GSW Terintegrasi Tol Semarang–Demak Bukan Wacana, BOPPJ Sebut Sudah Dibahas

Senin, 23 Feb 2026, 17:35 WIB

JAKARTA – Pembangunan Giant Sea Wall (GSW) yang terintegrasi dengan Tol Semarang–Demak merupakan langkah strategis untuk menjawab tantangan banjir rob, abrasi, dan penurunan muka tanah di pesisir utara Jawa Tengah.

Integrasi ini memungkinkan fungsi proteksi pesisir berjalan beriringan dengan penguatan konektivitas transportasi, sehingga infrastruktur tidak hanya berperan sebagai tanggul laut, tetapi juga sebagai koridor ekonomi.

Ket. Foto: Foto udara alur muara Sungai Banjir Kanal Timur Semarang lama pada masa kolonial Belanda 1896-1903 yang menjadi dermaga sekaligus tanggul laut perkampungan nelayan Tambaklorok pascarevitalisasi 2015-2024. — Sumber: ANTARA/Aji Styawan.

Secara ekonomi, keberadaan GSW yang terhubung dengan tol dapat melindungi kawasan industri, pelabuhan, serta permukiman padat dari risiko kerugian akibat genangan berkepanjangan.

Pendekatan terpadu ini juga mencerminkan efisiensi pembiayaan, karena satu proyek melayani dua kepentingan sekaligus: mitigasi bencana dan peningkatan mobilitas logistik.

Jika dirancang berbasis proyeksi perubahan iklim jangka panjang dan tata ruang yang disiplin, integrasi GSW dan Tol Semarang–Demak berpotensi menjadi model infrastruktur adaptif bagi wilayah pesisir lainnya.

Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ) mengatakan kemungkinan Tanggul Laut Raksasa atau Giant Sea Wall (GSW) nantinya terintegrasi dengan Tol Semarang-Demak sudah dibicarakan oleh pemerintah.

"Ada, sudah dibicarakan," ujar Kepala BOPPJ Didit Herdiawan Ashaf dalam media briefing di Jakarta, Senin (23/2).

Pemerintah Republik Indonesia melalui BOPPJ menegaskan bahwa pengembangan sistem perlindungan pesisir Pantura Jawa, termasuk Tanggul Laut Raksasa atau Giant Sea Wall (GSW), merupakan bagian dari strategi nasional untuk menjaga keberlanjutan peradaban pesisir Pantura Jawa.

Perlindungan pesisir yang dikembangkan tidak dimaknai semata sebagai pembangunan tanggul laut, melainkan sebagai sistem terintegrasi yang mengombinasikan tanggul laut (offshore dike), tanggul pantai (onshore dike), serta solusi berbasis alam (nature-based solutions) seperti penguatan ekosistem mangrove.

Wilayah Pantai Utara Jawa, menurut dia, menghadapi tantangan serius berupa penurunan muka tanah, kenaikan muka air laut, banjir akibat hujan, serta banjir rob yang berdampak pada permukiman, kawasan industri, pelabuhan, bandara, lahan pertanian, berkurangnya garis pantai dan daratan, serta infrastruktur strategis nasional.

Saat itu sekitar 17 juta penduduk berada di wilayah terdampak, sementara kawasan tersebut memiliki kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional.

Secara konseptual, Didit mengatakan sistem perlindungan pesisir Pantura Jawa direncanakan mencakup wilayah sepanjang kurang lebih 535 kilometer yang tersebar di lima provinsi yakni Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, serta lima wilayah kota dan 25 wilayah kabupaten.

Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo mengatakan Jalan Tol Semarang-Demak akan terintegrasi dengan Tanggul Laut Raksasa/Giant Sea Wall sekaligus untuk menanggulangi rob yang kerap terjadi di Semarang dan sekitarnya serta kawasan industri Terboyo.

Dody mengatakan pembangunan Jalan Tol Semarang-Demak yang terintegrasi dengan tanggul laut ini, diharapkan menjadi solusi permanen permasalahan banjir rob di kawasan Semarang, khususnya pada Jalur Pantura Semarang-Demak.

Kementerian Pekerjaan Umum bersama Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) terus mempercepat penyelesaian pembangunan Jalan Tol Semarang-Demak Seksi 1 Kaligawe - Sayung sepanjang 10,64 km. Tol Semarang – Demak Seksi 1 Kaligawe-Sayung dibangun di atas laut dengan progres fisik secara keseluruhan mencapai 44,26 persen (per 12 Juni 2025).

Pembangunan ruas tol ini terbagi menjadi 3 paket pekerjaan, yakni Paket 1 A dengan penyedia jasa Hutama Karya (HK) dan Beijing Urban Construction Group (BUCG) dengan progres fisik 65,92 persen, Paket 1B dikerjakan Pembangunan Perumahan (PP), Wijaya Karya (WIKA) dan China Road and Bridge Corporation (CRBC) dengan progres 42,97 persen serta Paket 1C oleh Adhi Karya - Sinohydro dengan progres 22,77 persen.

Secara keseluruhan, Tol Semarang - Demak memiliki total panjang 26,95 km yang dibangun dalam 2 seksi yakni Seksi 1 Kaligawe - Sayung sepanjang 10,64 km yang berada di atas laut dan Seksi 2 ruas Sayung - Demak sepanjang 16,31 km yang berada di daratan dan telah beroperasi sejak 25 Februari 2023.

  • "Giant Sea Wall"
  • BOPPJ

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.