Candi Sari Cepogo, Jejak Hindu di Tengah Ladang Sayur
Jumat, 13 Feb 2026, 06:51 WIBPAGI di lereng utara Gunung Merapi dan Merbabu sering datang dengan kabut yang turun perlahan. Jalanan di kaki gunung, membelah hamparan ladang sayuran dan kebun warga, menghadirkan lanskap agraris yang tampak tenang dan rutin.
Truk kecil pengangkut hasil panen sesekali melintas, sementara petani mulai bekerja sejak matahari belum sepenuhnya tinggi. Di tengah keseharian yang sederhana itu, berdiri sebuah bangunan batu yang nyaris luput dari perhatian orang luar bernama Candi Sari.
Candi Sari ini bukan Candi Sari yang berada di di Kalasan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta yang bercorak agama Buddha. Namun yang berada di di Desa Gedangan, Kecamatan Cepogo, Boyolali, Jawa Tengah, memiliki corak agama Hindu.
Bangunan dari batu di timur laut lereng Merapi ini memang tidak megah seperti Candi Prambanan atau Candi Sewu yang juga berada di dekat kawasan Gunung Merapi. Ia tidak dikelilingi kompleks wisata luas, tidak pula ramai oleh rombongan pelajar atau turis asing.
Candi Sari adalah sebuah artefak bersahaja nan sunyi yang menghadirkan gema masa lalu di tengah kehidupan desa yang terus bergerak maju. Namun justru dalam kesederhanaannya itulah ia menyimpan daya tarik.
Candi Sari tidak menampilkan kisah visual yang dipahat panjang seperti Borobudur atau Prambanan. Tidak ada panel naratif yang bercerita tentang epos atau kosmologi. Yang tersisa lebih berupa fragmen ornamen sederhana, batu profil, dan elemen simbolik yang memberi gambaran tentang karakter kesenian religius di wilayah pegunungan Mataram Kuno.
Pada bagian kaki candi (batur), beberapa batu masih memperlihatkan profil cetakan sederhana: garis tegas, bidang datar, dan tonjolan molding horizontal. Ornamen seperti ini bukan dekorasi figuratif, melainkan penataan arsitektural yang berfungsi memberi ritme visual pada bangunan sekaligus memperkuat kesan kokoh.
Temuan simbol keagamaan
Salah satu elemen penting yang ditemukan di area situs adalah yoni batu. Secara visual, benda ini bukan relief, tetapi merupakan objek simbolik yang memiliki ornamen bentuk sederhana pada permukaannya. Dalam tradisi arsitektur Hindu, yoni melambangkan prinsip kosmis kesuburan dan pasangan lingga. Keberadaan artefak ini menunjukkan bahwa âornamenâ di Candi Sari tidak hanya berupa ukiran dinding, tetapi juga hadir sebagai simbol ritual yang menjadi pusat ruang pemujaan.
Selain itu ditemukan fragmen arca dan batu pahatan kecil yang mengindikasikan keberadaan dekorasi figuratif pada masa lalu, kemungkinan ditempatkan di relung atau altar.
Menurut para ahli, ketiadaan relief cerita kemungkinan disebabkan beberapa faktor seperti struktur atas bangunan telah hilang sehingga hiasan dinding tidak tersisa, skala bangunan yang lebih kecil dan bersifat lokal, atau fungsi ritual yang menekankan kesederhanaan simbolik dibanding narasi visual. Akibatnya, interpretasi ornamen di situs ini lebih banyak bertumpu pada artefak tersisa dan konteks arsitektur, bukan pada panel pahatan yang utuh.
Candi Sari menjadi salah satu contoh situs cagar budaya kecil di Boyolali yang menunjukkan jejak penyebaran kebudayaan Hindu di pedalaman Jawa Tengah. Secara fisik, bangunan ini berupa struktur batu dengan karakteristik yang mengingatkan pada tradisi arsitektur candi Jawa kuno.
