Ekspor RI 2026 Hadapi Tantangan Berat
Rabu, 04 Feb 2026, 01:00 WIBCapaian ekspor Indonesia pada 2025 yang tidak sesuai target pemerintah sebesar 294,45 miliar dollar AS, meski tumbuh 6,15 persen menjadi 282,91 miliar dollar AS.
Jakarta â Kinerja ekspor Indonesia pada 2026 diperkirakan menghadapi tantangan yang lebih berat dibandingkan tahun sebelumnya seiring meningkatnya tekanan global dan dinamika kebijakan perdagangan internasional. Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal menilai ruang pertumbuhan ekspor semakin terbatas dan surplus perdagangan berpotensi menyempit.
âPotensi pertumbuhan ekspor di tahun 2026 ini akan lebih menantang dibandingkan dengan 2025. Surplus perdagangan atau net export pada 2026 diperkirakan lebih sempit,â kata Faisal saat dihubungi di Jakarta, Selasa (3/2).
Seperti dikutip dari Antara, menurut Faisal, kebijakan perdagangan Amerika Serikat (AS) berpotensi semakin represif, tidak hanya terhadap negara berkembang seperti Indonesia, tetapi juga terhadap negara-negara sekutu mereka di Eropa dan Australia. Langkah tersebut dinilai dapat memicu negara lain menerapkan kebijakan serupa.
âDi 2026 kalau kita melihat perkembangan dalam satu bulan saja, selama Januari, ini sangat perlu diwaspadai. AS memaksakan kehendaknya bertindak represif kepada Indonesia, Iran, hingga Greenland,â ujarnya.
âIni kemungkinan akan diimplementasikan lebih kuat lagi pada kebijakan perdagangan mereka dengan negara-negara lain,â kata dia menambahkan.
Selain faktor eksternal, Faisal juga menyoroti tantangan domestik berupa potensi inflasi produsen yang dapat mendorong kenaikan biaya produksi, terutama pada pembelian bahan baku. Kondisi tersebut berisiko meningkatkan harga produk, baik untuk pasar domestik maupun ekspor, sehingga menekan daya saing.
Ia juga mengulas kinerja ekspor Indonesia pada 2025 yang belum memenuhi target pemerintah. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor Indonesia sepanjang 2025 mencapai 282,91 miliar dollar AS atau tumbuh 6,15 persen secara tahunan, namun masih berada di bawah target pemerintah sebesar 294,45 miliar dollar AS.
âFaktor eksternal dari perlakuan tarif oleh AS mempengaruhi ekspor kita. Walaupun lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya, tapi tidak mencapai target,â kata Faisal.
Ia menjelaskan, sebelum penerapan tarif resiprokal oleh AS, ekspor Indonesia sempat menunjukkan kinerja yang cukup kuat dan berpotensi tumbuh hingga 7 persen. Namun, tren pelemahan mulai terjadi sejak Agustus 2025, yang diperparah oleh penurunan harga komoditas andalan seperti batu bara.
âEkspor itu sifatnya lintas sektoral. Kekuatan ekspor kita dipengaruhi dari hulu, mulai dari daya saing pembelian bahan baku, tenaga kerja, hingga sinkronisasi kebijakan. Semua itu berujung pada daya saing ekspor,â ujar Faisal.
Indikator Ekonomi
BPS mencatat nilai ekspor nonmigas Indonesia pada 2025 mencapai 269,84 miliar dollar AS atau naik 7,66 persen. Dari sepuluh komoditas dengan nilai ekspor nonmigas terbesar, hampir seluruhnya mengalami peningkatan, kecuali bahan bakar mineral yang turun 19,18 persen. Sementara itu, komoditas dengan kenaikan tertinggi adalah lemak dan minyak hewani atau nabati yang tumbuh 27,94 persen.
Menurut sektor, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan meningkat 14,47 persen, ekspor pertanian, kehutanan, dan perikanan naik 21,01 persen, sedangkan ekspor pertambangan dan lainnya turun 23,00 persen.
Di sisi lain, pemerintah menilai tekanan inflasi bersifat sementara. Kementerian Keuangan menyatakan inflasi diperkirakan kembali normal pada Maret 2026.
âMeskipun sedikit di atas sasaran, tekanan inflasi ini bersifat temporer dan akan mengalami normalisasi pada Maret mendatang,â kata Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kemenkeu Febrio Kacaribu.
Pemerintah, lanjut Febrio, akan terus memperkuat hilirisasi sumber daya alam, meningkatkan daya saing ekspor, serta mendiversifikasi mitra dagang guna menjaga ketahanan ekonomi nasional.
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
Jelang Mudik, Terminal Cicaheum Bandung Matangkan Kesiapan Angkutan Lebaran
-
Lidah Warga Tiongkok Mulai Jatuh Hati pada Makanan Olahan RI
-
Dampak Geopolitik Global, Harga Referensi CPO dan Biji Kakao Kompak Naik di Bulan Mei
-
Bantu Warga, Pemkab Bekasi Distribusikan Ribuan Paket Pangan Subsidi
-
Rangkaian Paskah, Umat Katolik Kaltara visualisasikan Jalan Salib
-
Pasar Latin Nggak Bisa Diabaikan Lagi: Cili Buktiin Dagang RI Naik 12% Pasca CEPA
-
Gunung Marapi Meletus Sabtu Malam, Warga Diminta Waspadai Abu Vulkanik dan Lahar Dingin
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.