- Home
-
- Luar Negeri
-
- WSJ: Militer AS Gunakan Mo...
WSJ: Militer AS Gunakan Model AI Claude Milik Anthropic dalam Serangan di Venezuela
Minggu, 15 Feb 2026, 13:05 WIBClaude, model AI yang dikembangkan oleh Anthropic, digunakan oleh militer AS selama operasinya untuk menculik Nicolás Maduro dari Venezuela, seperti yang diungkapkan Wall Street Journal (WSJ) pada hari Sabtu (14/2).
Ini merupakan contoh penting bagaimana Departemen Pertahanan AS menggunakan kecerdasan buatan dalam operasinya.
Serangan AS di Venezuela melibatkan pengeboman di seluruh ibu kota, Caracas, dan menewaskan 83 orang, menurut kementerian pertahanan Venezuela yang dikutip Guardian. Ketentuan penggunaan Anthropic melarang penggunaan Claude untuk tujuan kekerasan, pengembangan senjata, atau melakukan pengawasan.
Anthropic adalah pengembang AI pertama yang diketahui digunakan dalam operasi rahasia oleh departemen pertahanan AS. Tidak jelas bagaimana alat yang memiliki kemampuan mulai dari memproses PDF hingga mengendalikan drone otonom tersebut digunakan.
Seorang juru bicara Anthropic menolak berkomentar apakah Claude digunakan dalam operasi tersebut, tetapi ia mengatakan bahwa penggunaan alat AI apa pun harus sesuai dengan kebijakan penggunaannya. Departemen Pertahanan AS tidak berkomentar mengenai klaim tersebut.
WSJ mengutip sumber anonim yang mengatakan Claude digunakan melalui kemitraan Anthropic dengan Palantir Technologies, sebuah kontraktor yang bekerja sama dengan Departemen Pertahanan AS dan lembaga penegak hukum federal. Palantir menolak berkomentar mengenai klaim tersebut.
Militer AS dan militer lainnya semakin banyak menggunakan AI sebagai bagian dari persenjataan mereka. Militer Israel telah menggunakan drone dengan kemampuan otonom di Gaza dan telah banyak menggunakan AI untuk mengisi basis targetnya di Gaza. Militer ASÂ telah menggunakan penargetan AI untuk serangan di Irak dan Suriah dalam beberapa tahun terakhir.
Para kritikus telah memperingatkan terkait penggunaan AI dalam teknologi senjata dan penyebaran sistem senjata otonom, dengan menunjuk pada kesalahan penargetan yang dibuat oleh komputer yang mengatur siapa yang harus dan tidak boleh dibunuh.
Perusahaan-perusahaan AI telah bergulat dengan bagaimana teknologi mereka seharusnya berinteraksi dengan sektor pertahanan. CEO Anthropic, Dario Amodei, menyerukan regulasi untuk mencegah bahaya dari penerapan AI. Amodei juga telah menyatakan kehati-hatiannya atas penggunaan AI dalam operasi mematikan otonom dan pengawasan di AS.
Sikap yang lebih berhati-hati ini tampaknya telah membuat kesal departemen pertahanan AS. Menteri Perang AS, Pete Hegseth, mengatakan pada bulan Januari bahwa departemen tersebut tidak akan "menggunakan model AI yang tidak memungkinkan Anda untuk berperang".
Pentagon mengumumkan pada bulan Januari bahwa mereka akan bekerja sama dengan xAI, yang dimiliki oleh Elon Musk. Departemen pertahanan juga menggunakan versi khusus dari sistem Gemini dan OpenAI milik Google untuk mendukung penelitian.
- Serangan AS ke Venezuela
Redaktur: Lili Lestari
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Ribuan Lowongan Dibuka! Jakarta Job Festival 2025 Siap Banjiri Peluang Kerja untuk Semua
-
Beijing Minta Filipina Hentikan Provokasi di Laut Tiongkok Selatan
-
Hujan Diperkirakan Sapa Jakarta Sore Hingga Malam, Jangan Lupa Bawa Payung!
-
Samsung Galaxy F17 5G dengan Enam Kali Pembaruan OS, Harganya Berapa?
-
Kedubes Thailand di Jakarta Buka Lowongan Sopir Full Time, Gaji Rp8,8 Juta per Bulan
-
Kuliner Jadi Soft Power, Diplomasi Lewat Lidah, Bappenas Yakin Hidangan Nusantara Perkuat Jejak Indonesia di Dunia
-
Kejaksaan Situbondo Sita Aset Pejabat Dinas PUPP Terkait Kasus Korupsi
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.