Industri Semen Tertekan, Semen Merah Putih Dorong Strategi Green Cement
Sabtu, 24 Jan 2026, 23:25 WIBJAKARTA â PT Cemindo Gemilang Tbk melalui merek Semen Merah Putih menegaskan bahwa agenda keberlanjutan telah menjadi bagian integral dari strategi bisnis perusahaan guna menjaga daya saing di industri material konstruksi, di tengah tekanan pasar, kondisi oversupply, serta meningkatnya tuntutan efisiensi dan regulasi lingkungan.
Di tengah rendahnya utilisasi industri semen nasional, dengan tingkat pemanfaatan kapasitas produksi pada 2025 berada di kisaran 54 persen dan kelebihan kapasitas lebih dari 56 juta ton, Semen Merah Putih mengadopsi pendekatan sistemik dengan memperkuat praktik berkelanjutan sebagai fondasi bisnis ke depan. Strategi tersebut mencakup efisiensi energi, optimalisasi proses produksi dan logistik, serta pengembangan portofolio green cement yang selaras dengan kebutuhan pasar dan arah kebijakan pembangunan nasional.
Commercial & Logistic Director PT Cemindo Gemilang Tbk, Surindro Kalbu Adi, mengatakan keberlanjutan tidak lagi diposisikan sebagai inisiatif tambahan, melainkan sebagai bagian dari cara industri beroperasi saat ini.
âSustainability kami posisikan sebagai bagian dari cara industri bekerja hari ini, bukan sekadar inisiatif tambahan. Di Semen Merah Putih, praktik sustainability dibagi dalam empat pilar: process, product, people, dan planet. Pendekatan ini penting agar strategi keberlanjutan lebih holistik dan terintegrasi dalam mendukung pembangunan nasional tanpa mengorbankan kualitas,â ujarnya dalam konferensi pers Sustainability Business Updates 2026 di Jakarta pada hari Jumat (23/1).
Pendekatan tersebut turut mendorong kinerja perusahaan, dengan pertumbuhan sekitar 4,2 persen di relevant area sepanjang 2025, di tengah perlambatan permintaan industri semen secara nasional. Pada periode 2024â2025, volume penjualan semen domestik tercatat menurun sekitar 1,5 persen, dari sekitar 64,95 juta ton pada 2024 menjadi 63,85 juta ton pada 2025.
Penurunan tersebut terjadi di hampir seluruh wilayah seiring melambatnya proyek infrastruktur dan konstruksi, termasuk perlambatan proyek Ibu Kota Nusantara. Pertumbuhan positif hanya tercatat di wilayah Indonesia bagian timur.
Efisiensi sebagai Fondasi Ketahanan Operasional
Sejalan dengan arah transformasi tersebut, Semen Merah Putih terus memperkuat efisiensi energi sebagai fondasi ketahanan operasional. Perusahaan saat ini mengoperasikan Waste Heat Recovery System (WHRS) dengan total kapasitas 2 x 15 MW di Indonesia dan 13 MW di Vietnam, yang mampu menyuplai sekitar 24 persen kebutuhan energi produksi klinker serta menurunkan emisi sekitar 100 ribu ton COâ per tahun.
Sepanjang 2016â2024, perusahaan berhasil menurunkan intensitas emisi karbon sekitar 21 persen per ton semen melalui efisiensi energi, optimalisasi premix yang menurunkan konsumsi energi hingga 3 kWh per ton klinker, serta pemanfaatan bahan baku alternatif seperti fly ash lokal.
Efisiensi juga diterapkan di sektor logistik melalui penggunaan 17 unit truk listrik di area quarry dan 23 forklift listrik, yang secara agregat berkontribusi menurunkan emisi sekitar 8.500 ton COâ per tahun.
Di luar aspek proses dan produk, Semen Merah Putih juga mengembangkan inovasi lanjutan, seperti MPTree, solusi penyerapan karbon berbasis mikroalga yang saat ini telah diuji melalui prototipe di pabrik Jatiasih dan direncanakan untuk diperluas ke ruang publik serta area transportasi.
Green Cement dan Inovasi Produk sebagai Penggerak Pertumbuhan
Strategi efisiensi tersebut diterjemahkan ke dalam pengembangan produk melalui portofolio green cement, seperti FLEXIPLUS, ECOPRO, Semen Patriot, dan Watershield, yang dirancang dengan jejak karbon lebih rendah serta nilai tambah performa konstruksi.
Saat ini, porsi produk non-OPC dalam portofolio Semen Merah Putih telah mencapai 81 persen, lebih tinggi dibandingkan rata-rata industri yang masih berada di kisaran 71 persen. Seluruh produk telah mengantongi sertifikasi Green Label Indonesia (GBCI), dengan mayoritas berada pada peringkat Platinum.
