Penghijauan Tak Hanya Menanam Pohon, Tetapi Juga Menanam Harapan

Selasa, 10 Feb 2026, 23:49 WIB

KUDUS – Gerakan masyarakat untuk giat menanam pohon semakin merasuk ke dalam hati. Gerakan ini memang harus terus didukung oleh berbagai pihak termasuk swasta karena pemerintah tidak dapat melakukan sendiri. “Penghijaun tidak hanya menanam pohon, tetapi menanam harapan, harapan masa depan bagi anak cucu,” tandas Kepala Seksi Wilayah I Perhutanan Sosial Yogyakarta Kementerian Kehutanan, Ayi Firdaus Maturidy.

Dia menandaskan ini dalam kegiatan menanam pohon yang diselenggarakan Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF), di Desa Japan, Kabupaten Kudus, Selasa (10/2). Dia mengajak masyarakat untuk menanam pohon, tetapi Ayi juga mengingatkan, jangan hanya menanam, tapi juga merawat. “Jangan hanya menanam. Ayo merawat bersama tanaman yang kita tanam. Sebab ini menanam harapan bagi anak-anak kita ke depan,” tambah Ayi.

Ket. Foto: Direktur Communication BLDF Mutiara (putih) memimpin penghijauan dengan menanam pohon di Desa Japan, Kudus, Selasa (10/2). — Sumber: aloysius

Dia juga mohon BLDF untuk terus memperluas aksi menanam, tak hanya di Gunung Muria. “Kami berharap kegiatan BLDF dapatdiperluas karena dengan menanam pohon terutama pohon buah juga akan meningkatkan ekonomi warga sekitar,” tandasnya.

20260211001601_sukses.jpg

Warga ambil bagian

Dalam kegiatan di desa Japan ini antara lain ditanam pohon alpukat dan durian. Aksi ini sekaligus untuk penghijauan. Menurut Director Communications Djarum Foundation, Mutiara Diah Asmara, nanti kalau sudah berbuah akan dimanfaatkan para petani. “Jadi, ini nanti dipanen oleh kelompok tani di sini,” tutur Mutiara. Lebih jauh Mutiara menjelaskan bahwa acara di desa Japan ini juga sebagai penutupan untuk program One Action One Tree (OAOT) sepanjang tahun 2025.

Meski begitu, program tidak berhenti di sini dan akan jalan terus. Untuk program tahun 2026 akan dimulai bulan November. Menurutnya, OAOT melekat dalam program Siap Darling (Siap Sadar Lingkungan) yang menggelorakan generasi muda untuk mencintai lingkungan dengan menanam pohon. Sepanjang kegitan OAOT telah terkumpul 63.000 pohon lebih.

“Mari jadikan menanam sebagai kebiasaan hidup. Menanam bisa dilakukan di mana saja: di desa atau di kota,” tutur Mutiara.Lebih jauh Mutiara menyampaikan bahwa OAOT dirancang untuk mempertemukan gaya hidup generasi muda dengan aksi nyata pelestarian lingkungan.

“OAOT berangkat dari keyakinan bahwa aksi sederhana yang dilakukan secara konsisten dan kolektif dapat memberikan dampak berkelanjutan. Melalui OAOT, kami ingin mendorong generasi muda untuk terlibat aktif dalam gerakan lingkungan yang tidak hanya berdampak ekologis, tetapi juga memberi manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat,” ujar Mutiara.

Sementara itu, Program Officer BLDF, Dandy Mahendra, menambahkan bawahini adalah tahun kelima kegiatan tersebut, dan segera memasuki tahun keenam. Menurutnya, pada awal mulai ragu-ragu, apalagi saat itu sedang Covid-19.Namun, ternyata sambutan anak-anak muda diluar dugaan. “Mereka cukup antusias,” tutur Dandy.

20260211002630_dandy.jpg

Program Officer BLDF Dandy (putih) ikut menanam pohon mangga

Kemudian Dandy flashback, dulu lereng Patiayam gundul, lalu ramai-ramai bersama generasi muda ditanami mangga. Selanjutnya, lima tahun kemudian mangga bisa ditanam dan dipanen warga sampai 30 ton. “Dari gundul, kita tanami, rawat, berbuah, dan panen. Dengan demikian, ekonomi warga meningkat juga. Dulu petani harus kita ajak menanam, sekarang petani sekitar lereng Patiayam tidak perlu diajak. Mereka nanam sendiri,” tegas Dandy.

Mutiara menjelaskan, memang perlu pendekatan kepada petani atau warga, pada awalnya. Sebab dulu ditanami jagung, lalu ditanam pohon mangga. “Mereka bertanya, kan pohon mangga lama panen, kami makan apa,” cerita Mutiara. Kemudian, lanjut Mutiara, akhirnya diberi solusi tumpang sari. Ada tanaman keras (mangga) dengan tumpang sari di mana petani tetap bisa menanam jagung. Ini bisa beriringan. “Sebab kalau tidak ada tanaman keras, bisa longsor seperti di Cisarua, Bandung itu,” urai Mutiara.

Dalam kegiatan menanam di Japan ini, BLDF juga menyertakan para mahasiswa Universitas Muria Kudus (UMK). Salah satunya mahasiswi UMK semester 6 Teknik Informatika, Herita. Dia mengaku memang senang menanam-nanam. “Lingkungan yang hijau kan asri, seger,” tuturnya.

20260211002133_salsa2.jpg

melibatkan kampus UMK

Hal serupa diungkapkan lulusan UMK Salsabila. Menurut lulusan jurusan akutansi ini memang sering ikut kegiatan seperti ini. “Dulu di sini saya juga aktif ikut kegiatan di green house, tapi sekarang green house sudah diubah menjadi balai desa,” jelas Salsabila. Baik Herita maupun Salsabila akan terus ambil bagian untuk kegiatan lingkungan. Sebab banyak pohon lingkungan akan makin sejuk.

Sedangkan Kepala Desa Japan, Sigit Tri Harso, mengucapkan terima kasih kepada BLDF. “Saya mewakili warga Japan, sangat berterima kasih kepada BLDF atas kegiatan ini. Saya harap ke depan dapat terus dilakukan BLDF untuk kegiatan menanam pohon. Sebab warga Japan jelas tidak mampu melakukannya sendirian,” harap Sigit. Japan adalah desa terujung yang langsung berbatasan dengan hutan Gunung Muria.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Aloysius Widiyatmaka

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.