Komposisi candi ini berupa batu andesit, bentuk yang sederhana, serta orientasi religius yang kuat. Walaupun tidak sebesar atau sekompleks candi-candi di pusat peradaban kuno, keberadaannya menunjukkan bahwa aktivitas keagamaan dan budaya pada masa lampau tidak hanya terkonsentrasi di pusat kerajaan, melainkan menjangkau wilayah-wilayah yang kini menjadi desa agraris.
Keterbatasan Catatan
Dokumentasi ilmiah tentang Candi Sari memang tidak selengkap situs terkenal lain. Tidak banyak prasasti atau temuan artefaktual besar yang bisa memberikan tanggal pasti pendiriannya. Namun secara kontekstual, kawasan Boyolali berada dalam lingkup pengaruh kebudayaan Mataram Kuno, yang pada abad ke-8 hingga ke-10 meninggalkan banyak bangunan religius di Jawa Tengah.
Dalam kerangka ini, candi-candi kecil seperti Candi Sari sering dipahami sebagai tempat pemujaan lokal atau mungkin juga bagian dari jaringan spiritual yang lebih luas. Ia mungkin hanya melayani komunitas setempat atau menjadi titik ritual yang berkaitan dengan lanskap sakral di sekitar gunung, unsur yang penting dalam kosmologi masyarakat Jawa kuno.
Ketidaklengkapan data bukan berarti ketidakbermaknaan. Justru di situlah nilai jurnalistiknya: situs ini mengajak publik melihat sejarah sebagai sesuatu yang kadang hadir dalam fragmen serpihan bukti yang menuntut interpretasi hati-hati, bukan narasi tunggal yang pasti.
Kehidupan Desa
Berbeda dengan situs arkeologi yang steril dari aktivitas warga, Candi Sari hidup berdampingan dengan masyarakat setempat. Rumah-rumah berdiri tak jauh darinya. Dari sini suara ayam berkokok dan percakapan tetangga terdengar di sekelilingnya. Anak-anak bermain di dekat area situs, sementara orang tua melewati lokasi itu sebagai bagian dari rute harian menuju ladang.
Hubungan semacam itu memperlihatkan dinamika khas warisan budaya di pedesaan Indonesia: peninggalan masa lalu tidak terpisah dari kehidupan modern, melainkan melebur di dalamnya. Bagi warga, candi bukan sekadar objek sejarah, tetapi bagian dari ruang sosial dan simbol identitas lokal.
Dalam beberapa kesempatan, unsur sakral juga masih melekat. Tradisi lisan setempat memandang situs tersebut sebagai tempat yang harus dihormati. Sikap hormat itu bukan selalu dalam bentuk ritual formal, melainkan dalam cara memperlakukannya: menjaga kebersihan, tidak merusak, dan mengakui keberadaannya sebagai sesuatu yang memiliki nilai lebih dari sekadar batu tua.
Makna Simbolik
Keberadaan Candi Sari tidak bisa dilepaskan dari lanskap alam sekitarnya. Pegunungan MerapiâMerbabu sejak lama dipandang sebagai ruang sakral dalam budaya Jawa, tempat bertemunya unsur kosmologis antara manusia, alam, dan dunia spiritual. Banyak situs kuno dibangun dalam relasi dengan lanskap semacam ini, menegaskan bahwa lokasi bukan dipilih secara acak, melainkan memiliki makna simbolik.
Lanskap Candi Sari menjadi bagian penting dari cerita. Ia memberikan konteks emosional dan visual yang memperkuat kesan bahwa bangunan ini bukan sekadar struktur arsitektural, melainkan elemen dalam narasi ruang yang lebih luasâruang yang mencakup geografi, kepercayaan, dan kehidupan sosial.
Situs kecil seperti Candi Sari menghadapi tantangan yang tidak ringan. Minimnya sorotan publik sering berarti terbatasnya sumber daya untuk penelitian, konservasi, atau pengembangan wisata edukatif. Di sisi lain, popularitas yang rendah juga menjaga situs dari tekanan komersialisasi Âberlebihan. hay
Redaktur: Haryo Brono
Penulis: Haryo Brono
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.