Bank Dunia Sebut Tidak Menemukan Kesetaraan Bagi Perempuan Di Lingkungan Kerja

Rabu, 25 Feb 2026, 19:00 WIB

WASHINGTON DC - Bank Dunia pada Selasa (24/2), mengatakan tidak ada lingkungan kerja di mana pun di dunia yang memiliki kesetaraan penuh bagi perempuan dan hanya sebagian kecil  yang tinggal di negara-negara dengan pasar tenaga kerja yang mendekati kesetaraan tersebut. 

Bahkan ketika undang-undang kesetaraan di tempat kerja disahkan oleh para pembuat undang-undang, undang-undang tersebut benar-benar ditegakkan hanya dalam sekitar setengah dari semua kasus, kata bank tersebut dalam sebuah laporan tentang perempuan, bisnis, dan hukum.

Ket. Foto: Ilustrasi — Sumber: Antara

“Bahkan di negara-negara dengan ekonomi yang telah memodernisasi hukumnya, perempuan masih menghadapi kendala yang membentuk pekerjaan yang dapat mereka lakukan, bisnis yang dapat mereka mulai, dan keamanan yang mereka butuhkan untuk mengejar peluang,” kata  Indermit Gill, kepala ekonom lembaga pemberi pinjaman tersebut.

Laporan ini tidak hanya menilai undang-undang kesetaraan yang telah disahkan, tetapi juga layanan publik yang dibuat untuk membantu perempuan di tempat kerja dan memastikan undang-undang tersebut ditegakkan.

Bank tersebut menegaskan bahwa reformasi diperlukan karena 1,2 miliar anak muda – setengahnya perempuan – akan memasuki dunia kerja dalam dekade mendatang.

“Banyak yang akan mencapai usia dewasa di wilayah di mana perempuan menghadapi hambatan terbesar, dan di mana peningkatan PDB yang akan dihasilkan dari partisipasi mereka sangat dibutuhkan,” kata Tea Trumbic, penulis utama laporan tersebut.

Dan memastikan akses yang setara di tempat kerja bagi perempuan tidak hanya menguntungkan mereka tetapi juga masyarakat secara umum, demikian argumen laporan tersebut.

Bahkan, di negara-negara di mana perempuan memiliki lebih banyak kesempatan, tingkat partisipasi angkatan kerja laki-laki juga lebih tinggi, demikian menurut laporan tersebut.

Laporan ini menyebutkan bahwa negara-negara dengan ekonomi maju memiliki kondisi yang paling menyerupai kesetaraan, dengan Spanyol berada di posisi teratas. Negara-negara di Timur Tengah dan Pasifik jauh tertinggal.

Kemajuan paling signifikan dalam mengurangi kesenjangan kesetaraan di tempat kerja terjadi di negara-negara berpenghasilan rendah dan berkembang seperti Mesir, Madagaskar, atau Somalia.

Di negara-negara ini, berbagai upaya dilakukan untuk mengurangi pembatasan bagi perempuan untuk memasuki bidang-bidang tertentu, memberlakukan upah yang sama untuk pekerjaan yang sama, dan memberikan cuti orang tua.

Secara keseluruhan, hampir 70 negara menyetujui sekitar 100 reformasi dari tahun 2023 hingga 2025 yang bertujuan untuk memberikan perempuan akses lebih besar ke pasar kerja dan dunia bisnis.

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: AFP, Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.