Terdampak Agresi AS ke Iran, 2 Maret 2026
Senin, 02 Mar 2026, 05:50 WIBJAKARTA â Rupiah berpotensi melemah pada awal peÂkan ini akibat meningkatnya ketegangan geopolitik setelah agresi militer Amerika Serikat (AS) ke Iran, yang memiÂcu sentimen risk-off di pasar keuangan global. Konflik ini mendorong investor mengalihkan dana dari aset berisiÂko di negara berkembang seperti Indonesia menuju aset aman seperti dollar AS, sehingga memperkuat dollar dan menekan rupiah.
Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi meÂlihat serangan AS-Israel ke Iran berpotensi membuat pergeÂrakan rupiah melemah. Serangan ini dilakukan setelah PresiÂden AS Donald Trump tidak puas dengan pertemuan antara delegasi AS dan delegasi Iran terkait reaktor nuklir dan misil.
Ibrahim memproyeksikan kurs rupiah terhadap dollar AS dalam perdagangan di pasar uang antarbank, Senin (2/3), bergerak fluktuatif namun ditutup melemah direnÂtang 16.790 â 16.820 rupiah per dollar AS.
Sebelumnya, nilai tukar rupiah pada penutupan perdaÂgangan di Jakarta, Jumat (27/2), bergerak melemah 28 poin atau sekitar 0,17 persen dari sehari sebelumnya menjadi 16.787 rupiah per dollar AS. âPelemahan kurs rupiah seÂiring adanya ketegangan geopolitik antara Iran dengan AS,â ujar Ibrahim.
Dia menyampaikan bahwa pembicaraan AS-Iran meÂngenai ambisi nuklir Teheran berakhir pada Kamis (26/2) tanpa kesepakatan yang jelas. Namun, kedua pihak mengÂisyaratkan bahwa mereka akan segera melanjutkan negoÂsiasi, dengan diskusi tingkat teknis juga akan berlangsung minggu depan di Wina, kata mediator Oman.
Ketidakpastian yang meningkat atas perekonomian AS juga menjadi sentimen lain, terutama pasca putusan MahÂkamah Agung AS membatalkan sebagian besar tarif perdaÂgangan Presiden AS Donald Trump. Trump menanggapi dengan mengumumkan tarif baru di bawah kerangka huÂkum yang berbeda, dan mengancam akan memberlakukan lebih banyak bea masuk, membuat pasar tetap waspada terhadap kemungkinan gangguan ekonomi lebih lanjut akibat bea masuk tersebut.
Selain itu, pasar sedang menilai kembali jalur kebijakan moneter Fed karena para pembuat kebijakan tetap khawatir tentang inflasi yang tinggi. âPasar secara luas memperkiraÂkan bank sentral akan mempertahankan suku bunga tidak berubah pada pertemuan di bulan Maret dan April,â ujar dia.
Sementara penurunan suku bunga pada bulan Juni, yang sebelumnya dianggap sebagai waktu yang paling mungkin bagi The Fed untuk melanjutkan pelonggaran kebijakan moneter, lanjut Ibrahim, kini tampaknya kuÂrang pasti. Menurut CME FedWatch Tool, pasar sekarang melihat pertemuan di bulan Juli sebagai waktu yang lebih mungkin untuk penurunan suku bunga berikutnya, deÂngan probabilitas sekitar 66 persen.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara, Muchamad Ismail
Berita Terkait:
-
Perkuat Energi Hijau untuk Tarik Investasi Global
-
Psikolog: Korban Kecelakaan KA Berisiko Alami Gangguan PTSD, Trauma Healing Penting!
-
Hasil Piala Jerman: Bayern Muenchen ke Final Usai Singkirkan Bayer Leverkusen 2-0
-
BI Ungkap Kinerja QRIS Global di Bali, Nilainya Cukup Fantastis
-
Pengamat: Roblox dan YouTube Wajib Patuhi Aturan Perlindungan Anak di Ruang Digital
-
Pelemahan Rupiah Uji Ketahanan Likuiditas Perbankan Syariah
-
Cegah Pelarian Modal, BI Diperkirakan Menaikkan Bunga Acuan di Semester I-2026
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.