Pengerukan Kali Serentak untuk Antisipasi Bencana Air

Selasa, 27 Jan 2026, 04:45 WIB

JAKARTA - Pemerintah Provinsi Jakarta mengerahkan alat-alat berat untuk mempercepat pengerukan saluran dan sungai di lima wilayah administrasi secara serentak. Salah satunya, Kali Sepak Kembangan atau Kali Uwungan di Jakarta Barat. Langkah ini menjadi bagian dari operasi siaga air guna menjaga kapasitas tampung saluran menjelang potensi peningkatan curah hujan.

Gubernur Jakarta Pramono Anung Wibowo minta Dinas Sumber Daya Air (SDA) tetap menangani preventif meski saat ini tidak hujan dan air banjir mulai surut. “Saya tetap minta kepada SDA untuk melakukan langkah preventif,” ujar Pramono usai meninjau pengerukan di Kali Sepak Kembangan, Jakarta Barat, Senin.

Ket. Foto: Pengerukan Kali Sepak Kembangan di Segmen 1 dengan target volume sekitar 3.468 meter kubik. Hingga Senin (26/1), realisasi pengerukan baru mencapai sekitar 2.000 meter kubik sepanjang 578 meter. Kegiatan menggunakan tiga excavator amphibious serta 10 dump truck. — Sumber: Koran Jakarta/Paundra

Salah satu penanganan preventif untuk mengatasi banjir di Jakarta adalah dengan rutin mengeruk kali. Pramono meninjau pengerukan Kali Sepak karena merupakan kali sebagai muara utama, selain Kali Pesanggrahan, Kali Mookervart, dan Kali Angke. “Pengerukan harus terus dilakukan di Kali Sepak agar debit air turun.

Pramono menuturkan, preventif perlu dilakukan untuk menghadapi banjir. Sebab Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi Jakarta akan dilanda hujan dengan intensitas tinggi pada hari Selasa (27/1). “Dengan demikian, kami tetap melakukan penggalian. Ada 200 ekskavator di lima wilayah yang dioperasikan. Mudah-mudahan langkah preventif ini bisa mengurangi dampak dari banjir Jakarta,” tandas Pramono.

Dinas Sumber Daya Air Jakarta mencatat sekitar 200 excavator disiagakan untuk pengerukan rutin dan penanganan darurat. Salah satu titik prioritas berada di segmen Kompleks BTN, Jalan Delima 7 hingga Jembatan Jalan Pulau Bira, Kecamatan Kembangan, Jakbar, yang terhubung langsung dengan sistem aliran menuju Cengkareng Drain.

Pengerukan Kali Sepak dilakukan di lebar enam meter dari total lebar sungai sekitar sembilan meter. Jarak aman sejauh 1,5 meter dari sisi tebing diterapkan guna menjaga stabilitas bantaran serta meminimalkan risiko longsor selama proses pengerjaan.

Total volume pengerukan yang ditargetkan mencapai 7.458 meter kubik dengan panjang lintasan 1.243 meter. Kegiatan ini dibagi ke dalam tiga segmen kerja untuk memudahkan pengaturan alat berat, pengangkutan material lumpur, serta pengendalian lalu lintas dump truck di sekitar lokasi.

Pada tahap awal, pengerjaan difokuskan di Segmen 1 sepanjang 578 meter. Hingga akhir pekan lalu, volume pengerukan yang telah terealisasi mencapai 2.035 meter kubik dengan melibatkan tiga unit excavator amphibious dan 10 unit dump truck yang beroperasi secara bergiliran.

Selain pengerukan fisik, Pemprov juga mengintegrasikan operasi ini dengan penguatan sistem drainase dan rumah pompa. Aliran Kali Sepak dipantau secara berkala karena menjadi salah satu jalur utama yang memengaruhi kapasitas Cengkareng Drain sebagai saluran pengendali banjir kawasan Jakarta Barat.

Modifikasi Cuaca

Untuk mengantisipasi hujan deras hari Selasa ini Pramono minta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) tetap melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). “Saya juga sudah perintahkan BPBD untuk melakukan modifikasi cuaca, supaya tidak terjadi hujan deras di Jakarta,” ujar Pramono.

Pemprov akan mendukung modifikasi cuaca untuk menekan potensi hujan ekstrem. Upaya tersebut diharapkan dapat mengurangi beban sistem drainase kota saat intensitas hujan tinggi. Untuk penanganan banjir jangka menengah, Pramono akan menormalisasi Kali Ciliwung, Kali Krukut, dan Kali Cakung Lama. Normalisasi Ciliwung bekerja sama pemerintah pusat, PU. Sedangkan untuk Krukut dan Cakung Lama.

Pramono Anung Wibowo mengungkapkan bahwa sungai-sungai Jakarta rata-rata hanya mampu menampung air hujan hingga sekitar 150 milimeter (mm) per hari. “Persoalannya adalah karena catchment-nya tidak mencukupi. Jadi, walaupun semua kali, nggak ada tambahan sedimen, tetap cuma mampu menampung curah hujan 150 mm per hari,” jelas Pramono.

Menurut Pramono, risiko banjir akan semakin besar apabila curah hujan melampaui kapasitas sungai. Apalagi jika bersamaan dengan kiriman air dari hulu. Contoh, curah hujan Jakarta mencapai 200 mm, tentu banjir. Dia mengingatkan, banyak banjir Jakarta Januari ini merupakan dampak hujan berintensitas tinggi ditambah air dari daerah hulu. 

  • pengerukan kali

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.