Musim Dingin Ekstrem Tekan Ekonomi Global, Dampak Perubahan Iklim Kian Nyata
📅 Selasa, 03 Feb 2026, 02:12 WIB | Oleh: Muchamad Ismail
Doc: AFP/Joseph Prezioso
JAKARTA – Fenomena musim dingin ekstrem di Amerika Serikat (AS) dan Polandia menegaskan dampak perubahan iklim tidak hanya bersifat lingkungan, tetapi juga sistemik terhadap ekonomi dan keselamatan manusia. Gangguan transportasi dan energi di AS berpotensi memperbesar volatilitas harga komoditas serta menambah tekanan inflasi global, sementara tingginya korban jiwa di Polandia menunjukkan lemahnya kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem.
Kondisi ini menegaskan urgensi penguatan ketahanan infrastruktur, sistem energi, dan perlindungan sosial, karena tanpa adaptasi yang memadai, risiko ekonomi dan kemanusiaan akibat krisis iklim akan semakin besar dan berulang.
Di AS, musim dingin yang parah telah mengganggu sistem transportasi dan energi, menyebabkan lebih dari 1.200 penerbangan dibatalkan dan puluhan ribu orang kehilangan aliran listrik di beberapa negara bagian. Menurut laporan Bloomberg, Minggu (1/2), badai tersebut membawa hujan salju yang signifikan di sejumlah negara bagian, dengan beberapa wilayah Carolina Utara mencatat banyak tumpukan salju dengan tinggi sekitar 10-99 cm baik di pedalaman maupun di sepanjang pantai.
“Hujan salju diperkirakan mereda pada Minggu (1/2) siang (waktu setempat) karena kondisi di wilayah tersebut secara bertahap berangsur membaik,” demikian menurut Badan Layanan Cuaca Nasional, seperti dikutip dari Antara, Senin (2/2).
Meskipun sistem cuaca diperkirakan menguat di atas Atlantik, para peramal cuaca mengatakan dampak paling parah akan tetap berada di lepas pantai. Gelombang cuaca musim dingin baru-baru ini telah memberi tekanan pada jaringan listrik AS, khususnya di Carolina.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sebuah perusahaan listrik dan gas alam Amerika di Carolina Utara, Duke Energy, meminta pelanggan untuk membatasi penggunaan listrik selama jam-jam puncak, Senin (2/2), dalam upaya untuk mencegah pemadaman sementara. Laporan Bloomberg juga mencatat pemadaman listrik terus berlanjut di beberapa bagian Selatan, di mana kerusakan akibat es dari badai sebelumnya merobohkan saluran transmisi.
Menurut data pemantauan pemadaman listrik, hampir 178 ribu rumah dan bisnis masih tanpa listrik di beberapa negara bagian. Gangguan perjalanan udara terus berlanjut di seluruh negeri, dengan Bandara Internasional Charlotte Douglas melaporkan jumlah pembatalan penerbangan tertinggi.
Sementara di Polandia, lebih dari 50 orang meninggal dunia sejak awal musim dingin akibat suhu udara yang sangat rendah. “Gelombang embun beku parah kini mencapai puncaknya. Kami menerima kabar duka tentang korban baru. Saat ini kami memiliki informasi mengenai 54 kematian. Kami juga mencatat 36 orang mengalami hipotermia,” ujar kata Wakil Menteri Dalam Negeri dan Administrasi Polandia Wieslaw Szczepanski, seperti dikutip dari Antara, Senin (2/2).
Sebaiknya Anda baca juga:
Dia menjelaskan warga yang tinggal di bangunan terbengkalai kerap menjadi korban cuaca dingin ekstrem tersebut. “Sekali lagi, kami mengimbau semua orang yang tinggal di bangunan terbengkalai untuk berpindah ke tempat dengan suhu yang lebih hangat,” kata wakil menteri itu.
Dia menambahkan, malam yang akan datang diperkirakan menjadi malam terdingin di Polandia sejak awal musim dingin.
Badai Salju
Sebelumnya, jumlah korban tewas akibat badai salju yang terus menerjang AS bertambah menjadi sedikitnya 51 orang, demikian laporan stasiun TV NBC. Associated Press (AP) sebelumnya melaporkan bahwa 42 orang tewas akibat cuaca buruk di AS.
Jutaan warga dari Great Lakes hingga Gulf Coast diperingatkan tentang suhu yang sangat rendah. Sementara itu, komunitas di sepertiga wilayah timur AS telah pulih dari badai musim dingin ekstrem yang menewaskan sedikitnya 51 orang, menurut laporan, Selasa. Situs web Poweroutage menunjukkan jumlah rumah di AS yang mengalami padam listrik akibat badai salju saat ini mencapai sekitar 400.000 rumah, mayoritas berada di wilayah selatan.
Menurut ABC, badai salju yang melanda AS telah berdampak pada lebih dari 200 juta orang. Selain itu, ribuan penerbangan di seluruh wilayah juga telah dibatalkan dan kondisi jalan yang licin di AS menambah jumlah kasus kecelakaan.mad/Ant/AFP/E-10
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!