Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Indonesia -AS Siap Teken Perjanjian Tarif

📅 Kamis, 12 Feb 2026, 01:00 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Indonesia -AS Siap Teken Perjanjian Tarif Doc: antara
Ket. Airlangga Hartarto Menko Perekonomian - Kan kita sudah turun dari (tarif) 32 persen ke 19 persen, kemudian ada hal-hal lain yang juga akan kita tunggu sampai semuanya 100 persen selesai.

Indonesia berkomitmen membuka akses pasar bagi produk-produk AS, mengatasi berbagai hambatan non-tarif, dan memperkuat kerja sama komersial lainnya.

Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan penandatanganan Agreement on Reciprocal Tariff (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS) direncanakan berlangsung berbarengan dengan kunjungan Presiden Prabowo Subianto dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Board of Peace (BoP).

“Bapak Presiden rencananya akan menghadiri acara pada tanggal 19 (Februari), dan di sekitar tanggal tersebut juga akan ada rencana penandatanganan ART, Agreement on Reciprocal Tariff,” kata Prabowo di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (11/2).

Seperti dikutip dari Antara, Airlangga menjelaskan, dalam rapat terbatas bersama Presiden, pemerintah membahas perkembangan terbaru perundingan dengan AS. Saat ini Indonesia masih dikenai tarif resiprokal 19 persen, turun dari sebelumnya 32 persen.

“Kan kita sudah turun dari (tarif) 32 persen ke 19 persen, kemudian ada hal-hal lain yang juga akan kita tunggu sampai semuanya 100 persen selesai,” ujarnya.

Sebelumnya, Presiden Prabowo menyatakan kesiapan menandatangani dokumen final kesepakatan tarif resiprokal bersama Presiden AS Donald Trump setelah proses legal drafting rampung. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan negosiasi telah memasuki tahap akhir pengecekan dan penyusunan draf perjanjian yang dilakukan pada 12–19 Januari 2026 di Washington D.C. Ia berharap dokumen final ART dapat diteken kedua kepala negara.

Dalam perjanjian tersebut, Indonesia berkomitmen membuka akses pasar bagi produk AS, mengatasi hambatan non-tarif, serta memperkuat kerja sama perdagangan digital, teknologi, keamanan nasional, dan sektor komersial lainnya. Sebaliknya, AS akan memberikan pengecualian tarif bagi sejumlah produk unggulan Indonesia yang tidak diproduksi di AS, seperti minyak kelapa sawit, kakao, kopi, dan teh.

Dari Washington, Perwakilan Dagang AS (USTR) Jamieson Greer menyebut peluang kesepakatan dengan Indonesia terbuka dalam beberapa pekan ke depan. Saat ditanya negara yang berpotensi segera mencapai kesepakatan baru, ia menjawab, “saya melihat Indonesia sebagai yang berikutnya”.

Ia menambahkan, “Kami hampir setiap hari berdialog dengan pihak Indonesia, dan ini yang membuat kami senang.” Greer berharap Indonesia dengan populasi lebih dari 250 juta jiwa menjadi pasar lebih besar bagi produk AS.

Pernyataan itu muncul di tengah pengumuman Presiden Trump mengenai sejumlah kesepakatan dagang bilateral dan menjelang putusan Mahkamah Agung AS terkait keabsahan tarif resiprokal. Greer menegaskan pemerintahannya “percaya diri” terhadap putusan tersebut. Namun jika tarif dinyatakan inkonstitusional, Trump akan mencari jalur lain. “Mungkin akan perlu waktu lebih lama, tetapi kami ... berfokus untuk memastikan keberlanjutan terkait jenis dan tingkat tarif yang perlu diberlakukan,” ujarnya.

Tren Positif

Sementara itu, Menteri Perdagangan Budi Santoso melaporkan ekspor Indonesia ke AS sepanjang 2025 tumbuh 16,66 persen. “Kalau kita lihat surplus terbesar kita justru ke Amerika, India, Filipina, Belanda, dan Vietnam. Jadi ini yang yang terjadi pada tahun 2025. Surplus (ekspor) kita kalau dulu biasanya yang pertama India, tapi sekarang justru nomor dua India dan nomor satu AS,” katanya.

Nilai ekspor Indonesia ke AS pada 2025 mencapai 30,96 miliar dolar AS, naik dari 26,54 miliar dolar AS pada 2024. “Sangat dipengaruhi tentunya (oleh) diplomasi yang selama ini dilakukan Bapak Presiden… Itu salah satu modal kita sebenarnya, kepercayaan dunia terhadap Indonesia,” ujar Budi.

Ia berharap tren positif tersebut menjadi sinyal baik bagi negosiasi tarif,” katanya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...

KPK Berharap Nusron Wahid Kooperatif

30 menit yang lalu | Ones

Nasional
KPK Berharap Nusron Wahid K...

Capaian realisasi investasi nasional

38 menit yang lalu | Fajar Alim M

Ekonomi
Capaian realisasi investasi...

Dua tahun pemerintahan Prabowo

38 menit yang lalu | Fajar Alim M

Nasional
Dua tahun pemerintahan Prabowo
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.