Produk hydraulic cement, termasuk FLEXIPLUS, mencatat pertumbuhan signifikan sebesar 636,5 persen pada 2025 dan ditargetkan tumbuh sekitar 20,7 persen pada 2026, seiring meningkatnya permintaan terhadap material konstruksi berkelanjutan.
General Manager Sales & Marketing Semen Merah Putih, Oza Guswara, menilai bahwa transisi menuju material konstruksi ramah lingkungan kini telah menjadi kebutuhan industri.
âTransisi menuju material konstruksi yang lebih berkelanjutan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Melalui FLEXIPLUS dan ECOPRO, kami berkomitmen menghadirkan green cement dengan jejak karbon lebih rendah tanpa mengorbankan kualitas dan performa,â ujarnya.
Kolaborasi, Tantangan Pasar, dan Dinamika Permintaan
Dari sisi kebijakan, Kementerian Perindustrian menilai 2026 sebagai fase penting dalam transformasi industri nasional menuju industri hijau yang berdaya saing. Kepala Pusat Industri Hijau Kemenperin, Apit Pria Nugraha, menegaskan bahwa transformasi industri hijau harus memberikan dampak nyata bagi efisiensi sumber daya dan daya saing industri.
âTransformasi industri hijau harus menghasilkan dampak konkret, baik dari sisi efisiensi maupun daya saing. Inovasi yang aplikatif dan relevan menjadi kunci agar industri hijau mampu mendukung pembangunan nasional secara berkelanjutan, tanpa mengorbankan daya saing,â katanya.
Ia menambahkan bahwa industri semen memiliki peran strategis karena berkaitan langsung dengan kualitas pembangunan, efisiensi sumber daya, serta dampak lingkungan jangka panjang.
Kolaborasi antara industri semen dan pemerintah juga dinilai semakin penting, khususnya dalam sektor perumahan. Pemerintah menilai tantangan perumahan nasional tidak hanya terletak pada ketersediaan hunian, tetapi juga pada kualitas bangunan, terutama bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) di kawasan perkotaan.
Kepala Subdirektorat Wilayah I Direktorat Pembangunan Perumahan Perkotaan Kementerian PKP, Adji Krisbandono, menyebut pertumbuhan populasi urban masih menciptakan backlog perumahan yang signifikan di berbagai kota.
âKebutuhan hunian di kawasan perkotaan masih sangat besar, terutama untuk MBR. Urbanisasi yang tinggi membuat backlog perumahan menjadi tantangan nasional yang perlu ditangani secara berkelanjutan,â ujarnya.
Inovasi Hijau dan Momentum 15 Tahun Cemindo Gemilang
Memasuki usia 15 tahun, Cemindo Gemilang juga memperkuat pilar keberlanjutan berbasis manusia (people), baik bagi karyawan dan keluarga, maupun mitra eksternal seperti tukang, kontraktor, toko, dan distributor. Inisiatif tersebut diwujudkan melalui pengembangan Mandor Pintar Institute, kegiatan specifier roadshow, serta program apresiasi bagi komunitas konstruksi.
Oza menegaskan bahwa transformasi industri tidak dapat berjalan sendiri. Menurutnya, keberlanjutan bukan hanya soal teknologi dan efisiensi, tetapi juga membangun ekosistem serta kemitraan jangka panjang.
âMelalui pendekatan ini, kami ingin memastikan transformasi industri yang kami jalankan relevan dan berdampak bagi pembangunan nasional, serta sejalan dengan arah kebijakan pemerintah,â lanjutnya.
- Industri Semen
- emisi karbon
- Green Cement
- Keberlanjutan
- semen merah putih
- Eefisiensi Energi
- Cemindo Gemilang
- Waste Heat Recovery System
- oversupply semen
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Haryo Brono
Berita Terkait:
-
Permintaan Melonjak, Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi Pastikan Stok Pertamax Turbo Makassar Aman
-
Inovasi Pohon Cair MPTree Masuk Tahap Uji Nyata di Pabrik Semen Merah Putih
-
Pemkab Tanah Datar Perkuat Kepemimpinan Desa, 75 Wali Nagari Ikut Retret IPDN
-
Unik, ASN Pemkot Tasikmalaya Naik Kuda ke Kantor untuk Menekan Penggunaan BBM
-
Pemprov Jateng Jemput Warganya di Taman Mini untuk Mudik
-
BGN Setop Sementara 1.256 SPPG di Indonesia Timur Tanpa IPAL dan SLHS
-
Dari Rendang Sampai Kafe Kekinian, Kuliner Padang Sumbang Rp5 Miliar ke PAD
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.