• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Apakah Orang Berambut Mera...

Apakah Orang Berambut Merah Akan Punah?

Selasa, 28 Jul 2026, 07:27 WIB

RAMBUT manusia hadir dalam beragam warna, mulai dari hitam, cokelat, pirang, hingga merah. Di antara semua variasi tersebut, rambut merah termasuk yang paling jarang ditemukan. Diperkirakan kurang dari 2 persen populasi dunia memiliki rambut merah alami. Di sejumlah wilayah tertentu, terutama Skotlandia dan Irlandia, proporsinya jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata global.

Kelangkaan tersebut kemudian memunculkan sebuah pertanyaan yang telah berulang kali muncul selama beberapa dekade: apakah orang berambut merah (redhead) suatu hari nanti akan punah?

Ket. Foto: Orang-orang berpose untuk foto selama "Festival Cinta Merah," festival pertama yang didedikasikan untuk orang berambut merah, pada 25 Agustus 2018 di Chateaugiron, dekat Rennes, Prancis barat. — Sumber: JEAN-FRANCOIS MONIER / AFP

Jika melihat jumlahnya yang relatif sedikit, pertanyaan itu mungkin terdengar masuk akal. Namun, para ahli genetika menegaskan tidak ada alasan ilmiah untuk memperkirakan bahwa manusia berambut merah akan benar-benar menghilang dari populasi dunia.

"Kami tidak memiliki bukti bahwa orang berambut merah akan punah," kata Katerina Zorina-Lichtenwalter, peneliti di Institute for Behavioral Genetics Universitas Colorado Boulder, yang mempelajari pewarisan sifat rambut merah.

Menurutnya, varian gen yang berperan dalam menghasilkan rambut merah tidak menyebabkan gangguan reproduksi dan tidak berkaitan dengan penyakit yang secara umum akan mencegah seseorang mencapai usia reproduktif. Dengan kata lain, meskipun rambut merah merupakan ciri yang langka, kelangkaan tersebut tidak berarti bahwa sifat itu sedang menuju kepunahan.

Gagasan bahwa orang berambut merah akan punah sebenarnya bukan fenomena baru. Pertanyaan serupa telah beredar selama puluhan tahun dan sering kali muncul kembali dalam berbagai pemberitaan populer.

Ian Jackson, profesor emeritus di Institute of Genetics and Cancer Universitas Edinburgh, mengatakan kepada Live Science bahwa pertanyaan mengenai kemungkinan kepunahan rambut merah telah lama menjadi bahan perbincangan.

Menariknya, rambut merah bukan satu-satunya warna rambut yang pernah diprediksi akan menghilang. Pada pertengahan abad ke-19, bahkan sempat muncul rumor mengenai kemungkinan kepunahan manusia berambut pirang.

Kesalahan utama dalam anggapan tersebut adalah berasumsi bahwa sifat yang jarang terlihat berarti gen penyebabnya juga hampir hilang. Padahal, dalam genetika, kedua hal tersebut sangat berbeda. Rambut merah merupakan salah satu contoh bagaimana sebuah sifat dapat tetap bertahan selama banyak generasi meskipun hanya dimiliki oleh sebagian kecil populasi. Kuncinya terletak pada cara gen tersebut diwariskan.

Gen Resesif

Warna rambut manusia dipengaruhi oleh kombinasi berbagai gen. Salah satu gen yang memiliki peran penting dalam menentukan variasi warna rambut adalah MC1R (melanocortin 1 receptor). Gen ini terlibat dalam pengaturan jenis melanin yang diproduksi oleh tubuh. Melanin merupakan pigmen yang memberikan warna pada rambut, kulit, dan mata.

Secara sederhana, terdapat dua jenis utama melanin yang relevan dalam pembentukan warna rambut, yakni eumelanin dan feomelanin (pheomelanin). Eumelanin menghasilkan warna yang lebih gelap, seperti cokelat dan hitam, sedangkan feomelanin berkontribusi terhadap warna merah dan kekuningan.

Varian tertentu pada gen MC1R dapat mengubah keseimbangan produksi kedua pigmen tersebut. Pada orang dengan variasi gen tertentu, produksi feomelanin menjadi lebih dominan sehingga rambut tampak merah atau kemerahan.

