Hati-hati Terima SMS! Kejahatan Digital Makin Terorganisir, Modus Penipuan Fake BTS Kian Marak

Kamis, 12 Feb 2026, 15:10 WIB

BANDUNG - DPR RI menyoroti maraknya praktik penipuan digital menggunakan Base Transceiver Station (BTS) palsu. Pola kejahatan tersebut sangat merugikan masyarakat.

Anggota Komisi I DPR RI Nurul Arifin mengaku baru mendapatkan penjelasan komprehensif terkait penipuan dengan modus fake BTS yang kian marak saat pertemuan dengan Dirjen Infrastruktur Digital Kementerian Komdigi Wayan Toni Supriyanto di Balai Monitor Spektrum Frekuensi Radio di Kota Bandung, Jawa Barat, Rabu (11/2).

Ket. Foto: Petugas memeriksa barang bukti kasus penipuan bermodus penyebaran sms phising menggunakan "fake BTS" di Jakarta, Senin (24/3/2025). — Sumber: ANTARA

Ia mengatakan, praktik penipuan ini dilakukan oleh para penjahat dengan memanfaatkan celah pada spektrum frekuensi. Bahkan, dalam beberapa kasus yang terungkap, pelakunya merupakan warga negara asing.

“Yang dilakukan banyak sekali oleh warga negara asing. Tadi juga disampaikan sudah pernah menangkap dua orang dan bukan warga Indonesia, tetapi mereka terputus dengan aktor di atasnya,” ungkap Nurul dikutip dari laman DPR RI.

Nurul menjelaskan, modus operandi fake BTS tergolong canggih karena mampu mengganggu jaringan seluler dengan cara menurunkan kualitas sinyal secara paksa.

“Mereka bisa nge-jamming frekuensi dari 4G menjadi turun ke 2G, lalu menyebarkan SMS penipuan. Setelah itu di-upload lagi ke 4G sehingga bisa terkoneksi kembali,” jelasnya.

Ia menambahkan, korban yang lengah dan mengklik tautan dalam pesan singkat tersebut berisiko kehilangan data pribadi yang kemudian dimanfaatkan untuk aksi kejahatan lanjutan.

“Kalau ada orang lengah, klik, lalu masukkan data, datanya bisa tersedot. Ini bisa menyebabkan penipuan secara sistem karena gerak-geriknya sangat profesional,” kata Nurul.

Menurutnya, kondisi ini menunjukkan bahwa kejahatan digital kini telah berkembang dengan pola yang terorganisir dan memanfaatkan teknologi tinggi. Oleh karena itu, diperlukan respons yang tidak kalah canggih dari negara.

“Terlihat sekali ini dilakukan secara profesional. Artinya negara juga harus punya kemampuan yang seimbang untuk melindungi masyarakat,” kata Politisi Fraksi Partai Golkar ini.

Nurul juga mengungkapkan sektor perbankan turut merasakan dampak dari maraknya penipuan berbasis fake BTS tersebut. Bahkan, perbankan disebut meminta dukungan teknologi untuk membantu investigasi.

“Ternyata perbankan juga meminta bantuan untuk menginvestigasi ini, karena mereka sendiri terkendala dengan teknologinya,” ujarnya.

Nurul menekankan pentingnya penguatan perangkat dan peralatan canggih guna mengimbangi kemampuan para pelaku kejahatan siber.

“Tentu ini membutuhkan banyak alat-alat dan peralatan yang canggih untuk menyeimbangkan kemampuan penjahat-penjahat seluler itu,” pungkasnya. 

  • Kejahatan Digital

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: Lili Lestari

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.