All England Jadi Fokus BWF World Tour Eropa

Rabu, 11 Feb 2026, 07:26 WIB

JAKARTA - Setelah gagal di Kejuaraan Asia Beregu (BATC), fokus pebulu tangkis Indonesia langsung beralih ke rangkaian BWF World Tour Eropa 2026. Tur ini menjadi agenda penting PBSI dalam menjaga performa pemain sekaligus mengatur strategi perolehan poin ranking dunia di tengah kalender internasional yang padat dan menuntut ketahanan fisik.

Berdasarkan kalender resmi BWF 2026, Tur Eropa akan berlangsung maraton mulai dari German Open (Super 300) pada tanggal 24 Februari–1 Maret. Agenda berlanjut ke All England Open (Super 1000) pada tanggal 3–8 Maret di Birmingham, sebelum ditutup Swiss Open (Super 300) pada tanggal 10–15 Maret.

Ket. Foto: Pebulu tangkis tunggal putra Indonesia Jonatan Christie saat tampil di India Open 2026, di New Delhi, 17 Januari 2026. — Sumber: PP PBSI

Menghadapi jadwal yang rapat, PBSI kembali menerapkan pendekatan manajemen risiko. Tidak semua pemain utama diturunkan di turnamen level lebih rendah. Federasi melakukan seleksi turnamen dengan mempertimbangkan prioritas, terutama bagi pemain elite atau wakil yang sedang berburu poin penting demi mendongkrak posisi di ranking dunia.

Dalam beberapa musim terakhir, pola ini sudah terlihat jelas. PBSI kerap absen atau hanya mengirim skuad minimal ke German Open. Pada edisi 2026, situasinya relatif sama. Nama-nama besar seperti Jonatan Christie, Putri Kusuma Wardani, hingga ganda putra andalan diproyeksikan langsung menuju All England.

Adapun wakil Indonesia yang berangkat lebih awal ke Eropa untuk tampil di German Open 2026 hanya terbatas. Tercatat dua pasangan ganda putri, yakni Amallia Pratiwi/Siti Fadia Silva Ramadhanti serta duet baru Apriyani Rahayu/Lanny Tria Mayasari, yang ambil bagian di turnamen Super 300 tersebut.

Faktor cuaca menjadi salah satu pertimbangan penting. Jerman dan Inggris pada akhir Februari masih berada dalam suhu dingin ekstrem. Bermain terlalu dini di kondisi tersebut dinilai berisiko menguras fisik dan meningkatkan potensi cedera sebelum menghadapi turnamen dengan level dan tekanan lebih tinggi.

All England merupakan turnamen bulu tangkis tertua di dunia dengan level Super 1000. Selain menawarkan poin BWF sangat besar, ajang ini juga memiliki nilai prestise tinggi. Bagi pemain papan atas, datang ke Birmingham dalam kondisi fisik 100 persen dianggap lebih menguntungkan ketimbang memaksakan diri tampil sejak German Open dengan risiko kelelahan.

Setelah All England, wakil Indonesia masih dihadapkan pada Swiss Open. Turnamen Super 300 ini menjadi ladang perburuan poin, khususnya bagi pasangan baru atau pemain yang peringkatnya sempat merosot. Bagi mereka, Swiss Open menjadi kesempatan penting untuk menembus main draw turnamen-turnamen besar berikutnya.

Strategi pilih-pilih turnamen ini memiliki sisi positif. Kebugaran pemain lebih terjaga sehingga performa di All England bisa maksimal. Indonesia pun memiliki rekam jejak kuat di ajang tersebut, seperti gelar Bagas Maulana/Muhammad Shohibul Fikri pada tahun 2022 serta All Indonesian Final pada tahun 2024. Capaian itu lahir dari persiapan yang matang tanpa beban kelelahan berlebih.

Selain itu, risiko cedera akibat jadwal BWF yang padat dapat ditekan. Bermain tiga hingga empat pekan beruntun dengan intensitas tinggi terbukti rawan memicu cedera otot.

Namun, strategi ini juga mengandung konsekuensi. Pemain elite kehilangan “jaring pengaman” poin jika langsung tersingkir di babak awal All England. Situasi ini berbeda dengan beberapa negara seperti Tiongkok atau Korea Selatan yang kerap memanaskan mesin di turnamen kecil, namun tetap mampu melaju jauh di ajang besar. ben/G-1

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.