Trump Ancam Singkirkan ExxonMobil dari Venezuela Usai Disebut Tak Layak Investasi

Senin, 12 Jan 2026, 17:15 WIB

JAKARTA - Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan ancaman untuk memblokir ExxonMobil dari rencana investasi di Venezuela. Pernyataan keras itu muncul setelah CEO ExxonMobil, Darren Woods, menyebut Venezuela sebagai negara yang “tidak layak untuk investasi” dalam pertemuan dengan Trump di Gedung Putih pekan lalu.

Dalam pertemuan tersebut, Trump mengajak para petinggi industri minyak Amerika Serikat untuk mengucurkan investasi besar demi menghidupkan kembali sektor energi Venezuela. Ia bahkan mendorong komitmen investasi hingga 100 miliar dolar AS, tak lama setelah pemerintahan Nicolás Maduro digulingkan dalam operasi militer Amerika Serikat.

Ket. Foto: — Sumber: Scientific American

Namun, pernyataan Woods justru meredam optimisme Gedung Putih. Di hadapan Trump dan para eksekutif minyak lainnya, Woods menegaskan bahwa ExxonMobil membutuhkan perubahan besar di Venezuela sebelum mempertimbangkan kembali investasi.

“Kami sudah dua kali mengalami penyitaan aset di sana. Untuk masuk kembali untuk ketiga kalinya, tentu dibutuhkan perubahan yang sangat signifikan,” ujar Woods. Ia menambahkan bahwa perlindungan investasi jangka panjang serta reformasi undang-undang hidrokarbon menjadi syarat mutlak.

Trump bereaksi keras terhadap sikap tersebut. Dalam pernyataannya kepada wartawan, ia mengaku tidak menyukai respons ExxonMobil dan mengisyaratkan akan mengeluarkan perusahaan itu dari rencana investasi di Venezuela.

“Saya tidak suka jawaban Exxon. Saya mungkin akan condong untuk menjaga mereka tetap di luar. Mereka terlalu bermain aman,” kata Trump.

ExxonMobil bersama ConocoPhillips dan Chevron pernah menjadi mitra utama perusahaan minyak negara Venezuela, PDVSA. Namun, nasionalisasi industri minyak pada era Hugo Chávez membuat Exxon dan ConocoPhillips hengkang dan menggugat pemerintah Venezuela melalui arbitrase internasional. Berdasarkan putusan pengadilan, Venezuela kini memiliki kewajiban lebih dari 13 miliar dolar AS kepada ExxonMobil dan ConocoPhillips akibat pengambilalihan aset tersebut.

Sementara itu, CEO ConocoPhillips Ryan Lance menyebut perusahaannya sebagai kreditur non-negara terbesar Venezuela. Ia mendorong restrukturisasi menyeluruh atas utang dan sistem energi Venezuela, termasuk PDVSA. Trump menanggapi dengan menyatakan bahwa kerugian masa lalu tidak akan menjadi fokus utama pemerintahannya.

“Kami akan memulai dari nol. Kami tidak akan melihat apa yang hilang di masa lalu karena itu kesalahan mereka sendiri,” ujar Trump.

Trump juga menegaskan bahwa pemerintah Amerika Serikat akan memegang kendali penuh atas perusahaan mana saja yang diizinkan beroperasi di Venezuela. Ia bahkan menandatangani perintah eksekutif untuk mencegah pengadilan atau kreditur menyita pendapatan penjualan minyak Venezuela yang disimpan di rekening Departemen Keuangan AS.

Situasi ini memperlihatkan ketegangan antara ambisi politik Trump untuk membangun kembali industri minyak Venezuela dan kehati-hatian perusahaan energi besar yang masih trauma dengan risiko hukum dan kebijakan di negara tersebut.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Muhammad Daniel Ramadhan

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.