Industri Pengolahan Penopang Utama Ekspor Jakarta

Selasa, 03 Mar 2026, 01:15 WIB

JAKARTA - Sepanjang Januari, Pemprov Jakarta mampu mengeruk penghasilan ekspor sebesar 1,55 miliar dollar AS. Ekspor ditopang industri pengolahan. Angka ini naik 9,21 persen dibanding Januarai tahun lalu. “Pertumbuhan ini secara dominan masih didorong oleh sektor nonmigas,” tandas Kepala BPS Jakarta, Kadarmanto, Senin (2/3).

Jumlah ekspor nonmigas mencapai 1.545 juta dollar AS. Besaran ini meningkat sebesar 8,64 persen dibanding tahun sebelumnya. Kadarmanto meneruskan, nonmigas ditopang industri pengolahan dengan pertumbuhan sebesar 11,38 persen secara tahunan. Industri pengolahan juga menjadi pendorong utama pertumbuhan ekspor Jakarta. Nilai ekspor industri pengolahan Januari ini mencapai 1,51 miliar dollar AS.

Ket. Foto: Kepala BPS DKI Jakarta Kadarmanto di Jakarta, Senin (2/3). — Sumber: ANTARA/Lia Wanadriani Santosa.

“Peningkatan sektor manufaktur inilah yang menjadi motor utama pertumbuhan ekspor Jakarta di awal tahun,” ujar Kadarmanto. Di sisi lain, terdapat dinamika yang sangat kontras untuk sektor-sektor lainnya. Contoh, sektor pertambangan dan lainnya tumbuh 2.671 persen, meskipun secara nilai nominal kontribusinya masih sangat kecil, hanya 0,0045 juta dollar AS.

Demikian pula dengan sektor migas, yang juga tercatat tumbuh signifikan sebesar 468,75 persen secara tahunan. “Namun demikian, sektor pertanian mengalami kontraksi 52,77 persen dari periode yang sama pada tahun lalu,” tutur Kadarmanto. Secara kumulatif, nilai ekspor Jakarta sepanjang Januari-Desember tahun lalu mencatat performa positif mencapai 17,51 miliar dollar AS. Angka ini melonjak 27,16 persen dari tahun sebelumnya.

“Pertumbuhan ini sepenuhnya didorong komoditas nonmigas yang meningkat 27,28 persen. Dominasi sektor nonmigas dipertegas kontribusi industri pengolahan yang memegang pangsa pasar sebesar 97,14 persen dari total ekspor Jakarta,” ungkap Kadarmanto.

Lebih lanjut, Kadarmanto menyebutkan, ekspor komoditas unggulan sepanjang tahun lalu menunjukkan tren penguatan positif yang didominasi alas kaki sebagai kontributor terbesar,
sektor kendaraan dan bagiannya. Sector ini memberikan andil 16,39 persen. Kemudian, logam mulia dan perhiasan yang menyumbang 15,11 persen dari total ekspor.

Negara tujuan utama ekspor selama Januari-Desember adalah Amerika Serikat. AS menjadi mitra dagang nomor satu dengan nilai ekspor mencapai 2.250,29 juta dollar AS. Produk alas kaki mendominasi hampir setengah dari total ekspor ke AS.

Inflasi

Sementara itu, Kadarmanto juga mengungkapkan bahwa Jakarta mencatat inflasi tahunan 4,91 persen pada bulan Februari dibanding bulan Februari tahun lalu. Inflasi disebabkan diskon tarif listrik. “Tingginya inflasi Februari ini akibat low-base effect,” jelas Kadarmanto. Pada bulan Maret dan April lalu, diskon tarif listrik berakhir. Ini mmebuat inflasi yang cukup tinggi pada dua bulan tersebut. Maka, inflasi tahunan pada bulan Februari ini tercatat cukup tinggi.

Lebih lanjut, dia menyebutkan tarif listrik yang menjadi komoditas penyumbang utama inflasi tahunan memberikan andil sebesar 2,89 persen. Listrik diikuti emas perhiasan dengan andil 0,99 persen. Kemudian, daging ayam ras dengan andil 0,24 persen. Bawang merah 0,07 persen, dan biaya sekolah menengah pertama 0,05 persen.

Sementara itu, berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi Februari secara tahunan didominasi kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 2,93 persen. Secara bulanan, sambung Kadarmanto, Jakarta tercatat mengalami inflasi 0,63 persen pada bulan Februari dari bulan Januari. Ini lebih rendah dari angka nasional yang mencapai 0,68 persen.

Penyumbang inflasi bulanan Februari adalah emas perhiasan 9,61 persen sehingga memberikan andil terhadap inflasi Jakarta sebesar 0,21 persen. Inflasi daging ayam ras 0,13 persen, diikuti cabai rawit 0,05 persen, bawang merah 0,03 persen, dan bayam 0,03 persen.

Kadarmanto mencatat daging ayam ras menjadi komoditas yang hampir selalu memberikan andil inflasi tinggi di Jakarta saat puasa sampai lebaran dalam lima tahun terakhir. Ini perlu menjadi perhatian. “Daging ayam ras ini mesti menjadi perhatian agar tidak melonjak saat lebaran,” tandasnya. Memang diakui, pada bulan puasa dan lebaran permintaan ayam ras selalu tinggi, sehingga melonjakkan inflasi musiman.

  • ekspor jakarta

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Aloysius Widiyatmaka, Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.