Keyakinan Konsumen Naik, Keberlanjutan Bergantung Kebijakan Riil
Rabu, 11 Feb 2026, 00:00 WIBKenaikan keyakinan konsumen Januari 2026 tak boleh berhenti sebagai euforia musiman karena tanpa kebijakan konkret optimisme itu berisiko cepat memudar dan gagal menopang pertumbuhan berkelanjutan.
JAKARTA â Peningkatan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi Indonesia pada Januari 2026 tidak boleh dibaca semata sebagai efek musiman menjelang Ramadan dan Lebaran. Jika optimisme ini hanya ditopang oleh lonjakan konsumsi temporer, maka daya tahannya akan rapuh begitu momentum hari besar usai.
Tantangan sesungguhnya bagi pemerintah adalah mengubah sentimen jangka pendek menjadi kepercayaan struktural melalui kebijakan yang konkret, mulai dari pengendalian inflasi pangan, penciptaan lapangan kerja, hingga percepatan stimulus yang menyentuh sektor riil. Karena itu, menjaga optimisme publik bukan sekadar soal persepsi, melainkan soal konsistensi kebijakan ekonomi yang mampu memastikan daya beli tetap kuat dan pertumbuhan berjalan berkelanjutan.
Dosen Magister Ekonomi Terapan Unika Atma Jaya, YB. Suhartoko menilai kenaikan indeks keyakinan konsumen, kondisi ekonomi, dan ekspektasi konsumen merupakan kabar positif, namun perlu diwaspadai agar tidak bersifat sementara. Ia menjelaskan, penguatan sentimen tersebut dipengaruhi faktor musiman seperti penyesuaian gaji awal tahun serta momentum RamadanâLebaran yang disertai pencairan THR.
âMeski mampu mendorong ekspektasi konsumen, kondisi ini biasanya juga dibarengi kenaikan inflasi, sehingga keberlanjutan optimisme publik tetap bergantung pada stabilitas harga dan kebijakan ekonomi yang konsisten,â jelasnya di Jakarta, Selasa (10/2).
Suhartoko menekankan hal yang terpenting adalah memastikan kenaikan indeks berlangsung berkelanjutan. Untuk menjaga tren tetap positif, lanjutnya, pemerintah perlu mempertahankan kredibilitas dengan menyampaikan informasi yang akurat dan transparan kepada masyarakat.
"Sekali memanipulasi informasi, sulit mengembalikan kepercayaan dan akan menghancurkan kondisi ekonomi," tegasnya.
Peningkatan SDM
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Esther Sri Astutimenilai kenaikan indeks keyakinan konsumen dipicu oleh optimisme awal tahun, momentum ImlekâRamadanâLebaran, serta dimulainya tahun anggaran baru. Namun dia menegaskan optimisme tersebut harus diperkuat dengan kebijakan nyata yang berdampak luas, bukan sekadar retorika.
Menurutnya, peningkatan akses pendidikan menjadi kunci untuk memperbaiki kualitas sumber daya manusia (SDM), membuka peluang kerja berpenghasilan lebih baik, dan mendorong akumulasi modal. Dengan SDM lebih unggul, lanjutnya, teknologi dapat diserap lebih cepat sehingga Indonesia berpeluang keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap).
"Kalau masyarakat pintar maka teknologi pun bisa diserap dengan lebih mudah. Akhirnya Indonesia bisa tumbuh dan keluar dari middle income trap," pungkas dia.
Seperti diketahui, Bank Indonesia (BI) mencatat keyakinan konsumen meningkat pada Januari 2026, tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang naik ke level optimistis 127,0 dari 123,5 pada bulan sebelumnya. Penguatan ini ditopang kenaikan Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (115,1) dan Indeks Ekspektasi Konsumen (138,8), didorong oleh membaiknya persepsi terhadap penghasilan, ketersediaan kerja, serta pembelian barang tahan lama, sekaligus meningkatnya ekspektasi penghasilan dan kegiatan usaha ke depan.
"Pada IKE atau persepsi konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini, BI mencatat bahwa kenaikan berasal dari seluruh komponen pembentuknya,"ucap Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Ramdan Denny Prakoso dalam keterangannya, Senin (9/2).
Di sisi perilaku keuangan, proporsi konsumsi sedikit menurun menjadi 72,3 persen, sementara porsi tabungan meningkat menjadi 16,5 persen dan rasio cicilan relatif stabil. Ini menunjukkan optimisme konsumen mulai menguat, meski masyarakat tetap cenderung berhati-hati dengan memperbesar simpanan.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
Peringatan Cuaca BMKG: 79% Wilayah Kepri Masuki Puncak Musim Hujan, Risiko Bencana Meningkat
-
Belanja Prioritas 2026 Capai Rp2.567 Triliun
-
Kebijakan Tarif Impor Trump Gerus Penghasilan Produsen Otomotif Jepang dan Jerman
-
Pasar Lagi Deg-degan, Investor Asing Pilih Ngumpet di Emas
-
Singapura Siap-Siap 'Penuh', Wisatawan Bakal Geruduk Negeri Singa saat Libur Lebaran
-
Peringatan kenaikan takhta KGPAA Mangkunagara X
-
Berjibaku Selamatkan Barang dari Banjir, Warga Cipulir Tak Sempat Sahur
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.