industri, pemangku kepentingan, dan mitra internasional untuk memperkuat kolaborasi dan mendorong transformasi industri kakao nasional.Â
âKami optimistis bahwa sinergi kebijakan huluâhilir, penguatan produktivitas bahan baku, serta modernisasi industri akan semakin memperkokoh posisi Indonesia sebagai pusat pertumbuhan industri kakao Asia dan pemain utama dalam rantai pasok kakao dunia,â pungkas Putu.
- Industri Nasional
- Kementerian Perindustrian
- Biji Kakao
- Menperin Agus Gumiwang
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
Lawan Serbuan Impor! Kemenperin Resmikan Pabrik Kawat Baja Rp300 M di Subang, 40% Buat Ekspor
-
Perkuat Ekosistem, Kemenperin Libatkan IKM Komponen Masuk Rantai Pasok Kendaraan Listrik
-
Setop Jadi Penonton! Kemenperin Bongkar Jurus Cetak SDM Industri Jemput Investasi Tiongkok
-
Jaga Keberlanjutan, Kemenperin Dorong Rumah Sakit Patuhi Standar Lingkungan
-
Kemenperin: Asesor Kompetensi Kunci Transformasi Manufaktur yang Adaptif
-
Dampak Geopolitik Global, Harga Referensi CPO dan Biji Kakao Kompak Naik di Bulan Mei
-
Bungkus Produk Asal-asalan? Menperin: IKM Bisa Kalah Saing Kalau Kemasan Nggak Naik Kelas
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.