Sudah tahu apa itu Food Genomics? Berikut Penjelasannya
Jumat, 09 Jan 2026, 23:12 WIBJAKARTA â Gaya hidup sehat kini semakin personal. Salah satu pendekatan yang mulai mendapat perhatian adalah food genomics atau nutrigenomik, sebuah metode nutrisi yang menyesuaikan pola makan berdasarkan profil DNA individu yang dinilai mampu menjawab keterbatasan diet konvensional yang kerap memberikan hasil berbeda pada setiap orang.
Food genomics merupakan terapi nutrisi berbasis genetika, dimana rekomendasi asupan disesuaikan dengan kode genetik masing-masing individu. Perbedaan gen membuat respons tubuh terhadap makanan, mulai dari metabolisme hingga potensi intoleransi, tidak sama pada setiap orang.
âTidak ada satu pola makan yang cocok untuk semua orang. Perbedaan kode genetik mempengaruhi cara tubuh merespons nutrisi, sehingga pendekatan ini bersifat sangat personal,â ujar dr. Davie Muhamad, Sp.GK, Dokter Spesialis Gizi Klinik di Primaya Hospital Bekasi Barat melalui keterangannya pada hari Jumat (9/1).
Secara global, riset nutrigenomik terus berkembang seiring meningkatnya kesadaran terhadap pencegahan penyakit dan gaya hidup sehat tiap individu. Di Indonesia, pemeriksaan food genomics masih terbatas, meski penelitian terkait hubungan gen dan nutrisi sudah cukup banyak.
Tes food genomics dilakukan melalui sampel darah atau air liur dengan waktu analisis sekitar 1â2 minggu. Hasilnya kemudian diinterpretasikan dokter gizi klinik untuk memberikan rekomendasi nutrisi personal, termasuk pengaturan makronutrien, vitamin tertentu seperti vitamin D, lemak esensial omega-3, hingga rekomendasi olahraga.
âSecara teori, hasil nutrigenomik tidak berubah karena genetik seseorang bersifat tetap. Tetapi pada penerapannya tetap perlu mempertimbangkan faktor epigenetik dan lingkungan, seperti pola hidup, stres, dan aktivitas fisik. Karena itulah diet yang berhasil pada satu orang belum tentu efektif pada orang lain,â tambahnya.
Selain itu, panel nutrigenomik juga dapat memberikan gambaran terkait potensi alergi atau intoleransi makanan, sehingga membantu individu menghindari asupan yang berisiko menimbulkan gangguan kesehatan.
dr. Davie menegaskan bahwa food genomics bukan pengganti prinsip dasar hidup sehat. Masyarakat tetap dapat memulai langkah sederhana melalui pola makan teratur, tidak melewatkan waktu makan, serta memastikan komposisi makanan yang lengkap dan seimbang.
Ke depan, food genomics diproyeksikan berkembang sebagai salah satu modalitas penunjang gaya hidup sehat yang lebih presisi, dengan potensi integrasi bersama teknologi AI, big data, dan perangkat wearable.
 âHarapannya, food genomics dapat menjadi alat pendukung dalam menentukan pola makan yang lebih personal, sehingga berkontribusi pada perbaikan tren kesehatan masyarakat Indonesia dalam sepuluh tahun ke depan,â terang dr. Davie.
- Gaya Hidup Sehat
- pencegahan penyakit
- food genomics
- nutrigenomik
- nutrisi berbasis DN
- kesehatan personal
- genetika dan nutrisi
- diet personal
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Haryo Brono
Berita Terkait:
-
Mohamed Salah ke AFCON, Kabar Baik atau Kabar Buruk bagi Liverpool?
-
Gara-gara Kursi Bekas Dua Pompa Banjir Jebol, Wali Kota Surabaya Minta Warga Berhenti Buang Sampah ke Sungai
-
Ketua DPD RI Sultan Bachtiar Najamudin Terima Audiensi AKSI Bahas Percepatan RPP UU Desa dan Koperasi Desa Merah Putih
-
Tak Hanya Perempuan, Laki-laki Juga Berisiko Terkena Kanker Terkait HPV
-
LeBron, Curry, dan Durant Kembali Bersatu di Susunan Pemain NBA All-Star
-
Bantuan sosial Imlek 2026
-
Bappenas Dorong Belanja Negara Lebih Produktif Lewat Danantara dan MBG
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.