Dorong UMKM Naik Kelas, Forum Regional Bahas Strategi Pertumbuhan Inklusif

Kamis, 04 Jun 2026, 19:43 WIB

JAKARTA — Lebih dari 500 pemimpin bisnis, investor, pembuat kebijakan, akademisi, hingga praktisi ekonomi akar rumput dari berbagai negara berkumpul dalam The 2026 Asia Grassroots Forum yang digelar di Jakarta pada 3-4 Juni 2026. Forum yang diselenggarakan Amartha Financial bersama International Finance Corporation (IFC), Accion, dan Women’s World Banking (WWB) itu mengangkat tema “Enabling Growth, Elevating Financial Health”.

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, meningkatnya kesenjangan sosial, dinamika geopolitik, serta pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI), forum tersebut menjadi wadah untuk membahas bagaimana pertumbuhan ekonomi dapat tetap menciptakan peluang yang lebih merata bagi masyarakat luas.

Ket. Foto: Perwakilan UMKM yang tampil dalam The 2026 Asia Grassroots Forum di Jakarta pada tanggal 3 - 4 Juni 2026. Lebih dari 500 pemimpin bisnis, investor, dan pembuat kebijakan membahas strategi mendorong UMKM naik kelas melalui akses permodalan, teknologi, dan kesehatan finansial dalam Asia Grassroots Forum 2026 di Jakarta. — Sumber: Koran Jakarta - Haryo Brono

Founder dan CEO Amartha Financial, Andi Taufan Garuda Putra, mengatakan masa depan pertumbuhan ekonomi yang inklusif tidak hanya bergantung pada perluasan akses keuangan, tetapi juga pada kemampuan masyarakat akar rumput untuk menjadi lebih produktif, adaptif, dan tangguh secara finansial.

“Kita perlu terus percaya bahwa kewirausahaan dapat menciptakan peluang, inovasi dapat meningkatkan kualitas hidup, dan kolaborasi dapat membantu masyarakat menghadapi perubahan. Masa depan dipersiapkan oleh kita bersama yang memanfaatkan teknologi untuk memperluas kesempatan dan menciptakan dampak yang lebih besar bagi masyarakat,” ujar Taufan dalam forum tersebut di Jakarta pada hari Kamis (4/6).

Forum tahunan tersebut menyoroti pentingnya kesehatan finansial sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Selama beberapa dekade terakhir, akses masyarakat terhadap layanan keuangan terus meningkat. Namun, tantangan berikutnya adalah membantu pelaku usaha mikro dan keluarga berpenghasilan rendah untuk meningkatkan produktivitas, membangun ketahanan ekonomi, serta mencapai tujuan keuangan jangka panjang.

Peran sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjadi perhatian utama dalam diskusi. Di banyak negara Asia, UMKM menyumbang lebih dari 90 persen unit usaha dan menjadi penyerap tenaga kerja terbesar. Meski demikian, banyak pelaku usaha masih menghadapi kendala berupa keterbatasan modal, rendahnya produktivitas, akses pasar yang terbatas, dan kesenjangan kemampuan digital.

Dalam pidato pembukaan, Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, menegaskan pentingnya memastikan pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan secara luas oleh masyarakat.

“Di tengah perubahan global yang semakin cepat, negara-negara di Asia perlu terus mendorong produktivitas, kewirausahaan, dan inovasi. Pertumbuhan ekonomi harus menciptakan kesempatan yang lebih luas bagi masyarakat untuk berkembang, membangun usaha, dan meningkatkan kesejahteraan. Kemajuan yang sesungguhnya adalah ketika pertumbuhan mampu menjangkau lebih banyak orang,” kata SBY.

Forum ini mengusung tiga pilar utama, yakni Capital, Technology, dan Community. Ketiga aspek tersebut dinilai menjadi faktor penting dalam memperkuat kesehatan finansial masyarakat akar rumput sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata.

Country Manager Indonesia IFC, Euan Marshall, menilai akses pembiayaan produktif masih menjadi salah satu faktor utama dalam memperluas peluang ekonomi di kawasan Asia.

Menurutnya, ketika UMKM mendapatkan akses terhadap pembiayaan, sarana pendukung, dan dukungan yang tepat, mereka dapat menjadi penggerak utama penciptaan lapangan kerja, memperkuat ketahanan komunitas, serta meningkatkan kesejahteraan jangka panjang.

Selain modal, pemanfaatan teknologi juga menjadi sorotan utama. Managing Partner Accion Digital Transformation, Njord Andrewes, mengatakan perkembangan AI dan teknologi digital membuka peluang besar bagi usaha kecil untuk meningkatkan produktivitas serta memperluas akses terhadap layanan keuangan.

“AI dan teknologi digital membuka peluang besar yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk membuat usaha kecil menjadi lebih produktif, dengan memperluas akses terhadap layanan keuangan, menurunkan biaya, dan menghadirkan produk yang lebih sesuai dengan kebutuhan mereka,” ujarnya.

Namun, ia mengingatkan bahwa pemanfaatan teknologi harus dilakukan secara bertanggung jawab dengan mengutamakan perlindungan konsumen dan membangun kepercayaan masyarakat.

Aspek komunitas juga menjadi bagian penting dalam upaya memperkuat kesehatan finansial masyarakat. Bagi kelompok akar rumput, khususnya perempuan, kesehatan finansial tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga pada keluarga, usaha, dan lingkungan sosial di sekitarnya.

Sebagai bagian dari komitmen tersebut, Amartha bersama sejumlah mitra meluncurkan Indonesian Coalition for Financial Health (ICFH). Inisiatif lintas sektor ini bertujuan mempercepat riset, inovasi, serta kolaborasi untuk meningkatkan kesehatan finansial masyarakat Indonesia, terutama perempuan, pelaku UMKM, petani kecil, dan komunitas akar rumput.

Selama dua hari penyelenggaraan, para peserta membahas berbagai isu strategis yang diperkirakan akan memengaruhi arah pembangunan ekonomi Asia pada dekade mendatang, mulai dari masa depan kewirausahaan di era AI, mobilisasi modal untuk pertumbuhan inklusif, hingga pengembangan ekosistem yang mendukung lahirnya inovasi.

Menutup forum, Taufan menegaskan bahwa Asia Grassroots Forum dan ICFH diharapkan menjadi wadah kolaborasi yang mampu menghasilkan solusi nyata bagi masyarakat akar rumput.

“Melalui modal yang lebih inklusif, teknologi yang lebih relevan, dan komunitas yang lebih kuat, kita dapat membantu jutaan keluarga dan pelaku UMKM meningkatkan daya saing, memperkuat ketahanan ekonomi, dan meraih hidup yang lebih baik,” katanya.

Dalam rangkaian acara, Taufan juga mengunjungi sejumlah stan mitra binaan Amartha, termasuk usaha kebaya asal Surakarta, Kebaya Mbok Dhe, yang menjadi salah satu contoh pemberdayaan UMKM perempuan melalui akses pembiayaan dan pendampingan usaha.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.