Serap Jagung Tak Sekadar Panen, Distribusi Jadi Penentu
📅 Kamis, 08 Jan 2026, 00:00 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: antara
JAKARTA – Target serapan jagung oleh Perum Bulog sebesar satu juta ton pada 2026 menuntut pembenahan serius pada rantai logistik jagung guna menekan risiko persoalan kualitas dan ketepatan waktu. Karenanya, penguatan logistik menjadi kunci agar target serapan benar-benar berdampak pada stabilisasi harga, kepastian pasar bagi petani, dan ketahanan pangan nasional.
Akademisi Fakultas Pertanian, Sains dan Teknologi Universitas Warmadewa (Unwar), Denpasar, Bali, Dr. I Nengah Muliarta menuturkan, penyerapan jagung satu juta ton dianggap sebagai terobosan baru bagi kemandirian pakan ternak nasional. Target 1 juta ton jagung menjadi langkah krusial untuk kemandirian pakan.
Selama ini, jagung menyumbang sekitar 50 persen biaya produksi pakan ternak. "Dengan memiliki cadangan nasional, pemerintah bisa mengintervensi harga pakan saat terjadi kelangkaan, sehingga harga protein (ayam/ telur) di masyarakat tetap stabil," ucap Muliarta kepada Koran Jakarta, Rabu (7/1).
Lebih jauh, Muliarta melihat target serapan jagung ini merupakan penanda kembalinya peran negara secara dominan dalam stabilisasi pangan nasional melalui instrumen cadangan stok.
Muliarta menekankan lonjakan harga pakan di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat akibat bencana mencerminkan kerentanan struktural rantai pasok pangan nasional, di mana ketersediaan stok menjadi tidak berarti saat distribusi terputus. Dia menilai stabilisasi harga pakan tidak akan efektif tanpa sistem logistik tangguh dan mekanisme tanggap darurat yang kuat.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Kita tidak bisa hanya fokus pada stabilisasi biaya produksi, tetapi harus juga mengatasi biaya transaksi (transaction costs) yang melonjak akibat gangguan infrastruktur logistik," ucap Muliarta.
Untuk itu, lanjutnya, pemerintah perlu beralih ke strategi jangka panjang melalui pembangunan infrastruktur tahan bencana, penyediaan jalur logistik alternatif, pemanfaatan aset negara dalam kondisi krisis, serta pengelolaan stok dinamis berbasis risiko bencana.
"Singkatnya, percepatan distribusi hanyalah alat respons, tetapi penguatan rantai pasok yang resilien adalah solusi fundamental. Ujian ketahanan pangan di Sumatera adalah panggilan untuk membangun sistem logistik yang setangguh dan sefleksibel keragaman pangan yang kita miliki," pungkas Muliarta.
Sebaiknya Anda baca juga:
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan pihaknya menargetkan penyerapan sebanyak empat juta ton setara beras dan satu juta ton jagung petani sepanjang 2026 sebagai bagian dari rencana strategis penguatan ketahanan pangan nasional.
Target penyerapan tersebut ditetapkan berdasarkan hasil rapat koordinasi terbatas di Kementerian Koordinator Bidang Pangan sebagai langkah menjaga stok nasional sekaligus memastikan hasil panen petani terserap optimal.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!