Impor Pertanian RI–AS Dipastikan Tak Bebani APBN

Senin, 02 Mar 2026, 01:30 WIB

AS merupakan mitra dagang strategis sekaligus tujuan ekspor terbesar kedua Indonesia.

Jakarta — Pemerintah menegaskan komitmen fasilitasi impor produk pertanian senilai 4,5 miliar dollar AS dalam kerangka Agreement on Reciprocal Trade (ART) Indonesia–Amerika Serikat (AS) tidak membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Ket. Foto: Haryo Limanseto Jubir Kemenko Perekonomian - Pemerintah hanya berperan sebagai regulator dan penjaga standar mutu, sementara keputusan transaksi dan pembiayaan sepenuhnya berada pada sektor swasta. — Sumber: antara

Seperti dikutip dari Antara, Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto mengatakan komitmen tersebut merupakan dukungan kebijakan pemerintah untuk memperlancar kerja sama antarbisnis (business to business/B2B) antara pelaku usaha kedua negara, bukan pembelian yang dibiayai APBN.

“Pemerintah hanya berperan sebagai regulator dan penjaga standar mutu, sementara keputusan transaksi dan pembiayaan sepenuhnya berada pada sektor swasta,” ujar Haryo dalam pernyataan tertulis di Jakarta, Minggu (1/3).

Ia menjelaskan komitmen pembelian komoditas pertanian dari AS tersebut telah ditindaklanjuti melalui nota kesepahaman (MoU) antarperusahaan terkait. Penandatanganan dilakukan dalam dua tahap, yakni pada 7 Juli 2025 dan pada ajang Indonesia–AS Business Summit, 19 Februari 2026, dengan dukungan Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) serta Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo).

Kemenko Perekonomian mencatat AS merupakan mitra dagang strategis sekaligus tujuan ekspor terbesar kedua Indonesia. Pada 2025, ekspor Indonesia ke AS mencapai 31 miliar dollar AS atau sekitar 11 persen dari total ekspor nasional sebesar 282,9 miliar dollar AS.

Menurut Haryo, menjaga akses pasar AS melalui pendekatan perdagangan yang seimbang merupakan langkah rasional untuk melindungi daya saing produk nasional sekaligus mendukung kepentingan industri dalam negeri.

Ia menambahkan Indonesia selama ini mengimpor sejumlah komoditas, seperti gandum, yang menjadi bahan baku utama industri pengolahan, termasuk makanan olahan berorientasi ekspor. Dengan opsi pasokan yang lebih luas dan kompetitif, pelaku usaha diharapkan memperoleh bahan baku yang stabil, berkualitas, dan berharga bersaing.

Terkait proporsi impor, pada 2025 total impor komoditas pertanian Indonesia dari AS tercatat sekitar 1,21 miliar dollar AS, sedangkan impor dari negara lain mencapai 13,2 miliar dollar AS. Dengan demikian, porsi impor pertanian dari AS sekitar 9,2 persen.

Tetap Berlaku

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan tarif dagang Indonesia dengan AS turun dari 19 persen menjadi 15 persen, menyusul keputusan Mahkamah Agung AS yang membatalkan kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump serta rencana penerapan tarif global 15 persen.

“Dapat diskon jadi 15 persen,” kata Airlangga.

Ia menambahkan hasil akhir negosiasi tarif dagang Indonesia–AS dalam dokumen ART tetap berlaku setelah melewati masa 90 hari dan proses ratifikasi.

Dalam perjanjian tersebut, sebanyak 1.819 pos tarif produk Indonesia memperoleh fasilitas pembebasan bea masuk hingga nol persen. Produk yang tercakup antara lain minyak sawit, kopi, kakao, rempah-rempah, karet, komponen elektronik termasuk semikonduktor, hingga komponen pesawat terbang.

Selain itu, kedua negara juga menyepakati penghapusan tarif bea masuk nol persen untuk produk tekstil dan garmen Indonesia melalui skema kuota tertentu.

Airlangga memastikan fasilitas tersebut tetap berlaku dan diharapkan mampu memperluas ekspansi pasar ekspor nasional.

  • hubungan dagang

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.