Pemerintah Antisipasi Bencana Susulan
Rabu, 31 Des 2025, 03:03 WIBJAKARTA - Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menegaskan bahwa pemerintah telah menyiapkan langkah antisipasi dalam mitigasi untuk menghadapi bencana susulan di wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat akibat cuaca ekstrem.
Prasetyo menyebut telah berkoordinasi dengan Kementerian Kehutanan (Kemenhut) untuk mempercepat proses pembersihan kayu-kayu yang berada di aliran sungai agar tidak ada sumbatan. âKami meminta kepada Kemenhut untuk mempercepat proses pembersihan di aliran-aliran sungai supaya nanti tidak ada sumbatan dari kayu-kayu yang kemarin seperti bencana yang pertama,â kata Prasetyo di Jakarta, kemarin.
Mensesneg menyampaikan pemerintah telah meminta agar secepatnya dilakukan pemetaan pada wilayah-wilayah yang memiliki kecuraman atau kelerengan yang sangat ekstrem, terutama pada daerah yang jenis tanahnya lumpur atau lembek.
Pemetaan terhadap wilayah-wilayah tersebut penting dilakukan mengingat antar daerah memiliki jenis tanah yang berbeda.
Menurutnya, dengan mengetahui jenis tanah tertentu maka akan lebih mudah untuk melakukan antisipasi, guna menghindari bencana susulan. âJenis yang longsor-longsor itu berada di tingkat yang kelerengannya cukup tinggi, dan pastilah jenis yang tanahnya, termasuk yang jenis tanah lumpur atau lembek, bukan tanah yang sifatnya kuat atau kasar,â paparnya.
Lebih lanjut, pemerintah juga bekerja sama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) untuk memadupadankan hasil evaluasi dari BMKG terhadap wilayah-wilayah yang diprediksi mengalami peningkatan curah hujan.
Selain itu, edukasi kepada masyarakat terhadap respons cepat bila terjadi bencana perlu lebih digencarkan. âKami meminta dilakukan proses edukasi dan pemberitahuan kepada masyarakat di wilayah yang diprediksi akan mengalami peningkatan curah hujan. Itu beberapa mitigasi yang kita lakukan,â pungkas Prasetyo.
Sumatera dan Aceh
Pakar klimatologi dan perubahan iklim Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) ProfDr.Erma Yulihastin mengingatkan pentingnya aksi mitigasi di wilayah Sumatera mengingat terdapat potensi kenaikan kejadian angin dan hujan ekstrem.
Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN Prof. Dr. Erma Yulihastin, Selasa (30/12), mengatakan bahwa pihaknya melihat berdasarkan parameter angin dan hujan ekstrem sebagai indikasi cuaca ekstrem yang merupakan bagian dari krisis iklim akan berdampak signifikan di wilayah Sumatera.
âKita lihat bahwa ternyata peringkat yang menduduki urutan pertama bahwa perubahan iklim ini akan sangat mengancam Sumatera, dalam konteks angin ekstremnya itu akan meningkat signifikan sampai 2040, itu selama Desember, Januari, Februari. Itu ternyata juaranya adalah Sumatera, nomor 1 adalah Sumatera, kemudian pulau yang kedua itu adalah Kalimantan baru yang ketiga Jawa,â jelasnya.
âSumatera ini memang harus menjadi prioritas kita, high priority of the mitigation for the extreme weather,â tambahnya.
Proyeksi itu dilakukan berdasarkan data historis yang terjadi sampai saat ini untuk wilayah tersebut. Potensi hujan ekstrem juga dapat terjadi di wilayah Sumatera dalam beberapa waktu ke depan di periode musim hujan yang secara tradisional berlangsung pada Desember, Januari dan Februari.
Adapun Posko Tanggap Darurat Bencana Banjir dan Longsor Aceh mengimbau masyarakat untuk mewaspadai adanya potensi hujan sedang hingga lebat yang berpotensi mengguyur sejumlah wilayah di Aceh hingga dua hari ke depan.
Juru Bicara Posko Penanganan Banjir dan Longsor Aceh, Murthalamuddin, di Banda Aceh, mengatakan, berdasarkan prakiraan cuaca dari BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I SIM Banda Aceh, hujan sedang hingga lebat dan dapat disertai angin kencang masih berpotensi terjadi di Aceh mulai 29 sampai 31 Desember 2025.
âKondisi ini meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan angin kencang. Maka, kita harapkan masyarakat untuk terus waspada,â kata Murthalamuddin.
Gubernur Aceh Muzakir Manaf berharap pembangunan hunian sementara dan hunian tetap bagi korban bencana banjir dan longsor di provinsi itu dapat dipercepat. âYang paling mendesak saat ini adalah pembangunan hunian sementara dan hunian tetap agar masyarakat yang mengungsi karena rumah rusak dan hilang mendapatkan tempat tinggal yang layak,â kata Muzakir Manaf di Banda Aceh, ÂSelasa. Ant/S-2
Redaktur: Sriyono
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Pemerintah Kebut Pemulihan Daerah Bencana
-
Pemerintah Fokuskan Penanganan Bencana di Sumbar dengan Pembangunan Hunian Sementara
-
Polri Tambah 1.500 Personel Perkuat Penanganan Bencana Sumatra
-
Penanganan Banjir dan Longsor di Sejumlah Kecamatan di Jember
-
Meningkatkan Kompetensi SDM Tim SAR untuk Penanganan Bencana
-
Korban Meninggal Tembus 708 Jiwa, 499 Hilang
-
TNI Kerahkan 30.864 Personel di Aceh
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.