Iran Menentang AS dan Lanjutkan Perkaya Uranium
📅 Senin, 09 Feb 2026, 02:40 WIB | Oleh: Deri Henriawan
Doc: AFP/IRAN'S FOREIGN MINISTER
PARIS – Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, pada Minggu (8/2) menepis kemungkinan Teheran menghentikan pengayaan uranium dalam negosiasinya dengan Washington DC, dan menegaskan bahwa Iran tidak akan terintimidasi oleh ancaman perang dengan Amerika Serikat (AS).
Menlu Araghchi mengatakan itu dalam sebuah forum di Teheran dengan menyatakan bahwa Teheran memiliki sedikit kepercayaan pada Washington DC dan bahkan meragukan bahwa pihak AS menanggapi serius negosiasi yang diperbarui.
"Mengapa kita begitu bersikeras untuk memperkaya uranium sendiri dan menolak untuk melepaskannya, bahkan jika perang dipaksakan kepada kita? Karena tidak seorang pun berhak mendikte perilaku kita," kata Araghchi.
"Pengerahan militer mereka di wilayah ini tidak membuat kami takut," imbuh dia, merujuk pada kedatangan kapal induk, USS Abraham Lincoln, di Laut Arab.
Sebelumnya pada Jumat (6/2), AS dan Iran kembali membuka negosiasi untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun di Oman. Iran berupaya agar sanksi ekonomi AS terhadap negara itu dicabut, sebagai imbalan atas apa yang dikatakan Araghchi di forum tersebut sebagai serangkaian langkah membangun kepercayaan terkait program nuklir.
Sebaiknya Anda baca juga:
Negara-negara Barat dan Israel, yang diduga sebagai satu-satunya negara di Timur Tengah yang memiliki senjata nuklir, mengatakan bahwa Iran berupaya memperoleh bom nuklir, yang dibantah oleh republik Islam tersebut.
"Mereka takut akan bom atom kita, sementara kita tidak membuatnya. Bom atom kita adalah kekuatan untuk mengatakan 'tidak' kepada kekuatan-kekuatan besar," tegas Araghchi.
Ancaman Berkelanjutan
Sebaiknya Anda baca juga:
Komentar Araghchi muncul setelah negosiator utama AS, Steve Witkoff dan Jared Kushner, mengunjungi kapal induk pada Sabtu (7/2), yang menandakan ancaman berkelanjutan dari aksi militer AS terhadap Iran
Dalam unggahan di media sosial, Witkoff mengatakan bahwa kapal induk dan kelompok serangannya hadir untuk menjaga mereka tetap aman dan menjunjung tinggi pesan perdamaian melalui kekuatan dari Presiden Donald Trump".
Ancaman perang terus membayangi negosiasi, bahkan ketika Trump menyebut pembicaraan itu berjalan sangat baik dan Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, lewat media sosial menulis bahwa pembicaraan tersebut merupakan sebuah langkah maju.
Menyusul putaran pertama pada Jumat di Oman, Trump menandatangani perintah eksekutif yang menyerukan pemberlakuan tarif pada negara-negara yang masih berbisnis dengan Iran meskipun ada sanksi AS. AS juga mengumumkan sanksi baru terhadap sejumlah entitas dan kapal pengiriman, yang bertujuan untuk mengekang ekspor minyak Iran.
Menanggapi hal itu, pada forum di Teheran pada Minggu, Araghchi mempertanyakan komitmen AS terhadap negosiasi.
"Berlanjutnya sanksi dan aksi militer tertentu menimbulkan keraguan tentang keseriusan dan kesiapan pihak lain untuk melakukan negosiasi yang tulus," kata dia. "Kami akan terus memantau situasi dengan cermat, menilai semua sinyal, dan akan memutuskan kelanjutan negosiasi," pungkas dia. AFP/I-1
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!