- Home
-
- Luar Negeri
-
- AS dan Iran akan Masuk Put...
AS dan Iran akan Masuk Putaran Pembicaraan Nuklir Baru di Jenewa
Senin, 16 Feb 2026, 01:01 WIBGENEVA - Swiss pada Sabtu (14/2), menyatakan bahwa Oman akan menjadi tuan rumah pembicaraan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Jenewa pekan depan, dengan Washington mendorong Teheran mencapai kesepakatan untuk membatasi program nuklirnya.
âSwiss setiap saat siap menawarkan jasa baiknya untuk memfasilitasi dialog antara Amerika Serikat dan Iran,â kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Swiss kepada AFP.
Pada 6 Februari, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menggelar pembicaraan di Oman dengan utusan AS Steve Witkoff serta menantu Presiden AS Donald Trump yang berpengaruh, Jared Kushner. Pembicaraan tersebut berlangsung secara tidak langsung, dengan Oman bertindak sebagai mediator.
Trump belakangan memusatkan ancaman militernya pada program nuklir Teheran, yang sebelumnya menjadi sasaran serangan pasukan AS pada Juni lalu saat perang 12 hari yang belum pernah terjadi sebelumnya antara Israel dan Iran.
Setelah pembahasan awal, Presiden AS Donald Trump memperingatkan Teheran bahwa kegagalan mencapai kesepakatan dengan pemerintahannya akan menjadi sesuatu yang âsangat traumatisâ.
Trump berulang kali mengancam akan menggunakan kekuatan militer untuk memaksa Iran menyetujui pembatasan program nuklirnya. Iran menyatakan akan membalas dengan serangan jika hal itu terjadi.
Trump juga mengancam Iran terkait tindakan keras mematikan terhadap gelombang demonstrasi nasional baru-baru ini.
Negara-negara Arab di kawasan Teluk memperingatkan bahwa serangan apa pun berpotensi memicu konflik regional baru.
Trump pada Jumat mengatakan kapal induk terbesar di dunia, USS Gerald R. Ford, dikirim dari kawasan Karibia menuju Timur Tengah untuk bergabung dengan aset militer AS lainnya yang telah ditempatkan di wilayah tersebut.
Ia juga menyebut perubahan kekuasaan di Iran âakan menjadi hal terbaik yang bisa terjadiâ.
Wakili AS
Swiss telah memainkan peran penting dalam hubungan diplomatik antara Iran dan AS selama beberapa dekade.
Dikenal karena netralitasnya, Swiss mewakili kepentingan AS di Iran sejak Washington memutus hubungan diplomatik dengan Teheran setelah krisis penyanderaan tahun 1980, setahun setelah Revolusi Iran.
Dalam perannya sebagai âprotecting powerâ, Swiss selama puluhan tahun memungkinkan kedua negara yang berseteru tetap menjaga hubungan diplomatik dan konsuler pada tingkat minimum.
Kedutaan Besar Swiss di Teheran menangani seluruh urusan konsuler antara AS dan Iran, termasuk permohonan paspor, perubahan status sipil, serta perlindungan konsuler bagi warga negara AS di Iran.
Dalam mandat tersebut, âSwiss dapat menawarkan diri sebagai perantara atas inisiatif sendiri atau menjalankan fungsi itu atas permintaan pihak terkait, selama semua pihak menyetujuinya,â demikian keterangan Kementerian Luar Negeri Swiss di situs resminya.
Pengayaan Uranium
Pemerintahan Trump menegaskan bahwa Iran tidak boleh melakukan pengayaan uranium dalam kesepakatan apa pun. Namun Teheran menyatakan tidak akan menyetujui hal tersebut.
Iran bersikeras program nuklirnya bertujuan damai, meskipun sejumlah pejabatnya semakin sering mengancam akan mengembangkan senjata nuklir. Sebelum perang Juni lalu, Iran diketahui telah memperkaya uranium hingga tingkat kemurnian 60 persen, hanya selangkah secara teknis dari tingkat senjata.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan negaranya âsiap untuk segala bentuk verifikasiâ. Namun Badan Energi Atom Internasional (IAEA) milik PBB selama beberapa bulan terakhir tidak dapat melakukan inspeksi dan verifikasi terhadap stok nuklir Iran.
Dalam beberapa pekan terakhir, Trump menyebut prioritas utamanya adalah agar Iran mengurangi program nuklirnya. Iran menegaskan pembicaraan seharusnya hanya berfokus pada isu nuklir.
- Stabilitas Regional
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: Eko S, Selocahyo Basoeki Utomo S
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.