Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Laut Dangkal Bisa Dikembangkan untuk Pertanian

📅 Minggu, 15 Feb 2026, 12:51 WIB | Oleh:
Laut Dangkal Bisa Dikembangkan untuk Pertanian Doc: ist
Ket. pertanian pantai

BOGOR – Sebagai daerah dengan banyak area air (laut) maka, sangat cocok bila Wakatobi mengembangkan sea farming (pertanian laut dangkal). Institut Pertanian Bogor (IPB) University mengembangkan konsep sea farming berbasis adat di Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, untuk memperkuat ekonomi dan keberlanjutan sumber daya laut masyarakat pesisir.

Kepala Science Techno Park PKSPL IPB University Muhammad Qustam Sahibuddin dalam keterangannya di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu, mengatakan pelibatan masyarakat hukum adat menjadi kunci keberhasilan program karena sejalan dengan prinsip keberlanjutan sosial dan ekologis.

Program tersebut dilaksanakan melalui kolaborasi dengan PT PELNI (Persero) dan Masyarakat Hukum Adat (MHA) Kadie Kapota di Kecamatan Wangi-Wangi Selatan. Implementasi awal ditandai dengan pembangunan satu unit karamba jaring apung (KJA) berisi enam kotak yang dikerjakan masyarakat Desa Kapota pada Kamis (12/2). KJA itu akan dimanfaatkan untuk budidaya ikan kerapu sebagai inti kegiatan sea farming berbasis marikultur.

Pendampingan teknis dilakukan oleh Lembaga Pengembangan Agromaritim dan Akselerasi Innopreneurship (LPA2I) bersama Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan IPB University (PKSPL). “Pelibatan masyarakat hukum adat dalam implementasi konsep sea farming sangat relevan, karena konsep tersebut sejalan dengan semangat membangun masyarakat hukum adat di tengah perubahan yang tidak menentu,” kata Qustam.

Ia menjelaskan sea farming merupakan sistem pemanfaatan ekosistem laut dangkal berbasis budidaya yang bertujuan meningkatkan stok sumber daya ikan sekaligus mendukung konservasi dan wisata bahari. MHA Kadie Kapota meliputi Desa Kapota, Kapota Utara, Kabita, dan Kabita Togo. Komunitas adat tersebut selama ini menjaga kelestarian laut melalui praktik Parimparim, yakni mekanisme buka-tutup kawasan perairan secara periodik untuk mencegah penangkapan berlebihan, khususnya gurita.

IPB menilai kearifan lokal tersebut menjadi fondasi penting dalam integrasi sains modern dan sistem adat dalam pengelolaan sumber daya laut. Program yang diinisiasi akhir 2025 itu bertujuan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, memperkuat kelembagaan adat, mengembangkan mata pencaharian alternatif, serta meningkatkan nilai ekonomi usaha perikanan masyarakat.

Rangkaian kegiatan mencakup pemetaan potensi usaha perikanan berkelanjutan, pemetaan sosial-ekonomi dan kelembagaan, diversifikasi ekonomi melalui budidaya laut, hingga pengembangan sumber daya manusia. IPB berharap pengembangan sea farming berbasis adat di Wakatobi dapat menjadi model pembangunan desa pesisir yang menyejahterakan dan berkelanjutan tanpa menghilangkan identitas budaya masyarakat hukum adat.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Piala Dunia, Tim-tim Favorit Lolos ke Fase Gugur   

Piala Dunia, Tim-tim Favorit Lolos ke Fase Gugur  

23 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.