Namun, salah satu alasan mengapa rambut merah jarang ditemui adalah karena varian genetik yang berkaitan dengannya umumnya bersifat resesif. Artinya, seseorang biasanya perlu menerima varian tertentu dari kedua orang tuanya agar sifat rambut merah muncul secara fenotipe (tampak secara fisik).

Di sinilah kesalahpahaman tentang "kepunahan" rambut merah sering terjadi. Seseorang yang hanya membawa satu salinan varian gen tersebut (carrier) mungkin tidak memiliki rambut merah. Rambutnya bisa saja hitam, cokelat, atau pirang. Namun, orang tersebut tetap membawa varian gen tersebut dan dapat mewariskannya kepada keturunannya.

Dengan demikian, gen yang berkaitan dengan rambut merah dapat bersembunyi di dalam populasi selama beberapa generasi tanpa terlihat secara langsung. Orang berambut hitam, cokelat, atau pirang sekalipun bisa saja menjadi pembawa varian gen yang berhubungan dengan rambut merah. Inilah yang membuat sifat resesif dapat bertahan dalam suatu populasi.

Bagaimana Sifat Langka Bisa Bertahan?

Bayangkan sebuah populasi memiliki sejumlah besar orang yang membawa varian gen tertentu, tetapi hanya sebagian kecil yang benar-benar menunjukkan ciri fisiknya. Selama dua orang pembawa (carrier) bertemu dan memiliki anak, terdapat peluang sebesar 25% bagi anak mereka untuk menerima salinan varian tersebut dari kedua orang tuanya. Jika kombinasi genetiknya tepat, anak tersebut akan lahir dengan rambut merah.

Karena itu, meskipun jumlah orang berambut merah relatif kecil, varian gen yang mendasarinya dapat tetap tersebar di antara orang-orang dengan warna rambut lain. Dalam istilah sederhana, rambut merah bisa jarang terlihat tanpa berarti gen penyebabnya akan menghilang.

Agar sifat rambut merah benar-benar punah, varian gen yang terkait dengannya harus lenyap dari kumpulan gen (gene pool) populasi. Hal itu hanya mungkin terjadi jika varian tersebut secara konsisten membuat para pembawanya memiliki jumlah keturunan yang jauh lebih sedikit dibandingkan orang lain, atau jika faktor evolusi lain secara kuat mengurangi frekuensinya dari generasi ke generasi.

"Satu-satunya alasan sesuatu punah dalam populasi besar adalah karena Anda tidak menghasilkan anak sebanyak orang lain," kata Jonathan Rees, profesor emeritus dermatologi di Universitas Edinburgh, kepada Live Science.

Sampai saat ini, tidak ada bukti kuat bahwa orang berambut merah secara keseluruhan memiliki tingkat reproduksi yang lebih rendah hingga dapat membuat varian gen tersebut menghilang.

Risiko Melanoma

Salah satu alasan mengapa orang berambut merah sering dianggap memiliki kelemahan biologis adalah hubungannya dengan kesehatan kulit. Orang dengan varian tertentu pada MC1R, terutama mereka yang memiliki kulit sangat terang dan mudah terbakar sinar matahari, diketahui memiliki risiko kanker kulit yang lebih tinggi.

Beberapa penelitian memperkirakan risiko tersebut dapat meningkat sekitar dua hingga empat kali lipat dibandingkan kelompok yang tidak membawa varian MC1R rambut merah. Melanoma menjadi perhatian khusus karena merupakan salah satu jenis kanker kulit yang paling ­berbahaya.

Orang berambut merah umumnya menghasilkan lebih sedikit eumelanin pigmen yang memberikan perlindungan alami terhadap radiasi ultraviolet (UV). Sebaliknya, dominasi produksi feomelanin kurang efektif dalam menyerap dan melindungi kulit dari sinar ultraviolet. Akibatnya, kulit mereka lebih rawan mengalami kerusakan DNA akibat paparan sinar matahari.

Namun, risiko melanoma tidak hanya berkaitan dengan seberapa mudah kulit terbakar. Perbedaan komposisi pigmen juga diduga berperan dalam meningkatkan kerentanan terhadap kerusakan sel. Karena itu, hubungan antara rambut merah, varian MC1R, dan kanker kulit menjadi topik penting dalam penelitian dermatologi serta genetika. hay

  • genetika dan nutrisi

Redaktur: Haryo Brono

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.